Irasionalitas Serangan Balik ‘Pendukung PKS’

Tulisan saudara Jundi Rahman berjudul “Di Balik Suara Kelompok Kiri Agar PKS Dibekukan”, yang dimuat di bersamadakwah.com tanggal 13 Mei 2013, sangat penting untuk ditanggapi.

Tulisan itu sangat asumtif dan berbau fitnah. Memang, sejak Presiden PKS Luthfie Hasan ditangkap karena korupsi, orang-orang PKS dan simpatisannya giat bergerilya di media maya untuk menyelematkan citra partainya yang terkoyak.

Ironisnya, banyak artikel yang ditulis ‘orang-orang PKS’ itu berisi hoax. Yang terbaru, mereka menyebar foto memuat gambar dua orang: Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) dan Tony Saut Situmorang. Nah, si Tony Situmorang inilah, yang diduga anggota BIN, dianggap sering bolak-balik ke rumah Darin Mumtazah.

Cerobohnya, entah mereka verifikasi data atau tidak, foto orang yang dimaksud Tony Saut Situmorang itu adalah Saut Situmorang, sastrawan kiri yang tinggal di Jogja. Terang saja, Bung Saut Situmorang pun marah besar atas fitnah orang-orang PKS itu. (Baca di sini)

Nah, dalam kasus artikel Jundi Rahman ini, modusnya hampir sama. Kali ini, dia menuding orang kiri berada di balik tuntutan pembekuan PKS.  Sayangnya, seperti kebanyakan fitnah orang-orang PKS lainnya, Jundi juga tidak menyertakan dokumen atau statemen politik dari gerakan kiri yang dimaksud.

Bagi saya, artikel itu memang tidak disusun dari fakta, melainkan dari imajinasi sang penulisnya. Esensi imajinasinya sederhana: karena gerakan kiri tidak berkembang, sementara PKS berkembang pesat, maka dicarilah segala jalan untuk menjatuhkan PKS.

Ini memang kebiasaan kaum Wahabis, yang menolak rasio-ilmiah dan Ilmu Pengetahuan, kemudian bersandar pada “teori konspirasi” sebagai senjata pamungkasnya. Tapi, tak apalah, kita ladeni teori konspirasi yang irasional ini.

Memang, secara basis dukungan, PKS lebih unggul dibanding gerakan kiri di Indonesia. Namun, tidak adil membandingkan gerakan kiri dan PKS dalam perlombaan merebut massa.

Sejak orde baru hingga sekarang, gerakan kiri dan ideologinya adalah sesuatu yang dilarang di Indonesia. Bahkan, pasca reformasi 1998 hingga sekarang, aktivitas kaum kiri masih sering mendapat intimidasi, diteror, bahkan dibubarkan.

Untuk menghalangi rakyat bergabung dengan gerakan kiri, ditebarkan propaganda “Awas, PKI gaya baru!” dan lain sebagainya. Siapa yang tidak takut bila dicap PKI, bayangan orang adalah pembantaian massal tanpa pengadilan terhadap jutaan orang di tahun 1965/1966.

Sementara PKS bergerak bebas memanfaatkan hasil perjuangan mahasiswa dan rakyat—termasuk hasil pengorbanan dan darah kader-kader PRD di dalamnya—untuk mengembangkan organisasinya tanpa rintangan apapun. Jadi, tanpa ikut berjuang melawan orba, PKS memanen hasil perjuangan rakyat.

Sementara PKS, dengan ideologi agamanya, begitu mudah masuk ke tengah-tengah rakyat. Mereka cukup memantik sentimen agama untuk menarik orang ke gerbongnnya. Mereka bebas meneriakkan ideologinya ke mana dan pakai apa saja: mesjid, terbitan, buku-buku, kegiatan keagamaan, dan lain-lain.

Sementara ideologi kaum kiri, yakni marxisme, masih dianggap haram di Republik ini. Seperti anda ketahui, mempropagandakan marxisme di tempat umum, baik lisan maupun tulisan, bisa diganjar penjara paling minimal 7 tahun.

Di tahun 1920-an hingga 1960-an, ketika ideologi marxisme bukan ideologi terlarang, gerakan kiri tumbuh pesat. Bahkan, gerakan kiri lebih unggul ketimbang organisasi keagamaan. Pemerintan Republik pasca Proklamasi hingga 1960-an banyak diisi oleh kaum kiri. Bung Karno sendiri menyebut dirinya orang kiri.

Kemudian, Si Jundi Rahman—entah dapat data dari mana—menuding orang kiri memperalat ICW menyuarakan pembekuan PKS. Saya kira, ini fitnah keji yang tak islami. Apa untungnya orang kiri bila PKS dibubarkan? Memangnya, kalau PKS dibubarkan, massanya akan serta-merta pindah ke gerakan kiri?

Basis pendukung PKS dan gerakan kiri jelas berbeda. PKS tumbuh dari—meminjam politik alirannya Clifford Geertz—kalangan kaum santri. Sementara basis pendukung kaum kiri adalah kaum abangan: petani, buruh, kaum miskin kota, dan sektor kaum termarginalkan yang rasa keagamaannya sinkretik. Artinya, tidak ada korelasi langsung antara hilangnya PKS dari pangung politik dengan peralihan basis dan simpatisan mereka ke gerakan kiri.

Saya sendiri—yang merasa orang kiri—tidak setuju dengan tuntutan pembekuan PKS. Alasannya: praktek korupsi itu kesalahan segelintir pimpinan PKS. Kalaupun hasil korupsinya mengalir ke partai, belum tentu hal itu diketahui dan disetujui oleh seluruh anggotanya—diputuskan oleh kongres untuk korupsi, misalnya. Karenanya, membekukan PKS karena kesalahan segelintir pimpinannya sama saja dengan mencabut hak politik jutaan anggota dan simpatisannya yang tidak tahu-menahu.

Saya menyarankan kepada Jundi Rahman—juga orang-orang PKS yang sedang bergerilya di dunia maya—gunakanlah alasan rasional, ilmiah dan berbasis fakta untuk membela partai kalian. Jangan membela membabi-buta. Lagi pula, taktik terbaik dalam situasi begini adalah: bagaimana memperkecil musuh di satu sisi dan merangkul sekutu sebanyak-banyaknya di sisi lain.

Sigit Budiarto     

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut