Ketahanan Pangan Dan Spekulasi Pasar

Pada bulan Juni lalu, Menteri pertanian negara G-20 berkumpul di Paris, Perancis. Mereka membahas masalah yang cukup rumit: keamanan pangan dan harga yang terus meroket. Salah satu persoalan yang jadi pokok pembahasan adalah soal pengaruh aksi-aksi spekulatif di pasar komoditas terhadap harga pangan dunia.

Perdebatan ini sudah berkecamuk sejak tahun 2008, saat kenaikan harga pangan dunia memicu kerusuhan dan pemberontakan di sejumlah negara. Saat itu, mereka memperdebatkan membanjirnya uang di pasar komoditas global sejak tahun 2003.

Pada tahun 2008, berdasarkan catatan PBB, lonjakan harga pangan menyebabkan ratusan juta orang terjerumus dalam kemiskinan. Sementara kenaikan harga pangan tahun ini (2011) menyebabkan 44 juta terseret arus kemiskinan. Lalu, menurut sumber yang sama, kenaikan harga pangan pada tahun 2009 menyebabkan satu milyar orang, atau seper-enam, penduduk dunia, terus diintai oleh kelaparan.

Para pejabat PBB sendiri langsung menuding aksi spekulasi di pasar sebagai penyebab melonjaknya harga pangan berkali-kali lipat. Jean Ziegler, salah seorang pejabat PBB saat itu, menunjuk hidung sejumlah perusahaan ekuitas telah mengambil banyak keuntungan dari “kelabilan” harga pangan dunia.

Selain itu, seperti dilaporkan majalah Independent Inggris, korporasi agrobisnis global juga turut meraup keuntungan sangat besar dalam situasi itu. Sebut saja: Monsanto, salah satu pemain terkuat di agrobinis, dilaporkan menerima kenaikan keuntungan tiga kali lipat sejak tahun 2007. Sementara keuntungan Cargill, korporasi raksasa milik Amerika Serikat lainnya, tiba-tiba melonjak 86% pada periode yang sama.

Harga pangan dunia sekarang banyak ditentukan oleh segelintir orang di Chicago, Amerika Serikat. Di sebuah gedung bernama Chicago Board of Trade (CBOT), bursa berjangka tertua didunia yang berdiri sejak 1848, harga komoditi pertanian di seluruh dunia banyak ditentukan.

Padahal, orang-orang disana bukanlah petani, bukan pula pejabat yang terlibat dalam merumuskan kebijakan pertanian, melainkan para pengusaha dan spekulator yang menentukan harga berdasarkan prediksi musim, bencana, gagal panen, dan lain sebagainya.

Apa bahanya bagi Indonesia?

Situasi ini jelas sangat berbahaya bagi Indonesia. Sejak tahun 1999 hingga sekarang, pasar pangan di Indonesia sudah terkoneksi dengan pasar pangan global. Saat ini, gara-gara pemerintah sangat tunduk pada resep neoliberal, hampir semua kebutuhan pangan di dalam negeri didapatkan melalui impor.

Kita sekarang benar-benar sudah menjadi negara importir pangan: antara tahun 1998-2001 kita menjadi negara importir beras terbesar di dunia; dan kini setiap tahun kita impor gula 40 persen dari kebutuhan nasional; impor sekitar 25 persen konsumsi nasional daging sapi; impor satu juta ton garam yang merupakan 50 persen dari kebutuhan nasional; dan impor 70 persen kebutuhan susu.

Situasi itu juga telah membawa konsekuensi lebih buruk: sektor pertanian di dalam negeri sudah hancur lebur. Pemerintah juga terlihat “sengaja” mengabaikan sektor pertanian, demi menyambut proposal korporasi-korporasi pangan global. Total impor pangan kita sudah mencapai Rp 45 triliun.

Kita benar-benar berhadapan dengan situasi sulit di masa depan: kita semakin bergantung kepada impor pangan untuk memberi makan 230 juta rakyat kita, sementara harga pangan global ditentukan “seenaknya” oleh segelintir tangan dan melalui spekulasi. Ini sama saja dengan menyerahkan leher kita untuk dibunuh.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut