Inilah Kronologis Pembubaran Aksi Pendudukan Rakyat Di Pelabuhan Sape Bima

Berikut ini adalah kronologis yang dibuat oleh warga dan aktivis Front Rakyat Anti Tambang (FRAT) Bima, Nusa Tenggara Barat:

Sabtu, 24 Desember 2011

00.00– 04.00 wita : Warga melakukan mobilisasi besar-besaran ke Pelabuhan Sape karena adanya isu penyerangan oleh aparat    kepolisian terhadap warga yang melakukan aksi pendudukan di Sape.

04.30 – 05.30 wita : Sebagian besar warga kembali ke wilayah lambu untuk mempersiapkan aksi besar-besaran di pagi harinya dan hanya menyisakan sekitar 300 orang massa di pelabuhan.

06.00 – 08.00 wita : Aparat kepolisian melakukan pengepungan terhadap massa yang bertahan dipelabuhan. Aparat kepolisian meminta massa untuk membubarkan diri, tetapi massa tidak menggubris permintaan tersebut massa karena tuntutan mereka belum dipenuhi. Mereka tetap melakukan aksi dengan duduk diam sebagai bentuk mereka menolak untuk membubarkan diri. Warga memutuskan melakukan aksi duduk dan tidak mau berkonfrontasi dengan kepolisian.

08.00 – 08.30 wita: Berbagai tindakan provokatif dilakukan oleh aparat kepolisian untuk memancing tindakan anarkis dari massa, tetapi masa tidak terpancing. Lalu, tiba-tiba seorang anggota kepolisian mencoba merebut senjata tajam yang di pegang warga. Di sini terjadilah insiden kecil dimana warga berusaha merebut senjatanya kembali.

08.30 – 09.00 wita : Sejumlah besar warga Lambu yang akan bergabung dengan massa aksi di pelabuhan tertahan oleh aparat kepolisian di Desa Soro. Akibatnya, terjadi bentrokan dan warga tidak bisa sampai ke pelabuhan. Sementara itu, aparat kepolisian yang berada di lokasi pelabuhan telah memulai aksi penembakan yang membabi buta dengan arah mendatar kepada massa aksi tanpa melakukan tembakan peringatan.  Setelah korban berjatuhan baru pihak kepolisian mengarahkan tembakannya ke udara dan akhirnya beberapa korban luka tembak di larikan ke RSUD Bima dan Puskesmas Wawo.

09.00 – 09.30 wita : Penangkapan dilakukan terhadap 20 orang massa aksi . Sementara aparat kepolisian melakukan pengosongan dan penyisiran di wilayah pelabuhan. Sejumlah massa aksi yang selamat dari pembantaian kembali ke desa Rato.

09.30 – 15.30 wita : Massa aksi yang kecewa akibat tindakan brutal aparat kepolisian yang mengakibatkan beberapa korban meninggal kemudian melampiaskan kekecewaan dengan melakukan aksi pengerusakan terhadap kantor desa Lanta, Kantor Desa Simpasai dan Kantor Desa Kale’o. Beberapa instansi pemerintahan di kecamatan Lambu juga tidak lepas dari amukan massa yang kecewa di antaranya Kantor UPT Dinas Pendidikan Kec. Lambu dan Kantor KUA Kecamatan lambu. Puncaknya, massa melakukan pembakaran terhadap MAPOLSEK Kecamatan Lambu.

15.30 – 18.00 wita : Warga kembali melakukan konsolidasi di Lapangan Lambu karena adanya isu penyisiran yang akan dilakukan oleh aparat kepolisian.

18.00 – 20.00 wita: Warga melakukan pemblokiran jalan masuk menuju wilayah Lambu dengan melakukan penjagaan ketat di setiap jalan masuk ke wilayah lambu.

Berikut nama korban penembakan oleh Polisi yang masih dirawat di RSUD Bima:

1. Dulana (23 Tahun) asal Desa Rato, Kecamatan Lambu.
2. Ibrahim Ama Lina (52 Tahun) asal Desa Rato, Kecamatan Lambu.
3. Iriani (50 Tahun) asal Desa Rato, Kecamatan Lambu.
4. Ilias (23 Tahun) asal Desa Rato, Kecamatan Lambu.
5. Kasma (45 tahun) asal Desa Rato, Kecamatan Lambu.
6. Ismail (55 Tahun) asal Desa Rato, Kecamatan Lambu.
7. Yaomin (27 Tahun) asal Desa Rato, Kecamatan Lambu.
8. Mahfud (25 tahun) asal Desa Rato, Kecamatan Lambu.
9. Sabati (23 tahun) asal Desa Rato, Kecamatan Lambu.
10. M Saleh Ama Hida (45 Tahun) asal Desa Rato, Kecamatan Lambu.
11. Hambali (20 Tahun) asal Desa Rato, Kecamatan Lambu.
12. Ridwan Ahmad (17 Tahun) asal Desa Sumi, Kecamatan Lambu.
13. M Ali (50 Tahun) asal Desa Sumi, Kecamatan Lambu.

Nama Korban Tewas:

Saiful (17), Arief Rahman (19), dan Syarifuddin.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Letek

    emang Pemerintah adalah anjingnya Pengusaha….
    kehancuran sistim di Indonesia telah terjadi secara besar-besaran…..bahkan Nilai-Nilai Pancasila diinjak,diludahi dan disobek habis-habisan….
    sebenarnya apakah itu tindakan Pancasialis????
    Para Elit-elit politik dan anggota dewan ngakunya bertuhan dan beragama???? tapi justru mereka tak bertuhan dan beragama…. Agama hanyalah topeng…
    Wahai Bapak Peresidenku…dimanakah hati nuranimu.

  • POLISI BAJINGAN,,, CUIH… RAKYAT DI PELABUHAN PELUH KERINGAT KERJA BANTING TULANG BAYAR PAJAK BUAT GAJI KAMU TA’I,, KAMU MALAH MENEMBAK MEREKA DENGAN KAYAK BINATANG BURUAN… DASAR BAJINGAN… SINI DUEL TANGAN KOSONG AMA SAYA..!!!!