Indonesia Makin Terperangkap Utang

Masalah utang luar negeri kembali mengemuka akhir-akhir ini. Pemerintah kembali berencana menambah utang maksimal Rp 50 triliun. Konon, tambahan utang itu akan berbentuk SBN (surat berharga negara).

Dengan demikian, akumulasi utang pemerintah Indonesia sudah hampir mencapai rekor Rp 2.000 triliun. Artinya, setiap penduduk Indonesia akan menanggung utang lebih dari Rp 8 juta. Sungguh, sebuah kondisi yang memprihatinkan!

Menanggapi kenaikan utang ini, Presiden SBY kembali mengeluarkan jurus “menghindar”. Kepada wartawan, pada 13 Februari 2012 lalu, SBY menegaskan bahwa kendati utang Indonesia meningkat, tetapi rasionya terhadap PDB terus menurun.

“Tapi tolong lihat angkanya di 2011, utang kita Rp1.816 triliun naik Rp500 triliun, tapi PDB kita Rp7.226 triliun atau naik Rp5.000 triliun. Sehingga rasio utang turun jadi 25 persen,” demikian pernyataan Presiden SBY.

Betulkan asumsi Presiden itu?

Rupanya, penurunan rasio utang belum tentu pertanda “aman”. Pasalnya, ada banyak faktor lain yang mempengaruhi.

Salah satunya, kata Direktur Eksekutif Perhimpunan Prakarsa, Setyo Budiantoro, adalah kemampuan memperoleh pendapatan. Logikanya sederhana: jika kemampuan membayar atau tingkat pendapatan rendah, maka rasio utang rendah pun akan tetap berbahaya.

Di negeri-negeri maju, rasio utangnya bisa sangat tinggi, namun peringkat utangnya jauh lebih baik dari Indonesia. Setyo mencontohkan, di negara seperti Jerman, Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Belanda, rasio utangnya berkisar 40% hingga 80% terhadap GDP. Akan tetapi, lembaga pemeringkat Standard and Poor memberi negera-negara itu predikat peminjam terbaik (AAA).

Pasalnya, kemampuan membayar atau tingkat pendapatan di negera-negara tersebut memang cukup tinggi. Salah satunya adalah rasio penerimaan pajak terhadap PDB yang cukup tinggi, yakni antara 37% hingga 47%. Sedangkan rasio penerimaan pajak Indonesia hanya berkisar 12%.

Malaysia dan Thailand juga punya peringkat utang lebih baik dibanding Indonesia. Keduanya punya peringkat A- dan BBB+. Padahal, rasio utang Malaysia mencapai 54% dan Thailand sebesar 44% terhadap PDB. Tetapi rasio penerimaan pajak di kedua negara tetangga itu lebih besar dari Indonesia, yakni 19%.

Bahaya utang luar negeri juga diakui oleh ekonom kawakan Kwik Kian Gie. Kata Kwik, jumlah utang Indonesia sudah sangat membahayakan dan sulit untuk menemukan solusinya.

Apalagi, kata mantan Menko Perekonomian itu , hampir semua kekayaan alam Indonesia, termasuk sumber daya mineral di perut bumi, sudah habis dikuras oleh elit dan korporasi asing. “Ini sudah seperti lebih besar pasak daripada tiang,” katanya.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut