Ketika Revolusi Dianggap Sudah Selesai

Lewat Djam Malam
Sutradara: Usmar Ismail
Penulis: Asrul Sani
Pemeran: A.N. Alcaff, Netty Herawati, Dhalia, Bambang Hermanto
Distributor: Perfini, Persari
Durasi: 101 menit
Tahun Produksi: 1954

Inilah jaman ketika revolusi sudah dianggap selesai. Sementara bagi sebagian orang, khususnya mereka yang baru pulang dari pertempuran, revolusi itu belum selesai dan seharusnya dilanjutkan. Ini terjadi di era tahun 1950-an. Ini pula yang hendak digambarkan oleh Usmar Ismail lewat filmnya, Lewat Djam Malam.

Iskandar (A.N. Aclaff), seorang pejuang revolusi dan bekas mahasiswa teknik, baru saja pulang dari medan perjuangan. Ia segera bertemu kekasihnya tercinta, Norma (Netty Herawaty). Ia tinggal sementara di rumah calon mertuanya.

Baru saja tiba, Iskandar sudah dipaksa ‘mencari pekerjaan’. Oleh calon mertuanya, Iskandar dipekerjakan di kantor Gubernur Jawa Barat. Sayang, usia pekerjaannya tidak berumur panjang. Ia berseteru dengan rekan kerjanya dan terlibat perkelahian. Ia pun dikeluarkan dari pekerjaannya.

Iskandar dipaksa menerima situasi baru: ‘hidup normal’. Ia harus bergelut dengan orang-orang yang sibuk ‘mencari uang’. Banyak diantara rekan-rekan seperjuangannya juga sudah terperangkap dalam situasi baru ini. Diantara mereka ada yang masuk dalam birokrasi atau menjadi pengusaha.

Tetapi ada juga yang kurang beruntung. Salah satunya adalah Puja (Bambang Hermanto). Hidupnya dihabiskan dengan main billiar dan judi. Ia melanjutkan hidup dengan menjadi centeng di rumah bordil. Begitulah cara Puja berusaha beradaptasi dengan situasi baru. Akan tetapi, ia merasa tidak cocok dengan situasi baru ini. Ia merindukan masa-masa revolusi: kawan dan pertempuran.

Salah satu contoh manusia baru paska revolusi adalah Laila (Dhalia). Wanita yang terpaksa menjadi penghibur ini punya mimpi bergaya hidup seperti gambar di koran. Ia mengoleksi gambar-gambar pakaian dan perhiasan dari majalah LIFE—majalah Amerika.

Nasib Iskandar tak seberuntung dua rekan seperjuanganya: Gaffar dan Gunawan. Gaffar menjadi seorang pengusaha konstruksi. Sedangkan Gunawan, bekas komandannya, menjadi pengusaha. Ada yang menarik dengan tipe ‘manusia ala Gunawan’ ini: ia menjadi pengusaha berkat kejahatannya merampas harta orang yang diduga mata-mata NICA semasa revolusi.

Iskandar tak bisa melupakan masa revolusi. Satu kejadian yang tak dilupakannya adalah aksinya menembak satu keluarga yang diduga mata-mata NICA. Belakangan, ia tahu bahwa dirinya diperalat oleh sang komandan, Gunawan. Ia menggugat masa-lalunya. Akhirnya, sebagai penebusan dosanya, ia pun menembak mati Gunawan.

Film ini mengambil setting tahun 1950-an. Saat itu, ada perdebatan tentang revolusi yang sudah selesai dan belum selesai. Kelihatannya Usmar Ismail, sang sutradara film ini, mendukung posisi “revolusi sudah selesai”. Makanya, jangan heran, Usmar Ismail sangat kritis terhadap pendukung “revolusi belum selesai”.

Di film ini Usmar Ismail menyelipkan kritik pedas. Ia menggunakan sosok Gunawan, bekas komandan di era revolusi yang menghalalkan segala macam cara untuk kaya raya, untuk mengeritik Bung Karno. Beberapa kata yang dilontarkan Gunawan sangat mirip dengan retorika Bung Karno. Misalnya argumentasi begini: Kita harus tetap menjaga spirit revolusi. Sebab, revolusi belumlah selesai. Sudah saatnya menjalankan revolusi di lapangan ekonomi, yakni mengalihkan ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.

Di sini Usmar Ismail nampak naif. Ia seakan menyangkal kenyataan saat itu: masih dominannya modal asing, termasuk Belanda, dalam lapangan perekonomian. Tentu saja, kemiskinan dan ketidakadilan ekonomi turut diciptakan oleh keadaan ekonomi tersebut. Apa artinya kemerdekaan jika periuk kita masih ditentukan oleh orang asing?

Apakah Usmar Ismail pesimis dengan kemerdekaan? Tidak juga. Ia hanya kecewa dengan orang-orang yang gagal mengisi kemerdekaan. Di akhir film tertulis kata: “Kepada mereka yang telah memberikan sebesar-besar pengorbanan nyawa mereka, supaya kita yang hidup pada saat ini dapat menikmati segala kelezatan buah kemerdekaan. Kepada mereka yang tidak menuntut apapun buat diri mereka sendiri.”

Film ini dibuat tahun 1954. Setahun kemudian, film ini dinobatkan sebagai film bioskop terbaik dalam Festival Film Indonesia. Bagi saya, film ini memang sangat berkualitas. Ia tak kalah dengan film-film dari luar pada masanya. Kualitas akting para aktornya juga cukup mumpuni. Dan, setelah melalui proses restorasi selama setahun lebih, kita dapat menyaksikan kembali film ini dengan kualitas gambar dan suara yang baik.

Uniknya lagi, meski berdurasi 101 menit, tetapi setting waktu film ini hanya sehari-semalam. Bayangkan, dalam setting waktu kira-kira 24 jam,  Usmar Ismail berhasil menampilkan banyak kejadian dalam film ini.

Film ini juga merupakan dokumentasi visual tentang keadaan masyarakat Indonesia di tahun 1950-an. Kita menangkap gairah besar dari orang-orang yang bermimpi tentang kehidupan yang lebih baik setelah kemerdekaan.

Rudi Hartono Pemimpin Redaksi Berdikari Online.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut