Kehadiran Pangkalan Militer AS Di Australia

Pada 17 November 2011 lalu, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengumumkan secara resmi rencana kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat di Darwin, Australia. Dalam tahap awal, AS akan menempatkan 2500 orang marinirnya di pangkalan tersebut.

AS dan Australia memang sudah lama membangun aliansi strategis di bidang militer. Itu sudah berlangsung sejak kedua negara terlibat satu aliansi saat perang dunia ke-II. Tetapi, sekalipun ada kerjasama semacam itu, tetap saja kehadiran pangkalan militer AS memicu kontroversi.

Apalagi, pembangunan pangkalan itu berlangsung di tengah gentingnya persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Selain itu, Tiongkok juga terlibat konflik dengan sejumlah negara ASEAN terkait klaim sejumlah kepulauan di kawasan Laut China Selatan.

AS pun mendukung klaim Philipina, salah satu sekutunya di Asia Tenggara, atas laut china selatan. Laut China selatan sendiri tidak hanya penting secara militer dan geopolitik, tetapi juga secara ekonomis. Konon, perairan ini juga menyimpan cadangan minyak yang bernilai milyaran dollar AS.

Ini juga terjadi ditengah agressifnya Amerika Serikat, juga sekutu-sekutunya di Eropa, untuk memperluas dominasinya di negara-negara kaya sumber daya alam. AS baru saja memprakarsai perang penaklukan terhadap Libya, salah satu negara penghasil minyak di kawasan Afrika Utara.

Barack Obama sendiri menjadi “tamu khusus” di pertemuan ASEAN di Bali kemarin. Sebagian orang berusaha melihat bahwa kehadiran Obama di KTT ASEAN sebagai upaya untuk memperkuat kembali aliansi AS-ASEAN dan sekaligus menegaskan pengaruh AS di kawasan Asia Tenggara.

Selain untuk menyakinkan negara-negara Asia Tenggara agar tetap sejalan dengan kepentingan ekonomi-politik AS, kehadiran Obama di KTT-ASEAN juga dianggap sebagai bagian dari proyek membangun “jangkar guna mengisolasi Tiongkok”.
Dugaan itu dikuatkan oleh pernyataan sekretaris negara AS, Hillary Clinton, bahwa pembangunan pangkalan militer itu ditujukan untuk mematahkan pengaruh Tiongkok di kawasan ini.

Sementara itu, banyak pengusaha AS yang menuding Tiongkok sebagai pesaing utama AS dalam memperebutkan daya sumber daya alam dan bahan mentah. Dengan mengontrol samudera Hindia dan Laut China Selatan, AS dapat mengganggu pasokan sumber daya alam dan energi Tiongkok yang melalui perairan itu. Setidaknya 80% impor minyak Tiongkok dari timur tengah dan Afrika harus melalui selat malaka.

Pangkalan militer AS di Darwin dilengkapi dengan landasan udara dan pesawat tempur. Dengan begitu, AS bisa menerbangkan pesawat-pesawatnya di atas perairan-perairan yang dianggapnya sangat penting.

Ada pula yang mengatakan, kehadiran pangkalan militer AS di Darwin adalah untuk memastikan keamanan perusahaan-perusahaan AS yang sedang merajelala di kawasan itu. Ini merupakan analisa yang sangat masuk akal. Apalagi terjadi setelah terjadi pemogokan panjang para pekerja Indonesia di PT. Freeport.

Indonesia sendiri mestinya sangat terusik dengan kehadiran pangkalan AS itu. Perairan Indonesia hanya berjarak ratusan kilometer dari pangkalan militer itu. Selain itu, pergerakan militer AS sudah pasti akan sering melanggar wilayah RI, baik melalui perairan maupun angkatan udara. Di Laut Arafuru, yang letaknya berbatasan langsung dengan Australia, terdapat sejumlah blok minyak.

Sayangnya, sekalipun kekayaan alam Indonesia makin terancam, tetapi pemerintah dan TNI tidak khawatir sedikitpun. Maklum, Indonesia pun masuk sebagai sekutu setia AS di Asia Tenggara. Jadi pantas saja jika pemerintah dan TNI tidak terancam. Tetapi kita bangsa Indonenesia jelas sangat terancam.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut