Kemenangan ‘Tipis’ Kaum Kiri Di Pemilu El Salvador

Dulu, ketika masih memanggul senjata, gerilyawan Farabundo Marti sangat ditakuti. Sekarang pun, ketika sudah memilih menempuh jalur elektoral, mereka tetap ditakuti.

Pada hari Minggu (9/3) lalu, El Salvador menggelar pemilu Presiden putaran kedua/terakhir. Ada dua kandidat Presiden yang bertarung. Kandidat pertama adalah Sanchez Ceren. Ia adalah bekas gerilyawan Angkatan Pembebasan Rakyat Farabundo Marti (FPL), salah satu grup marxis yang kelak melebur dalam Front Pembebasan Nasional Farabundo Marti (FMLN).

Sedangkan lawannya adalah Norman Quijano. Ia bekas Walikota di San Salvador, ibukota El Salvador. Quijano diusung oleh partai nasionalis-kanan: Aliansi Republiken Nasional (ARENA). Partai ini sangat korup, anti-komunis, neoliberal, dan pro-barat.

Pada minggu malam, hasil perhitungan sementara mulai diketahui. Kandidat yang diusung FMLN terlihat unggul tipis. Keunggulan tipis itu tidak mencegah massa pendukung Sanchez Ceren untuk turun ke jalan guna merayakan kemenangan.

Sanchez Ceren sempat hadir di tengah kerumunan massa pendukungnya itu. Saat itu, meski dinyatakan unggul, dia belum mendeklarasikan dirinya sebagai Presiden terpilih. Dia hanya bilang, “kita menang di putaran pertama, dan kita kembali akan menang di putaran kedua.”

Sementara kandidat sayap kanan Quijano, yang mengetahui dirinya hanya kalah tipis, sudah bertindak jauh. Pada minggu malam juga, ketika suara dari berbagai TPS baru masuk 70%, Quijano dan pemimpin partai ARENA sudah mengklaim kemenangan.

Sebetulnya, karena selisih perolehan suara sangat tipis, Pengadilan Tinggi Pemilu El Salvador sudah mengeluarkan larangan kepada para kandidat dan partai pendukungnya untuk tidak mengklaim kemenangan sebelum  proses penghitungan resmi selesai. Namun, larangan Pengadilan Pemilu itu diabaikan oleh sayap kanan.

Pada hari Kamis (13/3) lalu, Pengadilan Tinggi Pemilu El Salvador sudah mengumumkan hasil akhir pemilu. Sanchez Ceren, kandidat yang diusung FMLN, menang sangat tipis. Ia mendapat dukungan sebanyak 50,11%, sedangkan lawannya mendapat 49.99%. Selisih suara hanya  6,364 suara atau 0,2%.

Dengan hasil kemenangan tipis ini, sayap kanan El Salvador berusaha memainkan ‘skenario oposisi di Venezuela’: menolak mengakui hasil pemilu dan mendelegitimasi Presiden terpilih.

Seperti kita ketahui,  pasca meninggalnya Presiden Hugo Chavez, Venezuela menggelar pemilu ulang pada April 2013 lalu. Hasilnya: Nicolas Maduro, seorang Chavistas, berhasil menang tipis dalam pemilu tersebut. Maduro meraih suara 50,66%, sedangkan lawannya,  Henrique Capriles Radonski, meraih suara 49.07 persen. Selisih suara mereka hanya 234 ribuan suara.

Dalam skenario oposisi di Venezuela, mereka langsung menggugat hasil pemilu, menuding ada kecurangan—meskipun tanpa bukti konkret—dan mendesak penghitungan ulang 100%. Selain itu, dengan isu “kecurangan pemilu”, mereka mendorong pendukung mereka turun ke jalan dan melakukan aksi kekerasan. Ini untuk menciptakan dalih bagi intervensi dunia internasional. Tak hanya itu, oposisi Venezuela juga menciptakan opini untuk meragukan independensi KPU-nya Venezuela, Dewan Pemilihan Nasional (CNE). Meskipun para pemantau pemilu internasional, termasuk mantan Presiden AS, Jimmy Carter, sudah menyatakan bahwa pemilu Venezuela berjalan sangat demokratis dan termasuk salah satu yang terbaik di dunia.

Sekarang, skenario oposisi di Venezuela itu diadopsi juga oleh sayap kanan di El Salvador. Begitu mengetahui pihaknya kalah, perwakilan partai kanan El Salvador (ARENA) meninggalkan proses penghitungan suara di KPU El Salvador. Tak hanya itu, saat itu juga, ARENA mulai memobilisasi pendukungnya ke kantor KPU untuk menyuarakan isu ‘kecurangan pemilu’.

Di hadapan pendukungnya, pada Minggu (9/3) malam seusai pemilihan, kandidat sayap kanan Norman Quijano mengingatkan para pendukungnya agar menjaga jangan sampai ‘kemenangan mereka dicuri seperti di Venezuela’.

Tak hanya itu, Quijano juga menyatakan bersiap “perang” untuk mempertahankan klaim kemenangannya itu. Ia juga meminta dunia internasional dan Angkatan Bersenjata El Salvador untuk ‘mempertahankan demokrasi’ di El Salvador dari kecurangan.

Quijano mengklaim punya bukti tentang 20.000 pemilih yang dua kali menggunakan hak suaranya. Namun, ia tidak pernah membeberkan buktinya itu kepada media atau lembaga berwenang. Ia telah meminta organisasi negara-negara Amerika (OAS) untuk turun tangan memediasi perseteruan pemilu ini.

Yang menarik ditelusuri, ada keterkaitan antara aktor yang memainkan skenario oposisi di Venezuela dengan sayap kanan di El Salvador. Di sini muncul sosok bernama J.J. Rendón, seorang konsultan dan ahli strategi politik yang banyak bermain di berbagai pemilu presiden di Amerika Latin. Dia adalah kelahiran Venezuela, tetapi sangat menentang revolusi Bolivarian. Dia berkontribusi besar dalam menciptakan kekacauan pasca pemilu Venezuela.

Di El Salvador, JJ Rendon disewa oleh ARENA sebagai konsultan luar untuk membantu kampanya. Orang inilah yang dianggap punya andil untuk mendorong ARENA mengadopsi ‘skenario oposisi Venezuela’ untuk mengubah El Salvador menjadi ‘Venezuela berikutnya’.

Kemenangan Sanchez Ceren/FMLN sudah lama diperkirakan. Pada pemilu Presiden putaran pertama pada Februari lalu, Sanchez Ceren meraih 49,2% suara. Sedangkan Norman Quijano hanya mendapat 38,9% suara. Sejumlah jajak pendapat menjelang putaran kedua, seperti CID-Gallup, sudah memperkirakan Sanchez Ceren akan unggul 10 hingga 16 point dari Quijano.

Menyadari peluang menangnya sangat tipis, ARENA langsung bersiasat licik. Selain membeli suara, sebagaimana lazim dilakukan partai-partai kanan tradisional, ARENA juga memobilisasi pemilih dari kota berbeda—terutama kota yang diperintah oleh Walikota pro ARENA—dan dari luar negeri (Honduras).

Selain itu, menjelang pemilihan, ARENA membayar pendukungnya untuk memperbaharui kartu pemilih. Nah, beberapa hari menjelang pemilihan, pusat pendaftaran pemilih dibanjiri oleh massa yang hendak memperbaharui kartu pemilih. Situasi ini memicu kerumitan dan sedikit gangguan administrasi. Pada saat itulah kandidat ARENA, Quijano, menuding KPU menolak para pendukung ARENA yang mau memperbaharui kartu pemilih mereka.

Namun, segala siasat ARENA itu kandas. Mereka tetap tertinggal di belakang FMLN. Karena itulah, meski menyadari pihaknya kalah, ARENA tetap menggunakan segala macam cara untuk mendelegitimasi keterpilihan Sanchez Ceren sebagai Presiden.

Pada hari Rabu (12/3), Menteri Pertahanan Uruguay Jenderal David Munguia telah menegaskan bahwa militer tidak akan campur-tangan dalam pertikaian hasil pemilu. Ia juga menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata menghargai hasil pemilu, terlepas siapapun yang muncul sebagai pemenang. Pernyataan ini sedikit meredam kekhawatiran  mengenai kekacauan politik di El Salvador pasca pemilu.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut