Kontroversi Rokok dan Keselamatan Industri Nasional

Penggunaan tembakau atau rokok seperti perdebatan tak berujung antara yang pro dan kontra. Dan kontroversi ini memasuki babak baru dengan akan dibahasnya Undang-Undang Pembatasan Tembakau yang sedang coba digolkan oleh pemerintah bersama DPR tahun ini. Sebelumnya, terlepas belum efektif berjalan di lapangan, sebuah peraturan daerah (perda) anti-rokok telah dikeluarkan oleh pemerintahan daerah DKI Jakarta sejak bulan April 2010. Sementara kampanye anti-rokok dilakukan secara besar-besaran di berbagai daerah, yang selain didukung oleh pemerintah juga, terutama, didukung oleh sejumlah organisasi donor asing.

Di samping perdebatan klasik tentang dampak rokok terhadap kesehatan manusia, terdapat hal-hal lain yang sangat relevan sehingga perlu kita jawab bersama. Merokok sebagai pilihan azasi manusia memang terbataskan oleh pilihan orang/manusia lain yang tidak merokok, dan terutama terbataskan oleh keberadaan anak-anak yang belum dapat menentukan pilihan terbaik bagi dirinya sendiri. Namun rokok sebagai komoditas ekonomi dan warisan budaya Nusantara (khususnya rokok kretek) mempunyai arti penting tersendiri; baik bagi para petani tembakau, buruh pabrik rokok, pedagang dan pengecer, maupun para ‘penggemarnya’.

Dengan kata lain, secara ekonomi, rokok merupakan sandaran bagi jutaan orang yang bekerja dan memperoleh penghasilan dari industrinya, yang diperkirakan melibatkan sekitar 6 juta tenaga kerja. Bahkan pemerintah pusat menerima pemasukan puluhan triliun rupiah dari cukai rokok setiap tahunnya yang kemudian dipakai untuk berbagai jenis belanja sosial. Terlepas kemungkinan ada manipulasi dan korupsi terhadapnya, bukti jumlah setoran kepada pemerintah dari pembelian setiap batang rokok dapat kita temukan pada stiker cukai yang tertempel pada setiap bungkus rokok.

Sementara di belakang kontroversi tersebut terdapat situasi ekonomi politik internasional yang terus mengalami krisis dan perang dagang (pasar/persaingan bebas) antar negara. Tak terkecuali di Indonesia, dan terhadap komoditas tembakau dan rokok yang saling bersaing memperebutkan pasar dengan komoditas dari industri farmasi/obat-obatan. Komoditas rokok/tembakau di Indonesia berupaya mempertahankan produksinya karena produksi ini merupakan dasar bagi keberadaan (kehidupan) para pelaksananya. Sementara komoditas lain dari negara lain berupaya merangsek masuk ke negeri ini dalam bentuk modal/kapital, untuk menghancurkan atau merebut sumber daya dalam negeri yang ada. Terhadap industri rokok, kasus perebutan oleh modal asing bisa dilihat pada PT. Sampoerna yang dibeli oleh Philip Morris, pemegang lisensi rokok Marlboro asal Amerika Serikat (AS).

Dalam pemerintahan neoliberal yang terus memproduksi kehancuran berbagai industri, jenis industri rokok merupakan satu-satunya industri yang bertahan dari hulu sampai hilir tanpa bergantung pada bahan baku impor. Kita memahami bahwa dalam rantai hubungan sosial tersebut terjadi ketidakadilan distribusi ekonomi antara petani tembakau, tengkulak (dengan tingkatan-tingkatannya), pengusaha atau pemilik pabrik rokok, buruh pabrik rokok dan industri terkait seperti kertas, percetakan, lem atau perekat, industri periklanan (advertising), hotel, kafe, warung/restoran, dan lain-lain. Namun ketidakadilan produksi dan distribusi ekonomi ini sedang berhadapan dengan upaya pihak imperialis asing untuk menguasai salah satu industri penting  tersebut. Tanpa bermaksud mendramatisasi keadaan, sudah sewajarnya bila kita berdiri di pihak kepentingan nasional sebagai satu kesatuan, dari petani, pengusaha, buruh, pedagang, sampai konsumen, atau bahkan yang tidak terlibat sebagai salah satu diantaranya tapi ‘semata-mata’ ingin bersikap secara politik. Sementara, untuk menciptakan ‘keselarasan’ di antara semua unsur di atas, tiap-tiap kontradiksi di dalam negeri harus diselesaikan secara adil, terutama bagi petani, buruh, dan pedagang kecil, disamping, bagi anak-anak yang harus diberi keistimewaan untuk bebas dari asap rokok sampai pada usianya dapat membuat pilihan sendiri.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut