Ketika Presiden Difitnah

Apa jadinya bila seorang presiden menomor-satukan subjektifitas dirnya? Dia akan mengutamakan soal-soal pribadinya, ketimbang kepentingan bangsa dan negara yang lebih luas. Dia juga akan sibuk merespon desas-desus, ketimbang bekerja serius dan mencurahkan fikiran untuk kepentingan rakyat.

Itulah yang terjadi dengan Presiden SBY. Meskipun ia adalah seorang jenderal bintang empat, tetapi ia tidak punya ketegaran dan pribadi kuat dalam menghadapi berbagai rintangan dan kendala saat memimpin. Pun, kendati dia adalah seorang doktor, tetapi ia tidak memilih fikiran ilmiah dalam mengatasi setiap persoalan.

Presiden SBY malah sibuk meladeni isu dan desas-desus. Akhirnya, karena aparat intelijen dan parta demokrat juga ikut-ikut, maka negara pun dibawa-bawa untuk mengurus-urusi desas-desus. Aneh, sebuah negara besar seperti Indonesia, yang dilahirkan dari revolusi dan pengorbanan rakyat, justru sibuk mengurusi SMS gelap.

Fitnah adalah bumbu dalam politik borjuis. Siapapun yang terjun dalam politik, ia harus siap menerima serangan-serangan politik, baik berupa fitnah maupun bentuk-bentuk pembunuhan karakter lainnya. Hal itu terjadi karena hampir setiap politisi menganggap politik sebagai ruang pertarungan untuk meraih kekuasaan dan kemewahan.

Akan tetapi, terlepas dari persoalan fitnah dalam politik, seorang presiden seharusnya tidak perlu meladeni desas-desus, apalagi sesuatu yang sudah jelas tidak bisa dipertanggung-jawabkan.

Pemimpin adalah individu yang piawai menerjemahkan cita-cita menjadi kenyataan (make things happen). Karena itu, seorang pemimpin harus memiliki jiwa besar, individu yang tegas, memiliki kharisma politik, dan sanggup berjalan di atas kepentingan umum. Seorang pemimpin, seharusnya, selalu menjadi cerminan kehendak kolektif dari rakyatnya, bukan berbicara atas nama keluarga, kelompok politik, dan termasuk partainya.

Selanjutnya, seorang pemimpin harus memberi cahaya harapan kepada rakyatnya, dan sanggup membangkitkan rakyatnya dalam perjuangan bersama mencapai dan mewujudkan harapan-harapan tersebut. Dan harapan itu dinanti, digayuh, diwujudkan, dengan sekuat tenaga, walau mesti menitikkan air mata dan membiarkan diri terbakar panas matahari ketika menghadirkannya.

Presiden haruslah berfikir tentang hal-hal yang besar: negara, bangsa, dan rakyat. Kendati presiden juga seorang manusia, tetapi tak elok presiden selalu berkeluh kesah mengenai dirinya, anaknya, istrinya, dan partainya dihadapan rakyat. Apalagi jika keluh kesah itu disampaikan melalui konferensi pers. Itu sih bukan Presiden dari sebuah negara besar, melainkan seorang presiden dari republik Infotainment.

Soal SMS Nazaruddin, kendati itu berpotensi merugikan nama baik presiden dan kelompok politiknya, ada baiknya persoalan itu diserahkan kepada kepolisian untuk menyelidikinya sampai tuntas. Toh, kalau Presiden dan partainya tidak melakukan seperti yang dituduhkan, kenapa harus terlihat seperti “kebakaran jenggot”.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut