Jejak Perjuangan Che Guevara di Palestina

Jejak perjuangan Che Guevara tidak hanya membekas di Amerika latin, Karibia dan Afrika. Rupanya, jejak pejuang revolusi Kuba itu juga membekas di tanah Palestina.

Banyak pejuang Palestina yang terinspirasi oleh Che. Bahkan di jalur Gaza, mural bergambar Che hadir di tembok-tembok, berdampingan dengan pejuang Palestina macam Yasser Arafat, George Habash, dan Laila Khalid.

Anak-anak sekolah melintas di depan mural Che Guevara di Gaza (sumber: http://www.gettyimages.co.uk)

Seperti di Abu Dis, mural Che tergambar di tembok yang memisahkan Palestina dengan wilayah Yerussalem Timur yang diklaim oleh Israel.

Bagaimana Che begitu berkesan di Palestina?

Tahun 1959, hanya 4 bulan setelah Revolusi Kuba, tepatnya 18 Juni 1959, Che dan Raul Castro mengunjungi Jalur Gaza. Di sana dia bertemu dengan beberapa tokoh pejuang Palestina. Diantaranya Abdullah Abu Sitta, pemimpin Fedayeen.

Tidak hanya itu, Che juga mengunjungi beberapa kamp pengungsi Palestina. Konon dia disambut dengan nyanyian-nyanyian Revolusi Kuba. Di sana dia menyaksikan kemiskinan dan kesulitan hidup rakyat Palestina yang terusir dari tanah dan rumahnya.

Saat kunjungan singkat itu, Che sempat berbagai pengalaman dan strategi perjuangan dengan pejuang-pejuang Palestina. Konon, dia juga menjanjikan bantuan senjata bagi pejuang-pejuang Palestina yang disebut “Fedayeen”.

Tak lama setelah kunjungan itu, dukungan Kuba terhadap Palestina meningkat. Sejumlah mahasiswa Palestina mendapat kesempatan belajar di Kuba. Tidak hanya itu, Kuba makin nyaring membawa isu Palestina di forum-forum internasional.

Tahun 1966, di Konferensi Tiga Benua di Havana, yang melibatkan negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin-Karibia, Fidel Castro menyerukan solidaritas dan sebuah konferensi khusus untuk membantu rakyat Palestina.

Di tahun awal 1960-an, Kuba punya andil dalam membantu lahirnya organisasi perlawanan Palestina, termasuk Gerakan Pembebasan Nasional Palestina (FATAH). Beberapa pejuang FATAH mendapat pendidikan politik dan militer dari Kuba.

Kemudian, pada 1964, Kuba juga menyokong pendirian organisasi payung, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Tidak hanya itu, Kuba membuka jalur diplomatik dengan para pemimpin PLO, termasuk Yasser Arafat. Dan sepuluh tahun kemudian, Arafat berkunjung ke Havana, Kuba.

Poster Che Guevara di tengah-tengah aktivis PFLP di sebuah kamp pengungsi Palestina.

Di tahun 1967, berdirilah organisasi politik berhaluan marxis, yakni Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP). Organisasi yang didirikan oleh George Habash ini malah menjadikan Che sebagai salah rujukan pemikiran dan strategi perjuangannya.

Tahun 1973, setelah perang Ramadan antara koalisi Arab dan Israel, Kuba memutus hubungan diplomatik dengan Israel. Tak lama kemudian, kedutaan Palestina dibuka di Havana.

Tahun 1975, Kuba menjadi satu-satunya negara Amerika latin yang menyokong resolusi PBB nomor 3379, yang menyebut zionisme sebagai bentuk rasisme dan diskriminasi rasial. Juga mengakui PLO sebagai “peninjau” di PBB.

Di Palestina sendiri, api perjuangan Che menginspirasi pejuang-pejuang Palestina. Di Gaza, muncul grup bersenjata yang berafiliasi di bawah PLPF, yakni Unit Komando Che Guavara atau Brigade Che Guevara.

Shadia Abu Ghazaleh, perempuan Palestina pertama yang menjadi martir dalam perjuangan bersenjata di tahun 1968, adalah anggota dari grup ini. Shadia sendiri sangat terpengaruh oleh pikiran-pikiran Che, terutama soal keharusan perjuangan bersenjata dalam pembebasan Palestina.

Selain itu, seorang aktivis PFLP yang memimpin perlawanan di Jalur Gaza, Mohammad al-Aswad, sering disebut sebagai “Guevara Gaza”, karena keberaniannya dalam berbagai pertempuran dengan militer Israel. Dia gugur dalam sebuah pertempuaran sengit di tahun 1973.

Hingga hari ini, Che masih menjadi salah satu suluh untuk perjuangan pembebasan Palestina. Banyak organisasi pembebasan palestina, terutama PFLP, DFLP (Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina), dan Partai Rakyat Palestina, selalu memperingati hari tertangkapnya Che di Bolivia, 8 Oktober, sebagai “Hari Pahlawan Gerilya”.

“Di Palestina, spirit Che Guevara, tekadnya untuk pembebasan, bangkit di jalan-jalan tanah yang terduduki,” tulis PFLP dalam siaran pers memperingati Hari Pahlawan Gerilya.

Dan hari ini, gambar Che Guevara dalam balutan kaffiyeh—kain syal bermotif kotak-kotak dan dipakai sebagai penutup kepala—di lehernya dan dengan mengangkat dua jari membentuk huruf “V”, disertai tulisan “Palestine Libre”, akrab di kaos-kaos pemuda Palestina.

“Dia bukan model untuk semua Palestina. Yang paling mengaguminya banyakan orang-orang kiri. Tetapi kami yang berjuang dalam intifada terinspirasi olehnya. Ia ada dalam perjuangan dan setiap kami,” kata Abu Nada, seorang pemuda Palestina, seperti dikutip gulfnews.com.

Memang tidak semua pejuang Palestina terinspirasi oleh Che Guevara. Tetapi dia adalah tokoh nan jauh dari luar Palestina, dari belahan dunia Amerika Latin sana, yang hadir menyemangati perjuangan rakyat Palestina.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut