Jalan Terjal Perjuangan Petani Jambi

Sejak Sabtu, 17 November lalu, 250-an petani dari Jambi tiba di Ibukota Republik Indonesia, Jakarta. Kedatangan mereka membawa misi besar: memperjuangkan hak-hak mereka yang dirampas oleh perusahaan dan memperjuangkan penegakan pasal 33 UUD 1945.

Resiko perjuangan pun menghadang. Begitu tiba di Jakarta, mereka segera membangun tenda di depan DPR. Sayang, belum menginap semalam, petugas Satpol PP sudah menggulung tenda itu. Tak hanya itu, Satpol PP juga mengevakuasi paksa petani ke Lapangan Merah Benhill, Jakarta Pusat.

Rupanya, cobaan perjuangan tak berhenti di sini. Baru beberapa jam tenda didirikan, hujan deras datang mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Lapangan Merah Benhill pun turut terendam. Alhasil, ratusan petani ini tak bisa tidur nyenyak.

“Malam itu kami tak bisa tidur. Tenda-tenda sudah kemasukan air. Akhirnya, kami pun sibuk menyelamatkan anak-anak. Di sini ada 9 anak yang menyertai ayah-ibunya ikut aksi di Jakarta,” kata Utut Adianto, warga Suku Anak Dalam yang kini menjadi pengurus Serikat Tani Nasional (STN) wilayah Jambi.

Akhirnya, pada hari Minggu, 18 November 2012, petani memilih pindah ke depan gedung DPR. Mereka pun kembali membangun tenda di sana. “Kami menginap semalam di depan kantor DPR. Itupun kembali diguyur hujan deras. Kami harus tidur menumpuk di dalam tenda. Sebagian memilih duduk-duduk saja. Ya, tidak ada tempat merebahkan badan lagi, bung,” kata Utut.

Besoknya, Senin, 19 November 2012, sekitar pukul 08.00 WIB, kesulitan kembali mendatangi petani. Di saat mereka sedang menyiapkan sarapam pagi, datanglah tamu tak diundang: gabungan pasukan Satpol PP dan Polisi. Seorang perwira Polisi dari Polsek Tanah Abang mengultimatum Petani: bongkar tenda-tenda itu sekarang!

Agus Pranata, pengurus pusat STN yang berada di tengah-tengah petani, berusaha mengajak polisi berdialog. Ia bilang, sebelum membangun tenda, pihak petani sudah menyampaikan ke Wagub DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), agar diberi kesempatan menginap di DPR dan jangan digusur.

Polisi dan Satpol PP pun mengurunkan niatnya. Petani pun sedikit bernafas lega. Sebagian kembali memasak dan meracik kopi, sebagian lagi mencari tempat mandi di WC Umum di sekitaran DPR.

Tiba-tiba, di bagian halaman gedung DPR, sudah berbaris Satpol PP dan polisi. Dan, tidak menunggu lama, mereka mulai merengsek maju. Pintu gerbang DPR pun mereka dobrak. Alhasil, tenda-tenda petani yang tepat di depan pintu gerbang pun roboh. Para petani, laki-laki dan perempuan, dalam keadaan panik.

Agus Pranata maju menyongsong pasukan berseragam itu. Kepada seorang perwira Kepolisian, ia meminta dialog. Sayang, permintaannya itu diacuhkan. Satpol PP terus merengsek maju dan hendak merobohkan tenda-tenda. Melihat gelagat petugas yang tak mau diajak bicara dan makin kalap, Agus pun memberi komando, “kawan-kawan, persiapkan diri dan bambu runcing kalian!”

Situasi makin tegang. Sejumlah polisi berseragam putih langsung membekap Agus dan membawanya ke dalam gedung DPR. Sejumlah petani yang berusaha menghalangi, terkena bogem mentah aparat. Seorang anak kecil berusia 2 tahun, namanya Chiko, juga kena pukulan di bagian matanya.

“Ada beberapa warga yang kena pukul. Kejadiannya kan tiba-tiba. Semua pimpinan (baca: pengurus STN dan PRD) sedang pergi mandi. Ya, kami hanya bisa menyelamatkan barang-barang dan logistitik untuk bertahan di sini,” ujar Kutar Johar, tokoh Suku Anak Dalam (SAD) 113.

Tapi Satpol PP betul-betul beringas. Mereka tak hanya merobohkan tenda-tenda petani, lalu membawa bambu dan terpalnya. Satpol PP juga merampas beras, ubi, dan peralatan masak. Yang lebih kurang ajar lagi, mereka merampas pakaian petani, termasuk pakaian dalam perempuan, lalu dibuang ke truk-truk sampah.

“Itukan kan kami terus kena hujan. Jadi pakaian dalam, termasuk sempak, itu kan basah semua. Jadi kami jemur di sekitar tenda-tenda. Eh, itu juga diambil sama petugas dan dilempar ke mobil sampah,” tutur seorang Ibu Simbolon, warga Mekar Jaya, Sorolangun, Jambi.

Akibatnya, banyak ibu-ibu yang tak bisa mengganti pakaian dalam. Hampir semua terpal, yang sering dipakai petani untuk tenda dan alas tidur, juga dirampas oleh petugas Satpol PP. Alhasil, mereka pun kesulitan untuk mencari tempat bernaung dan berbaring.

Hari itu juga, petani bergeser ke kantor Kementerian Kehutanan, yang letaknya tak jauh dari gedung DPR. Mereka pun menggelar aksi massa di sana. “Kami menuntut agar Menhut Zulkifli Hasan segera memenuhi kesepakatan tanggal 16 Desember 2011,” teriak Utut Adianto selaku korlap aksi.

Untuk diketahui, kesepakatan tanggal 16 Desember merupakan kesepakatan bersama antara pihak Kemenhut RI dan petani dari dua dusun, yakni Kunangan Jaya II dan Mekar Jaya. Di situ, pihak Kemenhut–yang diwakili oleh Sekjen Kemenhut—sepakat untuk menge-enclave lahan seluas 8000 ha milik petani Kunangan Jaya II (Batanghari) dan lahan seluas 3550 ha milik petani Mekar Jaya (Sorolangun).

Tapi, ya, beginilah penyakit penguasa di negeri ini: selalu ingkar janji/kesepakatan. Di hadapan perwakilan petani Jambi, pihak Kemenhut menyangkal kesepakatan tersebut. “Itu kesepakatan yang illegal dan disalah-gunakan,” begitulah kira-kira pernyataan pihak Kemenhut.

Petani pun meradang. “Mana mungkin kesepakatan yang mereka buat sendiri, yang disepakati dan ditandatangani Sekjen Kemenhut RI, yang disaksikan oleh Dirjen-Dirjen, tibat-tiba dinyatakan illegal. Ini keblinger,” kata Mawardi, Ketua PRD Jambi, memprotes pernyataan pihak Kemenhut.

Kata Mawardi, kalau kesepakatan tanggal 16 Desember itu dinyatakan illegal, berarti pejabat Kemenhut yang turut menyetujui, membubuhkan tanda-tangan, dan menyaksikan kesepakatan itu juga bersifat illegal. Mawardi tak habis fikir kenapa Menhut RI begitu gampangnya mengingkari kesepakatan bersama.

Petani pun memilih bertahan di depan kantor Kemenhut. Mereka lantas membangun tenda di depan kantor Kemenhut. Tenda-tenda tersebut dibangun di atas lahan kosong di depan Kemenhut, dengan diapit oleh jalur kendaraan dan kereta api.

Sementara, di dalam tenda, para petani hanya mengandalkan terpal. Kondisi mereka cukup memprihatinkan. Kondisi cuaca Jakarta, yang sering menurunkan hujan lebat, juga memperburuk kondisi petani. “Hampir setiap hari hujan deras mengguyur tenda-tenda kami. Tak jarang di dalam tenda ikut tergenang air. Kami harus menunggu kering supaya bisa berbaring dan tidur,” kata Utut.

Kondisi ini berpengaruh pada kondisi kesehatan petani. Hingga kemarin, sudah ada 10 petani yang jatuh sakit: satu orang ibu-ibu, satu orang anak kecil, dan 8 orang pria dewasa. Mereka umumnya mengeluhkan cuaca buruk dan kondisi tenda yang sangat tidak memadai.

Meski demikian, pintu hati nurani penguasa, termasuk Menhut Zulkifli Hasan, seakan tak terketuk. Bukannya merespon tuntutan petani, eh, si Menhut Zulkifli Hasan malah menuding petani sebagai “perambah hutan”. Tudingan itu benar-benar menyayat perasaan petani.

“Sejak tahun 1986 tanah kami dirampas. Kampung kami dihancurkan. Kuburan leluhur kami dihancurkan dan kemudian ditanami sawit. Jadi, kalau Menhut menuduh kami perambah hutan, itu sangat kurang ajar. Menhut Zulkifli Hasan itulah yang perambah hutan secara legal,” kata Kutar Johar saat konferensi pers di kantor PRD menanggapi pernyataan Menhut, Sabtu (24/11/2012).

Ini sudah memasuki hari ke-9 aksi petani Jambi di Jakarta. Berbagai rintangan, baik kondisi alam, keterbatasan logistik maupun tekanan penguasa, tak menyurutkan semangat mereka. Mereka sudah bertekad: pantang pulang sebelum membawa menang!

Tadi malam, sekitar pukul 10 lewat, seorang ibu bernama Murniati tertabrak moto saat hendak menyebrang jalan. Ia pun segera dilarikan ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan. Lokasi tenda petani, yang diapit oleh jalur kereta dan kendaraan umum, sangat rawan kecelakaan. Apalagi, ada beberapa anak-anak kecil yang turut menyertai aksi ini.

Ya, inilah mungkin yang disebut “Vivere Pericoloso”, hidup selalu menyerempet bahaya dan berbagai resiko hidup. Dan vivere pericoloso adalah proses dialektik untuk bergerak maju!

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut