Koordinator REWAKO: Kemenangan Kotak Kosong Adalah Kemenangan Rakyat atas Elit Yang Memaksakan Kehendaknya

Pilkada kota Makassar tahun 2018 membawa hasil menakjubkan: Kotak Kosong unggul atas calon tunggal, Munafri Arifuddin-Andi Rahmatika Dewi (Appi-Cicu).

Padahal, calon tunggal disokong oleh 10 partai politik: Gokar, Nasdem, PDIP, PPP, PBB, Gerindra, PKS, Hanura, PAN, dan PKB. Selain itu, Munafri Arifuddin adalah kerabat dekat dari Wakil Presiden Yusuf Kalla dan pengusaha ternama Aksa Mahmud.

Karena itu, tidak salah kalau ada yang menyebut kemenangan Kotak Kosong atas Appi-Cicu sebagai kemenangan Rakyat Makassar atas kekuatan politik yang disokong oleh partai besar, dinasti politik dan oligarki.

Apa yang mendasari Rakyat Makassar memenangkan Kotak Kosong? Sejauh mana andil gerakan akar rumput dalam memenangkan Kotak Kosong? Berikut ini petikan wawancara Mahesa Danu dari berdikarionline.com dengan Koordinator Relawan Kotak Kosong (REWAKO), Anshar Manrulu.

Untuk diketahui, Anshar dan REWAKO aktif menggalang gerakan dan kampanye untuk memenangkan Kotak Kosong. Mereka membentuk Relawan dan Posko-Posko di berbagai tempat. Berikut petikan wawancaranya:

Pilkada kota Makassar 2018 menciptakan gempa politik luar biasa, yaitu kemenangan kotak kosong. Bagaimana pendapat, Bung?

Ini karena ada kekuatan besar yang bermain, yang terus memaksakan kehendak politiknya pada rakyat Makassar.  Gejala itu sdh terlihat sejak proses awal Pilwali. Mulai dari aksi borong partai,  sampai memotong peluang calon lain agar cuma ada calon tunggal. Ini yang membuat rakyat marah dan kecewa: ada kekuatan yg mempertontonkan kekuasaannya didepan rakyat, kemudian dilawan dengan jalan mendukung dan memenangkan kolom kosong. Jadi, ini adalah kemenangan Rakyat atas kekuatan besar yang hendak menghalalkan segala cara untuk berkuasa.

Sebelum Pilkada digelar, anda menginisiasi gerakan untuk memenangkan Kotak Kosong lewat Relawan Kotak Kosong (REWAKO). Apa pertimbangan Bung mengisiasi gerakan itu?

Kami ini dari berbagai organisasi rakyat selama ini aktif berinteraksi dgn masyarakat Makassar. Melakukan advokasi dan memberikan edukasi.  Kami bisa lihat, dengar dan rasakan kekecawaan rakyat pada drama politik Pilwali Makassar 2018 ini. Kami bisa rasakan kemarahan mereka. Ini yang menurutku harus segera diwadahi,  perlawanan rakyat harus terarah, makanya kami inisiasi membentuk RELAWAN KOLOM KOSONG (REWAKO) itu.  Apalagi sangat banyak informasi menyesatkan tentang Kotak Kosong, yang sengaja di hembuskan tengah-tengah rakyat,  itu yang pertama-pertama yang harus kami patahkan,  kami klarifikasi: bahwa Kotak Kosong adalah juga pilihan politik yang sama nilainya dengan memilih orang/kandidat. Jadi ini adalah bentuk perlawanan rakyat pada kekuatan oligarki di lapangan elektoral.

Relawan REWAKO melakukan kampanye untuk memilih Kotak Kosong. (Foto: Jawa Pos)

Seperti apa respon masyarakat pemilih di Makassar terhadap gerakan tersebut?

Sejak awal responnya sangat bagus,  gerakan kami disambut sangat antusias. Warga Makassar dari berbagai tempat secara sukarela meminta  spanduk untuk ikut mendirikan Posko-Posko kotak kosong di wilayahnya masing-masing. Bahkan ada yang datang dari Pulau-Pulau untuk meminta spanduk dan selebaran kepada saya. Mereka memperbanyak sendiri selebaran kotak kosong untuk didistribusikan di wilayahnya. Mereka sangat semangat memenangkan kotak kosong.

Menurut Bung, apa yang menjadi pertimbangan utama rakyat Makassar memenangkan kotak kosong?

Ini  perlawanan rakyat pada segelintir  elit yang  coba memaksakan kehendak pada rakyat. Mereka menganggap tidak ada harapan akan situasi yang lebih baik pada calon tunggal yang ada, karena di asosiasikan hanya mewakili kepentingan elit dan kelompok bisnis tertentu.  Itu jadi pembicaraan dilorong-lorong,  di tengah-tengah rakyat.

Menurut Bung, pelajaran apa yang bisa diambil dari kemenangan kotak kosong di Pilkada Makassar untuk kemajuan demokrasi di Indonesia?

Ada loncatan kesadaran rakyat:  mereka tidak lagi mudah dipaksa-paksa, diarahkan seenaknya. Partai-partai dan elitnya yang  bermain-main,  mengabaikan aspirasi rakyat, bahkan memunggungi suara konstituennya sendiri,  akan ditinggal dan tidak didengarkan rakyat. Dan rakyat jadi semakin percaya,  mereka punya kekuatan dan kemampuan untuk itu. Bahwa perlawanan rakyat yang terorganisir bisa menumbangkan kekuatan politik yang didukung oleh elit, politik kekerabatan, uang dan oligarki di lapangan elektoral. []

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut