Koesalah Soebagyo Toer: Karya Tulis Harus Dianggap Sebagai Prestasi dan Dihargai

Baru-baru ini penerbit Jaker menerbitkan novel karya Mas Marco Kartodikromo, Mata Gelap. Menuju diskusi dan bedah buku Mata Gelap itu Berdikari Online telah mewancarai Koesalah Soebagyo Toer.

Koesalah adalah pengarang dan penerjemah Indonesia yang sangat produktif. Dia telah menerjemahkan buku-buku karya sastrawan Rusia macam Anton Chekov (Pengakuan), Nikolai Gogol (Jiwa Jiwa Mati), Leo Tolstoy (Anna Karenina serta Perang dan Damai), Aleksandr Pushkin (Putri Kapten). Juga karya-karya dalam bahasa Inggris dan Belanda, antara lain: Musashi (Eiji Yoshikawa), Perdagangan Awal Indonesia (O.W. Wolters), Menjinakkan Sang Kuli (Jan Breman), semua itu menjadi sumbangan terbesar bagi kekayaan sastra dunia. 

Bersama Pramoedya Ananta Toer serta Ediati Kamil menyusun buku Kronik Revolusi Indonesia, menyunting Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel karya Mas Marco Kartodikromo dan tak lama lagi akan sampai pada kita dua buku yang juga disuntingnya dengan penuh ketekunan yaitu novel Mata Gelap (karya Mas Marco Kartodikromo) serta Kronik Abad Demokrasi Terpimpin; Dari Manifes Politik sampai naiknya Soeharto (5 Juli 1959 – 11 Maret 1967). Keduanya diterbitkan oleh Penerbit Jaker. 

Meskipun Bung yang satu ini tidak muda lagi, fisiknya digerus oleh usia yang menua, serta pernah menjadi tahanan politik rezim Orde Baru pada tahun 1968-1978, tak dinyana bila gerakannya masih tangkas, ingatannya masih tajam, gesit berjalan dan antusias saat Sukir Anggraeni dari Berdikari Online datang mewancarainya. Berikut petikan wawancaranya:

Komentar Bung atas naskah Mata Gelap yang diterbitkaan ulang oleh Penerbit Jaker setelah kurun waktu 100 tahun lalu?

Tidak menjadi soal, 100 tahun atau 200 tahun sesudah diterbitkan pertama kali, kalau soalnya adalah karya tulis. Karya tulis harus dianggap sebagai prestasi, dan sebagai prestasi dia harus dihargai kapanpun.

Mata Gelap

Harapan dan tanggapan Bung di diskusi dan bedah buku Mata Gelap nanti?

Saya harap pembaca mengenal juga Mata Gelap, walau dia sampai kepada kita dalam keadaan tidak sempurna. Perlu diketahui bahwa karya ini seharusnya terdiri atas empat bagian. Yang sampai pada kita hanya tiga bagian (satu sampai tiga), dan di PDS HB Jassin dan Perpustakaan Nasional yang menjadi sumber naskah ini hanya ada bagian dua dan tiga.

Bisa ceriterakan ulang soal naskah Mata Gelap ini sampai ditangan Bung?

Abang saya almarhum, Pramoedya Ananta Toer, minta saya mengedit buku harian Mas Marco, Pergaulan Orang Buangan di Boven Digul. Untuk menulis pengantar bagi naskah itu, saya datangi PDS HB Jassin dan Perpustakaan Nasional yang ternyata keduanya hanya menyimpan dua naskah tersebut. Pergaulan Orang Buangan di Boven Digul diterbitkan oleh KPG dan Mata Gelap sekarang oleh Penerbit Jaker.

Menurut Bung, titik berat apa yang harus ditekankan dengan terbirnya Mata Gelap ini? Apakah karya Mas Marco ini hanya sekedar melengkapi khasanah sastra nasional, atau ada perjuangan lain?

Titik beratnya tetap saja: mengenal Mas Marco dan karyanya bagaimanapun keadaanya. Perlu diketahui bahwa waktu Mata Gelap diciptakan (1914), pemerintah jajahan sedang gencar mempropagandakan bahasa Melayu Tinggi dengan kendaraan Commissie voor de Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) dengan ejaan Van Ophuijsen. Sedang Mas Marco menulis dengan bahasa Melayu Rendah.

Bung masih mengikuti situasi politik? Apa komentar Bung atas politik hari ini?

Jokowi menempuh jalan baru dalam kebijakannya, dan itu memang sewajarnya. Antara lain ia mengutamakan pembangunan infrastruktur yang berorientasi “Indonesia Sentris” dan tidak lagi “Jawa Sentris”. Dalam banyak hal dia mendapat dukungan dan keberhasilan. Satu hal tidak boleh dia lupa, yaitu menyelesaikan soal pelanggaran HAM berat 1965, karena soal ini merupakan biang segala biang pelanggaran HAM yang lain. Jaksa Agung tidak mendukungnya. Wakil Presiden dan Menteri Polhukam apa lagi, namun Jokowi tidak boleh lupa akan hal yang satu ini, kalau tidak semua keberhasilan yang lain akan sia-sia. ()

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut