Inilah 5 Hal Yang Bisa Membuat “Reshuffle” Kabinet Tidak Berguna

Dalam beberapa pekan terakhir, isu “reshuffle kabinet” berhembus kencang. Kabarnya, Presiden Joko Widodo dengan Wakil Presiden Yusuf Kalla soal reshuffle iini. Juga dengan sejumlah Menteri dan petinggi Partai Politik.

Reshuffle Kabinet memang hal lumrah. Terutama untuk mengkonsolidasikan ulang pemerintahan, termasuk partai-partai pendukung di dalamnya. Juga untuk memperbaiki kinerja pemerintahan. Namun, reshuffle kabinet juga menunjukkan kuatnya pertarungan dan tarik-menarik kepentingan antar elit dan kekuatan politik di dalam lingkaran kekuasaan.

Untuk pemerintahan Jokowi-JK sendiri, kalau reshuffle benar-benar terjadi, maka ini adalah yang kedua dalam usia pemerintahan mereka yang baru berumur 18 bulan.

Tentu saja, kita berharap reshuffle kabinet ini bisa efektif. Terutama untuk memastikan pemerintahan punya kabinet yang solid dan bisa bekerja untuk mewujudkan visi dan program pemerintah.

Untuk itu, semoga lima hal di bawah ini tidak terjadi dalam reshuffle kabinet kali ini:

Pertama, desakan reshuffle terjadi karena pertarungan kepentingan antar elit di lingkaran kekuasaan atau di partai-partai pendukung pemerintah. Bukan karena evaluasi Presiden atas kinerja Menteri dan kemampuan mereka bekerjasama di dalam Kabinetnya.

Apalagi, sudah pernah menjadi gosip umum bahwa ada “matahari kembar” di dalam pemerintahan. Kalau itu benar, maka reshuffle kabinet tidak akan pernah efektif. Sebab, itu hanyalah persaingan matahari kembar dalam berebut dominasi.

Belum lagi sekarang, hampir semua partai politik sudah merapat ke Jokowi-JK. Termasuk yang dulunya oposisi di Koalisi Merah Putih (KMP), seperti PPP, Golkar, PAN, dan PKS. Tentu saja, ada harga yang harus dibayar oleh Jokowi untuk partai-partai penumpang baru ini: jatah Menteri.

Kedua, menteri-menteri hasil reshuffle adalah titipan kekuatan politik tertentu atau hasil bagi-bagi kekuasaan. Nah, ini tentu sangat berbahaya. Jabatan Menteri bukan lagi pengabdian kepada pemerintah dan Negara, melaikan sarana melancarkan bisnis atau mencari proyek untuk mencoleng uang negara.

Ketiga, Menteri hasil reshuffle tidak punya visi yang sama dengan visi besar Jokowi-JK, yaitu Trisakti dan Nawacita. Belajari dari komposisi kabinet sebelumnya, banyak Menteri yang justru bervisi neoliberal dan anti-Trisakti. Mereka ini yang terus mendorong agenda-agenda neoliberal lewat Kementeriannya. Juga ada Menteri yang tidak punya visi sama sekali.

Keempat, reshuffle kabinet tidak disertai dengan Jokowi-JK mengkonsolidasikan kekuasannya. Tanpa itu, kabinet akan tetap gaduh, tidak solid, dan tanpa arah.

Kelima, reshuffle tidak berhasil membangkitkan kembali harapan atau optimisme publik kepada pemerintah. Artinya, komposisi baru Kabinet seharusnya memancarkan harapan baru bagi publik. Jika ini tidak terjadi, maka reshuffle tentu tidak begitu efektif.

Muhammad Idris

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut