Jalan Politik Nelson Mandela

Nelson Mandela, yang meninggal dunia tanggal 5 Desember 2013, meninggalkan banyak warisan politik bagi dunia. Dia tidak hanya dikenal sebagai pejuang anti-apartheid, tetapi juga seorang nasionalis dan humanis radikal.

Bila sastrawan Inggris William Shakespeare menyepelekan arti sebuah nama, tetapi bagi Mandela justru penting. Ketika ia dilahirkan tanggal 18 Juli 1918 di  Mvezo, sebuah desa kecil di Sungai Mbashe di Provinsi Eastern Cape, Afrika Selatan, ayahnya memberi nama “Rolihlahla”.

Tentang namanya itu Mandela menulis, “dalam bahasa Xhosa, Rolihlahla secara harafiah berarti ‘dia yang mematahkan batang pohon’, tetapi makna lokalnya lebih dekat ke ‘agitator’.” Jadi, sejak dilahirkan, Mandela diharapkan menjadi agitator.

Namun, ketika Mandela memulai hari pertamanya di sekolah dasar, gurunya memberi nama: Nelson. Memang ada keharusan saat itu, terutama di sekolah-sekolah Inggris, bahwa setiap murid harus mengenakan nama Kristen.

Politik Revolusioner

Mandela mengambil haluan revolusioner sejak terjun ke gelanggang politik di tahun 1940-an. Ia bergabung dengan Kongres Nasional Afrika (ANC) tahun 1942. Dua tahun kemudian, Mandela juga turut menggawangi berdirinya sayap pemuda ANC.

Awalnya, Mandela menyimpan keyakinan, bahwa sebuah tuntutan reformasi akan bisa mendatangkan kesetaraan ras. Namun, rezim Apartheid mengubur mentah-mentah mimpi itu. Ia juga sempat mengadopsi strategi non-kekerasan ala Gandhi untuk menumbangkan rezim apartheid di Afrika Selatan. Tetapi peristiwa “pembantaian Sharpeville” di tahun 1960 kembali mengubur strategi itu.

Mandela pun beralih ke strategi lain: perjuangan bersenjata. Ia mendirikan Umkhonto we Sizwe (Tombak Bangsa), sayap bersenjata ANC, yang melancarkan perjuangan bersenjata bagi rezim Apartheid. Pasukannya menghantam aset-aset bisnis dan aparat keamanan pendukung rezim apartheid.

Saat itu Mandela banyak mempelajari karya-karya Mao Zedong, Che Guevara dan Fidel Castro. Ia mengaku banyak terinspirasi oleh revolusi Kuba 1959 dan revolusi Aljazair 1962. Ia sempat mendapat pelatihan militer di Maroko dan Ethiopia. Sayang, tak lama setelah kepulangannya di Afrika Selatan, Mandela ditangkap.

Mandela mendekam selama 27 tahun di penjara. Kendati demikian, di dalam sel penjara yang sunyi, Mandela masih membacai karya-karya Che Guevara. “Revolusionerisme Che terlalu kuat bagi setiap sensor penjara yang mencoba menyembunyikannya dari kami,” kenang Mandela.

Tak hanya itu, Mandela juga menggeluti karya-karya Marx. Seperti diakuinya sendiri, “meskipun aku merasa sangat terdorong oleh Manifesto Komunis, tetapi aku sangat lelah dengan Das Capital. Namun, saya sangat tertarik dengan dengan gagasan masyarakat tanpa klas, yang menurut saya, sangat sejalan dengan kebudayaan tradisional Afrika.” (Raúl Cazal, 2013).

Partai Komunis Afrika Selatan (SACP), yang memainkan peranan vital dalam perjuangan pembebasan Afrika Selatan, beberapa hari setelah meninggalnya Mandela, mengkonfirmasi bahwa Mandela adalah anggotanya. Menurut SACP, pada saat penangkapannya di tahun 1962, Mandela menduduki jabatan anggota Komite Eksekutif Pusat SACP.

Namun, fakta itu tidak pernah diungkap semasa berkuasanya rezim apartheid. Sebab dikhawatirkan, bila keanggotaan Mandela di SACP terbongkar, maka hal itu bisa menjadi alasan politik bagi rezim apartheid untuk menggiring Mandela ke hukuman gantung.

Kontribusi Kuba

Mandela sangat mengakui kontribusi Kuba dalam perjuangan meruntuhkan rezim apartheid di Afrika Selatan. “Kawan kami Kuba, yang membantu melatih rakyat kami, yang memberi kami sumber daya yang membantu kami dalam perjuangan kami,” kata Mandela saat bertemu Fidel Castro di Havana, Kuba, tahun 1991.

Saat Mandela mendekam di penjara, Kuba terlibat dalam perjuangan pembebasan rakyat Afrika. Terutama Angola. Di tahun 1988, meletus pertempuran sengit di Cueto Cuanavale, Angola. Saat itu pejuang Kuba dan rakyat Angola berhasil melibas tentara Afrika Selatan yang didukung oleh tentara bayaran CIA.

Mandela mendengar kejadian itu. Di balik dinding selnya, Mandela menulis tentang pertempuran itu. “Ini adalah titik balik bagi pembebasan benua kami–dan juga rakyatku–dari bencana Apartheid,” tulis Mandela. Baginya, pertempuran di Cueto Cuanavale sama dengan pertempuran Lengingrad.

Kekalahan Tentara putih Afrika Selatan itu berpengaruh besar. Namibia akhirnya terbebas dari rezim apartheid Afrika Selatan. Selain itu, secara internal, rezim apartheid mulai menyadari ketidakmampuannya untuk melanjutkan pendekatan militer. Tak lama kemudian, rezim apartheid mulai membuka jalur negosiasi dengan ANC.

Untuk dicatat, sebanyak 2600-an pejuang Kuba menyerahkan nyawanya untuk perjuangan rakyat Afrika Selatan. Semuanya demi sebuah cita-cita: mengakhiri sistem apartheid dan kolonialisme di Afrika Selatan. Dan Mandela menaruh hormat setinggi-tingginya untuk patriotisme dan semangat internasionalisme Kuba ini. “Pejuang Kuba berbagi parit yang sama dengan kami dalam perjuangan melawan kolonialisme, keterbelakangan, dan apartheid. Kami bersumpah tidak akan melupakan contoh tak tertandingi dari internasionalisme ini,” kata Mandela dalam sebuah pidatonya di tahun 1995.

Bergeser Pandangan?

Tahun 1990, Mandela dibebaskan. Saat baru menghirup udara kebebasan, Mandela masih menjaga pemikiran radikalnya. Saat itu ia masih menegaskan komitmen ANC untuk melakukan nasionalisasi perbankan, tambang, dan industri besar.

Tahun 1994, Mandela dan ANC memenangi pemilu. Ia menjadi Presiden kulit hitam pertama dalam sejarah Afrika Selatan. Waktu itu, sikap Mandela mulai berubah. Komitmen partai untuk menghapus kemiskinan di Afsel, misalnya melalui Program Pembangunan dan Rekonstruksi (RDP), mulai pelan-pelan ditinggalkan. Agenda reforma agraria tidak berjalan. Struktur ekonomi apartheid nyaris tidak tersentuh.

Mandela sibuk dengan agenda rekonsiliasi. Ironisnya, para pelaku dan aparatus rezim apartheid nyaris tidak tersentuh hukum. Sementara borjuis hitam muncul sebagai penguasa baru. Juga banyak pejabat ANC yang mendadak kaya dan elitis. Cyril Ramaphosa, seorang elit tinggi ANC, terdaftar sebagai salah satu orang terkaya di Afsel.

Tanggal 11 Juli lalu, jurnalis progressif John Pilger menulis soal Mandela melalui artikel bertajuk Mandela’s greatness may be assured, but not his legacy. Di artikel itu Pilger menunjukkan salah satu potongan wawancaranya dengan Mandela. Saat Pilger menanyakan, mengapa semua kebijakan Mandela saat menjadi Presiden berbeda dengan apa yang diucapkannya tahun 1990, Mandela menjawab: “untuk negeri ini, privatisasi menjadi kebijakan fundamental.”

Thabo Mbeki, yang pernah menjadi Wakil Presiden di era Mandela, dengan bangga pernah mengatakan, “Panggil saja saya Thatcherite.” Tak heran, ketika Thabo menjadi Presiden di tahun 1998-2008, kebijakannya justru sangat neoliberal. Memang, menjelang pembebasan Mandela, para elit ANC–termasuk Thabo Mbeki–pernah membuat kesepatakan dengan negara-negara kapitalis Eropa. IMF menjanjikan dana untuk Afsel di tahun 1993. Kemudian elit ANC mendapat pelatihan ekonomi di AS, dengan Bank Dunia sebagai mentornya, supaya mereka bisa membentangkan tata-kebijakan ekonomi neoliberal di Afsel.

Pertanyaannya, apa yang menyebabkan Mandela meninggalkan keyakinannya di masa perjuangan?  Stephen Ellis, sejarawan banyak menulis soal ANC dan Afrika Selatan, mencoba memberikan jawaban ilmiah. Menurutnya, pada dasarnya Mandela adalah seorang yang sangat pro-Soviet. Namun, pada saat Mandela memangku jabatan Presiden, geopolitik dunia sudah berubah: Uni-Soviet, yang diharapkan menjadi sekutu Afsel, telah runtuh; sedangkan China sudah terang-terangan memeluk sistem pasar.

Di sisi lain, kata Ellis, kepemimpinan ANC sangatlah konservatif dan pragmatis. Begitu Mandela berkuasa, elit ANC sangat khawatir akan pandangan radikal Mandela. Karena itu, kata Ellis, elit ANC berusaha menjauhkan Mandela dari urusan pemerintahan dan partai. Bahkan saat Mandela menjadi Presiden.

Anthony Sampson, salah seorang penulis biografi Mandela, juga pernah mengungkapkan alasan mengapa Mandela mulai menggeser pandangannya. Menurut Sampson, pandangan Mandela soal pasar sangat berubah drastis usai mendapat nasehat dari pejabat China dan Vietnam. Sementara di kedua negeri itu, kendati mengaku masih menganut komunisme, tetapi terang-terangan merangkul sistem pasar.

Sebuah hipotesa lain mengatakan, Mandela ingin memenangkan secara mutlak isu-isu soal kesetaraan ras dan hak-hak demokratis melawan sisa-sisa kekuasaan apartheid. Karena itu, Mandela mengutamakan rekonsoliasi, tapi menunda pertempuran lain: mengubah struktur ekonomi apartheid dan sisa-sisa kolonial.

Penjelasan lainnya mengatakan, Mandela tidak bisa membendung munculnya kekuatan borjuis nasional di fase revolusi nasional, yang telah memainkan peran sebagai klas penindas yang baru di dalam kalangan bangsanya sendiri. Ironisnya, banyak borjuis baru ini adalah orang-orang di sekitar Mandela sendiri.

Memang, setelah pensiun dari posisinya sebagai Presiden, Mandela kembali agak kritis terhadap barat dan imperialisme. Di sebuah Forum Perempuan Internasional, Mandela berujar begini: “Jika ada negara di dunia yang berkomitmen terhadap kejahatan tak terkatakan di dunia ini, itu adalah Amerika Serikat. Mereka tidak peduli dengan kemanusiaan.”

Menjelang penyerbuan Irak oleh AS, Mandela juga masih mengeritik Bush dan menyebutnya orang yang tidak berpikir ke depan dan tidak mampu berpikir benar, sehingga tega menjatuhkan dunia dalam holocaust. Mandela juga mendukung perjuangan pembebasan Palestina. Kepada pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Yasser Arafat, Mandela mengatakan, “kemerdekaan Afrika Selatan tidak akan lengkap tanpa kemerdekaan Palestina.”

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut