Ironi Pertumbuhan Ekonomi

Ada yang menarik saat  mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyampaikan pidato kebudayaan di Jakarta (30/1). Ia menganjurkan agar pembangunan ekonomi tidak disandarkan pada angka-angka makro saja.

Maklum, Anwar Ibrahim punya pengalaman pahit soal angka-angka ekonomi yang fantastis itu. Saat dirinya menjabat Menteri Keuangan, sekitar tahun 1990-an, seorang pejabat perencanaan pembangunan (mirip Bappenas di Indonesia) memberinya laporan perkembangan ekonomi.

Angka-angka ekonomi yang dilaporkan sangat fantastis. Intinya, ekonomi Malaysia saat itu sukses besar. Lalu, tanpa disangka, sebuah kejadian mengharuskan Anwar mendatangi seseorang di daerah kantornya. Kebetulan, keluarga tersebut tinggal di daerah perkampungan sangat miskin.

Di situlah, dengan mata kepalanya sendiri, Anwar melihat realitas lain: jalan berlubang, parit tidak terurus, rumah rakyat yang tidak layak, dan penduduk yang miskin. Ia menemukan kenyataan yang tidak ditemukannya dalam angka-angka fantastis. Berbekal pengalaman itu, Anwar pun merumuskan program perumahan rakyat terbesar dalam sejarah Malaysia.

Pelajaran dari Anwar Ibrahim sangat menarik. Di Indonesia, para pejabat juga suka mengobral angka-angka fantastis: kemiskinan menurun, pengangguran berkurang, pertumbuhan ekonomi sangat spektakuler, dan lain-lain.

Banyak orang yang dibuat mabuk angka. Akhirnya, ketika fakta lain muncul di publik, seperti kasus pemulung yang ditayangkan oleh BBC Inggris, barulah semua orang menjerit kegemparan. Padahal, jika kita mau jujur, kemiskinan dan pengangguran itu sangat nyata di depan mata.

Pada tahun 2011, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat fantastis: 6,5%. Angka itu menempatkan kekuatan ekonomi Indonesia di urutan ketiga Asia. Selain itu, pemerintah juga dianggap sukses menekan angka kemiskinan hingga 12,3%. Sedangkan pengangguran berhasil diturunkan hingga 6,6%.

Anehnya, ketika angka pertumbuhan ekonomi menukik naik, indeks pembangunan manusia Indonesia justru terjun bebas. Pada tahun 2011, menurut laporan PBB, indeks pembangunan manusia Indonesia jatuh dari peringkat 108 menjadi 124.

Sementara itu, realitas lain memperlihatkan: PHK massal, sektor informal berkembang pesat, usaha menengah dan kecil gulung tikar, biaya kebutuhan hidup semakin tinggi, dan daya beli rakyat semakin menurun. Rasio gini Indonesia pada 2007 dan 2010 mencapai rekor tertinggi: 0,38 (BPS, 2011).

Lebih paradoks lagi: angka kemiskinan dilaporkan rendah, tetapi jumlah rakyat yang berebut program sosial sangat besar. Artinya, angka-angka versi pemerintah itu banyak manipulasinya.

Jika kita periksa, sebagian besar pemicu pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah: investasi asing, perdagangan internasional, dan konsumsi (pemerintah dan masyarakat).

Pertama, ekonomi Indonesia bertumpu pada modal asing. Bagi pemerintah dan sebagian orang, derasnya arus modal asing merupakan pertanda positif bagi pembangunan ekonomi. Akan tetapi, bagi kami, derasnya modal asing merupakan pertanda intesifikasi dan ekstensifikasi eksploitasi  sumber daya ekonomi dan kekayaan alam Indonesia.

Sudah banyak fakta tentang dampak negatif investasi: perampasan tanah rakyat, perampokan kekayaan alam, eksploitasi tenaga kerja melalui praktek upah murah, pengrusakan lingkungan, dan lain-lain.

Kedua, soal ekspor sebagai penggerak pertumbuhan. Faktanya: hampir semua ekspor Indonesia itu adalah bahan mentah: batubara, minyak, bauksit, minyak kelapa sawit, dan karet. Ini tidak berbeda jauh dengan model ekspor di jaman kolonial.

Keadaan itu menjelaskan perampokan kekayaan alam Indonesia. Contohnya: gara-gara pemerintah doyan ekspor gas mentah dengan harga murah, negara diperkirakan kehilangan Rp Rp410,4 triliun. Selain itu, kebiasaan ekspor bahan mentah membawa banyak kerugian: kehilangan nilai tambah, kehilangan lapangan pekerjaan, dan lain-lain.

Ketiga, konsumsi sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi, khususnya konsumsi masyarakat. Faktanya: sebagian besar pemicu konsumsi ini adalah kelompok masyarakat ekonomi atas dan menengah.

Selain itu, sebagian besar penggerak konsumsi itu adalah kredit, khususnya di pembelian kendaraan dan perumahan. Ini sebetulnya sebuah kegilaan: masyarakat kita, yang benar-benar konsumtif, dipaksa membeli di luar batas kemampuannya.

Kita juga tak bisa tutup mata dengan fakta lain. Kita sekarang pengimpor terbesar kebutuhan ekonomi yang sifatnya dasar: 53 persen garam, 60 persen kedelai, 30 persen daging, dan 70 persen susu. Sementara itu, harga-harga kebutuhan dasar di dalam negeri terus melonjak naik tak terkendali: harga beras naik 120 persen, kedelai 85 persen, telur 100 persen, cabai 120 persen, daging 90 persen, dan jagung 700 persen!

Dan, jangan lupa: 80 juta rakyat masih hidup gelap-gulita (tanpa listrik), 57 juta orang terancam tidak punya rumah, 60 juta rakyat Indonesia tidak menikmati air bersih, 75% rakyat Indonesia hidup di sektor informal.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut