Ulasan Pementasan Legenda Rakyat Datu Museng dan Maipa Deapati

Anda pernah mendengar kisah Romeo dan Juliet? Itu adalah kisah percintaan yang dikarang oleh sastrawan besar Inggris, William Shakespeare. Kisah itu telah menyebar berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, dan dituturkan banyak orang.

Akan tetapi, siapa sangka, kisah percintaan nan romantik sekelas Romeo dan Juliet juga pernah ada di Indonesia. Di Makassar, Sulawesi Selatan, kisah percintaan semacam itu juga pernah direkam dalam karya sastra setempat. Itulah kisah  Datu Museng dan Maipa Deapati.

Pementasan

Kisah percintaan Datu Museng dan Maipa Deapati (DMMD) ini sangat populer di kalangan rakyat Makassar. Akhir Februari 2012 ini, tepatnya tanggal 25-29 Februari, cerita rakyat ini dipentaskan di Studio Theatre Trans Studio Makassar.

Kisah ini dipentakan oleh Dewan Kesenian Makassar. Drs. Fahmi Syarif, M.Hum, sang penulis cerita, bertindak sebagai sutradara pementasan ini. Fahmi sendiri sudah dikenal sebagai penulis dan sutradara handal di Sulsel.

Drama empat babak ini diawali dengan setting Kerajaan Sumbawa. Raja Sumbawa punya putri cantik bernama Maipa Deapati. Datu Museng sendiri, bersama keluarganya, adalah pelarian dari kerajaan Makassar. Kakek Datu Museng meninggalkan kerajaan Gowa karena perpecahan yang dipicu oleh kolonialis Belanda.

Di Sumbawa, Datu Museng tumbuh menjadi dewasa. Ia jatuh cinta kepada putri kerajaan Sumbawa. Akan tetapi, cinta Datu Museng dan Putri Maipa Deapati tidak dapat dibenarkan. Maklum, Maipa Deapati sudah ditunangkan dengan pangeran kerajaan Lombok, Pangeran Mangalasa.

Secara garis besar, cerita Datu Museng dan Maipa Deapati ini terbagi atas dua peristiwa besar. Pertama, kisah perjuangan Datu Museng, yang pernah memperdalam ilmu di Mekah (Arab Saudi) untuk menikahi Maipa. Datu Museng sendiri berhadapan dengan ancaman perang dari dua kerajaan: Sumbawa dan Lombok.

Akan tetapi, berkat keperkasaannya Datu Museng berhasil mengalahkan putra kerajaan Lombok, Pangeran Mangalasa. Akhirnya, Datu Museng pun mendapat restu raja Sumbawa untuk menikahi Maipa Deapati.

Bagian kedua menceritakan kisah Datu Museng dan istrinya pergi ke Makassar karena ditugaskan oleh raja Sumbawa. Saat itu, Datu Museng diperintahkan menyelesaikan  Datu Jarewe, yang ditugaskan oleh Belanda menguasai Sumbawa.

Singkat cerita, Datu Museng dan istrinya sampai di tanah Makassar. Masalah baru pun muncul. Tentu saja, Belanda tidak senang dengan kedatangan Datu Museng dan istrinya. Masalahnya kian parah karena kapten Belanda, Tumlompoa, juga jatuh hati kepada Maipa Deapati.

Kapten Belanda ini pun berniat membunuh Datu museng. Pasukan gabungan Belanda dan Galesong—yang sudah diperalat Belanda—menyerbu kediaman Datu Museng dan istrinya. Dalam keadaan terdesak dan kritis, Maipa meminta suaminya (Datu Museng) untuk mencabut nyawanya. Ia tidak rela dirinya direbut oleh lelaki Belanda itu.

Akhirnya, dengan perasaan sangat berat, Datu Museng pun terpaksa menusukkan keris kecil (badik kecil) ke leher Maipa. Maipa yang lunglai di pangkuan Datu Museng dibaringkan kemudian. Di saat-saat kritis, Maipa mengeluarkan kata-kata:

Daengku Datu Museng, permata hatiku. Takkan ku gentar walau jiwa melayang. Kebimbangan telah kucampakkan, sebab keyakinan telah kupastikan. Perahu kematian siap kutumpangi. Kemudi telah ku…kuh di tangan. Telah kutetapkan haluan menyongsong tujuan, pada kematian yang hangat dan menyenangkan.”

Cerita diakhiri saat Datu Museng tertikam oleh tombak Karaeng Galesong. Saat itu, Karaeng Galesong sudah diperalat oleh Belanda yang berniat menguasai perdagangan kerajaan Makassar.

Tidak Hanya Cinta, Tapi Sikap Anti Kolonial

Tetapi, kisah Datung Museng dan Maipa bukan hanya soal cinta, tetapi juga perjuangan anti-kolonialisme Belanda.

Datu Museng jelas sangat anti-kolonial. Ia tidak rela kerajaan Gowa, yang punya sejarah anti-kolonial, diperalat oleh penjajah dari barat tersebut. Gowa sendiri punya sekutu-sekutu yang banyak, termasuk kerajaan Sumbawa.

Sayang sekali, Belanda telah memperalat sejumlah bangsawan di kerajaan Makassar itu. Akhirnya, dalam cerita itu, Datu Museng gugur di tangan bangsanya sendiri.

Berikut kata-kata Datu Museng sesaat setelah ditikam oleh tombak Galesong:

Karaeng Galesong, semoga hanya engkaulah Mangkasara’ yang mata hatinya digelapbutakan oleh orang-orang  yang mau menjajah kita. Maipa Deapati, kasihku, selamat  berjumpa.

Maipa sendiri juga tipe perempuan setia. Cintanya kepada suaminya tidak goyah oleh apapun, sekalipun sudah berhadapan dengan maut. Maipa juga tidak rela tubuhnya dimiliki oleh bangsa yang berniat menjajah negerinya.

Beginilah kata-kata Maipa saat hendak menghebuskan nafas terakhir:

Datuku, jangan ragukan ketulusan Maipamu. Aku rela pergi mendahuluimu, merintis jalan menuju tempat yang telah ditentukan oleh Maha Pencipta. Junjunganku Datu, aku rela mati di tanganmu. Tuhan jadi saksi, bahwa kuharamkan kulitku ini disentuh Balandaya (Belanda).“  – Maipa Deapati

Meski tidak sepopuler Romeo and Juliet, tetapi kisah Datu Museng dan Maipa juga membuktikan kepada kita, bahwa nusantara ini juga punya kekayaan karya sastra yang tidak kalah dengan bangsa lain.

Nama Datung Museng sendiri dijadikan nama sebuah jalan besar di kota Makassar. Cerita rakyat tentang Datu Museng dan Maipa ini juga masih hidup di tengah-tengah masyarakat Makassar.

QADLIE F SULAIMAN

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Fahmi Sariff

    Terima kasih