Jejak Politik Yasser Arafat

Dalam empat dekade terakhir perjuangan pembebasan nasional Palestina, ada satu sosok yang menjulang tinggi. Dia adalah Yasser Arafat. Dia lebih menjulang dibanding para kompatriotnya yang lain, seperti George Habash, Laila Khalid, Marwan Barghouti, Mahmoud Abbas, dan lain-lain.

Kalau dihitung-hitung, Arafat mewarnai perjuangan rakyat Palestina selama hampir setengah abad. Dalam rentang waktu itu, tokoh yang kerap menggunakan kafiyeh* ini muncul dengan ragam laku politik: pejuang bersenjata, diplomat ulung, pejuang kemerdekaan, ahli strategi-taktik, dan tokoh perdamaian. Tidak sedikit juga yang mencibirnya sebagai teroris, pragmatis, dan oportunis.

Arafat lahir tanggal 24 Agustus 1929 di Kairo, Mesir. Ia sendiri mengklaim dilahirkan di Yerussalem. Nama aslinya cukup panjang:  Muhammad Abdul-Raouf Arafat al-Qudwa al-Husseini. Karena harus menggandeng nama ayahnya, nama kakeknya, nama suku, dan nama klan-nya.

Ayahnya, Abdul Raouf, adalah seorang pedagang tekstil. Sedangkan ibunya, Zahwa Abul Saud, yang berasal dari Yerussalem, meninggal dunia saat Arafat baru berusia 4 tahun. Itu sebabnya, pada tahun 1933, dia sempat dititipkan pada pamannya yang tinggal di Yerussalem.

Tetapi tahun itu adalah tahun pergolakan. Eropa sedang diambang perang. Sementara di Timur Tengah, nasionalisme Arab sedang bersemi. Di Palestina, perlawanan terhadap zionisme dan kolonialisme Inggris juga bergolak. Sepanjang 1936-1938, pemogokan umum melanda Palestina untuk menolak zionisme.

Arafat muda menyaksikan semua itu. Tetapi, tahun 1938, dia dipanggil pulang oleh ayahnya di Kairo. Tetapi di sana ia juga menemui gerakan nasionalisme yang sedang bersemi. Tak heran, di usia yang masih belia, Arafat ikut terseret dalam hiruk-pikuk gerakan nasionalis. Ia juga turut memasok senjata ke jalur Gaza untuk menyokong gerakan anti-zionis.

Tahun 1944, dia masuk Universitas Kairo dan mengambil jurusan teknik sipil. Di tengah jalan, tepatnya tahun 1948, perang antara negara-negara Arab versus Israel memanggilnya untuk turut memanggul senapan di pihak Arab. Namun, perang yang berlangsung setahun ini berbuah kekalahan bagi Arab.

Kekalahan itu adalah bencana. Lebih dari 800 ribu bangsa Palestina terusir dari tanah kelahirannya. Mereka mengenang kejadian itu AlNakba atau Hari Kehancuran. Tidak hanya itu, Israel berhasil memperluas daerah yang dikuasainya.

Arafat sendiri kembali ke kampus sebelum perang usai. Namun demikian, perlawananannya tidak surut. Di kampusnya, dia mendirikan organisasi pergerakan mahasiswa, Perhimpunan Mahasiswa Palestina. Tahun 1956, ia berhasil meraih gelar insinyur teknik sipil.

Begitu tamat, Arafat sempat terdaftar sebagai tentara Mesir. Ia berpartisipasi dalam perang Zues tahun 1956, sebuah perang yang melibatkan Mesir melawan tiga musuh sekaligus: Israel, Inggris, dan Perancis. Mesir di bawah Presiden berhaluan nasionalis Gamal Abdul Nasser berhasil memenangi perang ini.

Perjuangan Bersenjata

Akhir tahun 1950-an, Arafat mulai menyadari bahwa perjuangan pembebasan nasional Palestina membutuhkan sebuah alat politik. Karena itu, pada tahun 1959, ia bersama sejumlah orang Palestina di pengungsian mendirikan organisasi politik bernama Gerakan Pembebasan Nasional Palestina, atau bahasa Arabnya:  Harakat al-Tahrir al-Watani al-Filastini, disingkat Fatah. Organisasi politik ini bernafaskan nasionalisme-kiri.

Seperti organisasi nasionalis Arab lainnya, yang disusupi oleh ide-ide pencerahan dan sosialisme, Fatah mencita-citakan negara Palestina yang sekuler dan demokratik. Juga diketahui, retorika sosialisme kerap dilontarkan oleh pucuk pimpinannya.

Fatah mengambil pelajaran dari gerakan pembebasan nasional di negeri lain, terutama Aljazair dan Perancis. Tidak mengherankan, organisasi yang berkembang di kamp-kamp pengungsi Palestina ini mengambil jalan perjuangan bersenjata. Namun, tidak hanya mengandalkan moncong senapan, Fatah juga punya corong propaganda: Filastinuna, Nida al Hayat!

Membangun organisasi tentu butuh banyak sokongan, baik politik maupun logistik. Arafat tahu itu. Karenanya, ia kemana-mana menggalangan sokongan, terutama dari orang Arab dan Palestina. Kendati begitu, Arafat tetap mengarahkan Fatah untuk berpolitik mandiri dari negara-negara Arab.

Tahun 1964, sokongan Arab untuk pembebasan Palestina mengkristal menjadi sebuah organisasi politik: Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Tidak tanggung-tanggung, Liga Arab yang kala itu dipimpin Mesir menyokong PLO untuk menggunakan jalur perjuangan bersenjata. Tetapi pimpinan organisasi ini ditangan seorang moderat bernama Ahmad al-Shukeiri.

Sokongan Arab yang meruyak mengarah pada perang enam hari dengan Israel. Sayang, perang enam hari yang meletus Juni 1967 berbuah kekalahan bagi Arab. Negara-negara Arab kembali dipermalukan. Sebaliknya, lagi-lagi Israel berhasil memperluas teritorinya: merebut Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza dari Mesir, Tepi Barat dari Yordania, dan Dataran Tinggi Golan dari Suriah. Nasionalisme Arab gagal menundukkan Israel dan membebaskan Palestina.

Tetapi keadaan itu justru menguntungkan secara politik bagi Arafat dan Fatah. Tahun 1968, di sebuah kota kecil di Yordania yang menjadi basis Fatah, Karameh, pejuang Palestina—gabungan Fatah dan kelompok marxis seperti Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP)—berhasil memukul mundur tentara Israel yang datang menyerbu. Kemenangan di Karameh membuat pamor Fatah dan Arafat menjulang tinggi. Dan yang lebih penting lagi, kemenangan di Karameh menguatkan keyakinan bangsa Palestina, bahwa mereka bisa membebaskan negerinya dari kolonialisme Israel dengan kekuatan sendiri.

Setahun kemudian, Arafat berhasil merebut kepemimpinan PLO. Saat itu PLO sudah menyerupai sebuah Dewan Nasional yang menghimpun semua organisasi dan kekuatan politik di Palestina. Fatah menjadi kekuatan terbesar di PLO, lalu kelompok-kelompok marxis seperti PFLP, Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina (DFLP), dan sayap-sayap bersenjata yang bernaung di bawah partai Ba’ath (Sosialisme Arab). PLO juga punya sayap bersenjata, yaitu Tentara Pembebasan Palestina (PLA).

September Hitam

Tahun 1970-an menjadi tahun-tahun penting bagi PLO dan rakyat Palestina. PLO mengalami radikalisme luar biasa. Seiring dengan itu, antusiaisme massa untuk bergabung dengan organisasi politik perlawanan Palestina bertambah besar. Termasuk di Yordania.

Pejuang Palestina, terutama Fatah dan PFLP, mengusai sebagian besar daerah Yordania yang berbatasan dengan Israel. Bahkan sebagian Ibokota Yordania, Amman. Di sisi lain, akibat pengungsi Palestina yang membludak ke Yordania, populasi orang Palestina di Yordania mencapai 70 persen. Perkembangan politik ini mengancam kekuasaan resmi di Yordania di bawah Raja Hussein.

Pada September 1970, guna menarik perhatian dunia terhadap persoalan Palestina, PFLP melakukan aksi pembajakan pesawat. Aksi ini merupakan reaksi terhadap pernyataan Perdana Menteri Israel saat itu, Golda Meir, yang bilang: “mereka (Palestina) tidak ada.” Tidak tanggung-tanggung, PFLP membajak lima pesawat asing. Tiga diantaranya dipaksa mendarat di Dawson’s Field, sebelah timur Amman, Yordania.

Raja Hussein, penguasa Yordania kala itu, mulai gerah dengan pertumbuhan dan radikalisme para pejuang Palestina, terutama yang berhaluan kiri. Tanggal 15 September 1970, raja Yordania itu mengumumkan perang terhadap pejuang Palestina. Besoknya, tentara Yordania mulai menggempur pejuang Palestina. Serangan ini didukung oleh AS dan Israel, yang juga punya kepentingan melenyapkan pejuang Palestina di wilayah Yordania.

Serangan itu berlangsung berbulan-bulan. Yordania mengerahkan tank, pesawat tempur, artileri, dan persenjataan berat lainnya untuk menggempur pejuang Palestina yang sebagian besar adalah pengungsi. Serangan itu menyebabkan 3.500-5000 Palestina, termasuk warga sipil, tewas. Sementara Arafat mengklaim jumlah korban mencapai 10.000 orang.

Atas tekanan Liga Arab, Yordania bersedia membuat gencatan senjata dengan pejuang Palestina. Arafat menjadi Jubir Palestina kala itu. Namun, seperti lidah yang tak bertulang, Yordania berulangkali melanggar gencatan senjata. Melihat situasi itu, Arafat menyerukan penggulingan raja Hussein.

“Revolusi Palestina akan mempertahankan diri sampai akhir…hingga rezim Fasis digulingkan,” demikian seruan Arafat. Sayang, seruan itu datang terlambat. Pejuang dan rakyat Palestina di Yordania sudah terpukul parah ketika seruan itu datang.

Arafat dan pejuang Palestina terpaksa menyingkir ke Suriah. Namun, karena ditolak oleh rezim setempat, Arafat dan kompatriotnya menyeberang ke Lebanon. Di Lebanon, seperti juga di Yordania, Arafat dan PLO membentuk kekuasaan “negara dalam negara”.

Kekalahan di Yordania membuat unsur radikal di tubuh Fatah bereaksi. Mereka membentuk sayap teror bernama Black September. Kelompok ini bertanggungjawab atas penyerangan terhadap atlet Israel di Munich, Jerman, saat perhelatan Olympiade 1972. Mereka juga melakukan serangan bom terhadap sejumlah pejabat Yordania dan Israel di tahun 1971-1973.

Tahun 1973, Arafat turun tangan untuk menghentikan aksi-aksi teror ini. Namun demikian, aksi-aksi teror tetap dilanjutkan oleh faksi-faksi pejuang Palestina di luar Fatah.

Tampil Di Panggung Internasional

Tahun 1974 menjadi era baru bagi perjuangan politik Arafat untuk membebaskan Palestina. Di tahun itu, Arafat mulai menemukan tempat sebagai “penyambung lidah rakyat Palestina” di panggung internasional.

Di tahun itu, dengan mengenakan Kafiyeh, seragam militer, dan sarung pistol, Arafat muncul dihadapan peserta Sidang Umum PBB tahun 1974. Ia menyampaikan pidato pelan tetapi mencengangkan dunia. “Hari ini saya datang membawa sebuah ranting zaitun dan senapan pejuang kebebasan. Jangan biarkan ranting zaitun jatuh dari tangan saya,” katanya.

Di forum PBB ini, Arafat menolak tundingan teroris yang dilekatkan pada pejuang Palestina. Dia membedakan antara aksi revolusioner dan aksi teroris. Dia bilang: “perbedaan antara revolusioner dan teroris terletak pada alasan mereka berjuang. Siapapun yang berjuang untuk kemerdekaan dan pembebasan tanah airnya dari penyerbu, pemukim, dan kolonialis, tidak bisa disebut teroris. Mereka yang berlawanan dengan alasan ini, mereka yang berperang untuk menduduki, menjajah, dan menindas bangsa lain, mereka adalah teroris. Mereka adalah orang-orang yang tindakannya harus dikutuk, yang pantas disebut penjahat perang.”

Ada beberapa kemajuan dari taktik Arafat ini. Pertama, KTT Liga Arab tahun 1974 mengakui PLO sebagai perwakilan sah bangsa Palestina dan mendukung hak mereka sebagai negara merdeka. Kedua, sejak November 1974, Palestina (PLO) mendapat status pengamat non-negara di PBB.

Tetapi kemajuan harus dibayar dengan kompromi. Sejak itu Arafat mendukung “solusi dua negara” yang diusung PBB. Padahal, sejak awal Fatah dan PLO memperjuangkan Palestina merdeka yang meliputi Tepi Barat, Jalur Gaza, dan wilayah Israel saat ini. Tentu saja kompromi Arafat ini memicu perlawanan dari faksi-faksi politik di dalam tubuh PLO.

Terpukul Di Lebanon

Tidak hanya itu, pada tahun 1975, Lebanon bergolak. Pemicunya adalah kebangkitan koalisi kiri dan Islam yang menentang dominasi kristen Manorit di lembaga politik negeri itu. Untuk diketahui, sejak meraih kemerdekaannya di tahun 1943, kehidupan politik dan ekonomi Lebanon didominasi oleh kristen Manorite.

Kelompok oposisi, yang terdiri dari partai kiri dan organisasi Islam, bergabung dalam koalisi Gerakan Nasional Lebanon (LNM). Pemimpinnya bernama Kamal Jumblatt. Pada Februari 1975, Jumblatt mengencangkan kampanyenya menentang politik kuota yang diskriminatif. Hal tersebut menciptakan kekhawatiran di kalangan Kristen Manorite.

Di sisi lain, sejak tahun 1970, PLO memindahkan markasnya ke Lebanon. Jauh sebelumnya, ratusan ribu pengungsi Palestina sudah menyesaki Lebanon. PLO dan sayap-sayap bersenjatanya berhasil merekrut banyak pejuang dari kamp-kamp pengungsi Palestina ini. Sudah begitu, PLO menyatakan dukungan terhadap LNM dan Kamal Jumblatt. Keadaan ini membuat Kristen Manorite makin khawatir dengan menguatnya LNM dan PLO.

Partai Kristen Falangis (Kata’ib), yang cenderung fasistik, mulai membentuk sayap-sayap bersenjata. Pada April 1975, milisi Kristen Falangis membantai 27 orang Palestina yang sedang bepergian dengan bus di Beirut. Kemudian, pada Januari 1976, milisi Falangis membantai ribuan Palestina di Karantina (Karantina Massacre). Peristiwa itu segera memicu bentrokan bersenjata antara gerilyawan PLO dan milisi Falangis.

Situasi makin memburuk dengan campur tangan Suriah. Tahun 1976, tentara Suriah menginvasi Lebanon. Mereka bersekutu dengan Kristen Manorite untuk menghajar LMN dan PLO. Kemudian Israel, yang berkepentingan melibas habis PLO di Lebanon selatan, juga terlibat dalam perang ini. Israel sendiri berulangkali melancarkan agresi terhadap Lebanon dan PLO.

Serangan terbesar Israel terjadi tahun 1982. Saat itu militer Israel mengepung pasukan PLO di kota Beirut. Menghadapi kepungan tentara Israel itu, yang diperkuat dengan tank, artileri, dan pesawat tempur, Arafat mendeklarasikan Beirut sebagai “Stalingrad” bagi tentara Israel. Pengepungan itu sendiri berlangsung selama 70 hari, dengan meninggalkan korban yang tidak sedikit, khususnya warga sipil Lebanon.

PBB pun turun tangan untuk mendorong gencatan senjata. Arafat dan pasukannya meninggalkan Beirut dengan kawalan pasukan keamanan internasional. Awalnya Arafat hendak membangun kembali kekuatannya di kota bagian utara Lebanon, Tripoli. Namun usaha itu gagal karena diserang oleh Suriah. PLO kemudian memindahkan markas dan kekuatannya ke Tunis, Tunisia.

Meletusnya Intifada

Pada tahun 1987, pemberontakan rakyat Palestina terhadap kolonialisme Israel meledak. Rakyat Palestina menyebut pemberontakan rakyat ini sebagai “Intifada”.

Rakyat Palestina, terutama kaum muda dan anak-anak, turun ke jalan untuk melawan Israel. Mereka melawan dengan apa saja: batu, ketapel, dan lain-lain. Sebuah foto yang menjadi icon intifada memperlihatkan seorang anak kecil menghadapi tank israel dengan lemparan batu.

Israel sendiri tidak menganggap enteng pemberontakan ini. Buktinya, mereka mengerahkan 175.000 tentara untuk memadamkan pemberontakan tersebut. Tidak hanya itu, militer Israel juga merespon pemberontakan sipil ini dengan kekerasan, yang menyebabkan ribuan rakyat Palestina gugur.

Sayangnya, PLO dan sayap-sayap bersenjatanya justru ketinggalan kereta. Sejak terusir dari Yordania dan Lebanon, PLO makin terisolir dari perjuangan rakyat Palestina. Para pemimpin PLO, termasuk Arafat, sedang berada di pengasingan. Alhasil, intifada berlangsung nyaris tanpa dipimpin oleh PLO maupun Arafat.

Di sisi lain, akibat kekosongan kepemimpinan politik itu, gerakan perlawanan baru muncul. Diantaranya, Ḥarakat al-Muqāwamah al-ʾIslāmiyyah (Hamas) dan Jihad Islam Palestina. Kedua organisasi yang bernafaskan fundamentalisme Islam ini kerap menggunakan aksi bom bunuh diri sebagai strategi perlawananannya.

Meja Perundingan

Tetapi Arafat tetap berusaha mengambil efek politik dari Intifada. Setahun setelah intifada bergulir, tepatnya tanggal 15 November 1988, Arafat memproklamirkan kemerdekaan Palestina. Uniknya, proklamasi itu dilakukan di luar Palestina, yakni di Aljazair, dan tanpa klaim teritori yang jelas. Namun, proklamasi itu mengklaim Ibukota Negara Palestina adalah Yerussalem. Beberapa bulan kemudian, sejumlah negara timur tengah dan Asia-Afrika, termasuk Indonesia, memberikan pengakuan.

Tetapi proklamasi itu sendiri memperlihatkan pergeseran cita-cita Arafat dan PLO. Pada awalnya, Arafat dan PLO mencita-citakan Palestina yang merdeka meliputi Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Israel saat ini. Tetapi pada Desember 1988, Arafat mulai menerima Resolusi 242 Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang mengakui hak Israel untuk hidup damai dan aman. Palestina juga dipaksa untuk menanggalkan perjuangan bersenjata atau jalan kekerasan.

Perubahan sikap Arafat disambut baik oleh Washington. Selama ini Washington menolak memediasi dialog antara Palestina dan Israel jika Palestina tidak mengakui eksistensi Israel dan mengutuk aksi-aksi terorisme. Inilah yang membuka jalan negosiasi tertutup antara Arafat sebagai Wakil PLO dengan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin di Ibukota Norwegia, Oslo, tahun 1993. Inilah yang melahirkan Perjanjian Oslo tahun 1993, yang mengakui eksistensi Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Sejak itulah berdiri Otoritas Nasional Palestina (PNA/PA), sebagai entitas negara Palestina yang berdaulat, dengan Presidennya Yasser Arafat (1994-2004). Perjanjian Oslo hanya mengembalikan 23 persen tanah Palestina dari keseluruhan wilayah Palestina sebelum tahun 1947.

Sukses di Oslo membuat nama Arafat melambung tinggi. Dia bersama Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan Presiden Israel Shimon Peres diganjar penghargaan Nobel Perdamaian. Tetapi jalan kompromi ini juga membawa konsekuensi. Tahun 1995, Yitzhak Rabin dibunuh oleh ultra kanan Israel yang menentang perjanjian Oslo 1993. Sedangkan Arafat dicap “penghianat” dan “menjual Palestina” oleh partai-partai kiri Palestina.

Di pemilu 1996, Arafat memang menak telak. Ia meraih suara 88.2 persen. Namun, kemenangan telak ini disebabkan oleh pemboikotan partai-partai pesaing Fatah, seperti Hamas, PFLP, DFLP, dan lain-lain. Situasi ini memungkinkan Fatah menjadi kekuatan mayoritas di parlemen.

Tetapi jalan untuk mewujudkan Kesepakatan Oslo tidaklah mulus. Pertengahan 1996, seorang garis keras penentang Oslo, Benjamin Netanyahu, memenangi pemilihan dan menjadi Perdana Menteri Israel. Di bawah Netanyahu, implementasi konkret dari Perjanjian Oslo terus diulur-ulur.

Pada kenyataannya, jumlah pemukiman Yahudi di Tepi Barat meningkat dua kali lipat pasca perjanjian Oslo, dari 262.500 pemukiman pada tahun 1993 menjadi 520.000 pada tahun 2013. Ironisnya lagi, pemerintah Israel memberikan subsidi 28.000 USD untuk setiap apartemen yang dibangun di pemukiman Yahudi tersebut. Ekspansi pemukiman Yahudi itu memungkinkan Israel mengontrol lebih dari 42 persen tanah di Tepi Barat.

Pada kenyataannya, agresi militer Palestina ke wilayah Palestina juga tidak surut. Tercatat, pasca perjanjian Oslo, Israel sudah tiga kali melancarkan agresi militer besar-besaran terhadap jalur Gaza: tahun 2006, tahun 2008-2009, dan tahun 2014. Belum terhitung tindakan kekerasan yang dilakukan oleh militer Israel terhadap warga Palestina setiap harinya. Juga penangkapan politisi dan warga sipil Palestina tanpa alasan yang jelas.

Agresi yang terus-menerus membuat rakyat Palestina tidak punya kebebasan untuk membangun kehidupan politik, sosial, dan ekonominya. Bank Dunia mencatat, sekitar 60 persen penduduk di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang hidup dengan pendapatan di bawah 2 USD per hari. Khusus untuk Jalur Gaza, seperti dicatat Bank Dunia, akibat blokade ekonomi dan agresi militer, sekitar 43 persen penduduk kota ini menganggur.

Masa depan yang dijanjikan oleh Arafat melalui Perjanjian Oslo ternyata tidak indah. Belum lagi, begitu berkuasa, pemerintahan Arafat yang didominasi Fatah digerogoti oleh banyaknya praktek korupsi. Rakyat Palestina dijangkiti rasa ketidakpuasan. Sayang, Fatah maupun PLO tidak bisa lagi menjadi alternatif terhadap ketidakpuasan itu.

Tahun 2004, di tengah terbenamnya harapan rakyat Palestina akan perjanjian Oslo, kondisi kesehatan Arafat mulai memburuk. Tanggal 11 November 2004, politisi berusia 75 tahun ini menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ia meninggalkan seorang istri, Suha Tawil, yang dinikahinya tahun 1990.

Dua tahun pasca kematiannya, tepatnya di Pemilu Palestina 2006, Fatah tersungkur. Sebaliknya, Hamas memenangi pemilu dengan perolehan suara 44,45 persen. Padahal, di tahun 1993, dukungan Hamas baru berkisar 15 persen. Kemenangan Hamas mencengankan!

Hamas menang bukan karena rakyat Palestina menyokong proyek fundamentalistiknya. Namun, kemenangan itu justu banyak disumbang oleh kegagalan politik Arafat sendiri: memudarnya harapan rakyat terhadap realisasi Perjanjian Oslo, maraknya korupsi di tubuh pemerintahan Arafat, dan kondisi sosial-ekonomi yang terus-menerus memburuk.

Tetapi jejak politik Arafat bukan tanpa bekas. Akhir November 2012 lalu, lebih dari dua pertiga dari 193 negara anggota PBB mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Sebanyak 138 negara anggota PBB menyetujui peningkatan status Palestina dari “entitas” menjadi “negara pengamat non-anggota”. Kemenangan ini tidak lepas dari politik diplomasi yang sudah dirintis Arafat beberapa dekade sebelumnya.

Mahesa Danu

Keterangan:

* Sejenis syal segiempat dengan motif kotak-kotak dan aksen rumbai di sisi tepinya. Umumnya dipakai sebagai penutup kepala oleh pria di Arab.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut