Indahnya Pemilu Presiden 2014

Tadinya tulisan ini mau saya beri judul ‘Seniman dan Pemilu Presiden 2014’, tapi setelah ditimbang-timbang judul tersebut kok tidak enak dan terdengar kaku. Akhirnya, dapatlah judul yang agak–agak nyastra dikit seperti judul sekarang ini.

Menurut saya, Pemilu Presiden 2014 yang sekarang tengah masuk masa kampanye, adalah satu momen politik yang indah dan sanggup menyedot perhatian masyarakat luas. Capaian atau perolehan suara partai-partai politik di pemilu legislatif lalu akhirnya mengerucut dan hanya memunculkan dua pasang calon presiden dan wakil presiden yang akan dicoblos rakyat pada 9 juli nanti.

Ini yang saya bilang sanggup menyedot perhatian khalayak karena calonnya hanya dua, yang pertama seorang Jenderal yang sosoknya ditangkap oleh masyarakat sebagai cerminan pemimpin yang tegas, kemudian satunya lagi adalah the rising star yang begitu populis dan simbol pemimpin yang merakyat, sehingga pemilih lebih mudah dan lebih fokus dalam menjatuhkan pilihan. Mungkin karena kita sudah biasa dengan yang simple-simpel,  yang gak perlu mikir banyak, sehingga ketika disodori pilihan Prabowo – Hatta atau Jokowi – JK, hawa politik Indonesia menjadi riuh. Saking riuhnya, menjadikan para pekerja seni di semua ranah (maaf.. yang biasanya apolitis) sepertinya harus “turun gunung” untuk bersikap dan memberi keindahan di pilpres tahun ini. Dari deklarasi kelompok lawak kawakan Srimulat sampai dukungan terbuka para komedian Betawi, dari deklarasi dukungan Paguyuban Kelompok Campursari hingga rapper Kill The DJ ikhlas mendedikasikan karyanya untuk kepentingan kampanye Pilpres 2014.

Saya juga akan menyinggung keterlibatan beberapa legenda di ranah musik Indonesia pada momentum pilpres ini. Saya sebut legenda karena memenuhi syarat, yakni punya basis penggemar luas – loyal dan karya – karya mereka abadi hidup di hati rakyat Indonesia. Pertama, Rhoma Irama, sang raja dangdut, adalah seniman yang politis, terlibat–terjun langsung dalam politik sejak awal tahun 1980-an, dulu jaman orde baru Soeharto dimana partai politik hanya (boleh) ada tiga, Rhoma Irama sudah jadi maskot kampanye Partai Persatuan Pembangunan, dimusuhi pemerintahan orde baru karena monolak bergabung dengan Golkar. Sekarang di pilpres 2014 langkahnya lebih agresif lagi dengan meramaikan bursa calon presiden, maju melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Kedua adalah Slank, band wakil suara hati kaum muda perkotaan, juga maju dalam sikap politik. Kemesraan Slank dan Jokowi memang sudah berlangsung lama, terbangun sejak Jokowi masih menjabat walikota, jalan kaki mendatangi konser Slank di Solo nonton berdesak–desakan bersama para slanker (sebutan untuk penggemar grup Slank), atau makan soto bareng. Hubungan mesra berlanjut kala Jokowi maju mencalonkan diri sebagai calon Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sowan ke Gang Potlot markas Slank. Dan di pilpres 2014 Slank–Jokowi kembali bertemu di Gang potlot, bersama bicara di hadapan pers dan Slank menyodorkan 46 nama negarawan yang mereka anggap pantas duduk di pemerintahan jika Jokowi terpilih menjadi Presiden RI. Dan kemesraan tadi seolah mencapai klimaks lewat konser musik “Revolusi Mental” di Parkir Timur Senayan, Slank bersama Ian Antono, Oppie Andaresta, Kla Project, /rif, Trio Lestari, Yukie Pas Band mengkongkritkan dukungan ke pasangan Jokowi–Jusuf Kalla dan menciptakan lagu Salam Dua Jari, Jangan Lupa Pilih Jokowi.

Legenda ketiga harusnya diisi oleh (siapa lagi kalau bukan) Iwan Fals, tapi apa boleh buat sang pelantun Oemar Bakrie tersebut (kembali) konsisten tidak bersikap di pilpres 2014, massa penggemar karya–karya Iwan Fals yang tergabung dalam Komunitas Orang Indonesia (Oi) mungkin sekarang tengah gelisah dan gatal karena merasa tidak bisa total ekspresi larut dalam keriuhan indahnya pesta demokrasi pilpres 2014.

Bentuk keindahan lain adalah kampanye kreatif dari tim relawan kedua belah pihak, bila dulu bentuk kampanyenya melulu konvensional seperti rapat umum dengan mengumpulan massa di lapangan, diisi pidato dan dangdut hiburan, era kini ada kreasi sablon gratis, komik, game online, kampanye online, download template desain, film, marching band, bagi – bagi susu, peluncuran maskot partai (Gerindra yaitu Mas Garuda), konser musik dukungan untuk tidak golput (Rock The Vote, Revolusi Harmoni dan sebagainya), stand up comedy, seniman ngamen blusukan keliling kampung menggalang dukungan sambil membagi selebaran berisi profil salah satu calon, performance art spontan, lomba seni rupa dan memajang seluruh karya yang terkumpul di posko relawan, juga video – video kreatif karya anak–anak muda bertebaran yang bisa kita tonton di channel youtube: ada parodi, sketsa visi misi, lagu dukungan dan sebagainya.

Amati juga kaos, stiker, spanduk, wallpaper monitor komputer atau laptop, avatar di jejaring sosial, tampilannya sangat ndesign sekali, tata letak dan pemilihan font, dari gaya comic art, shepard fairey style hingga pop art sungguh mewakili generasi muda terkini.

Indahnya pilpres 2014 ini juga karena yang bertarung adalah calon–calon nasionalis dimana partainya mengusung program–program kerakyatan yang pro kemandirian nasional sebagaimana ajaran Trisakti Soekarno. Bila kaum nasionalis yang menang maka teorinya semakin mudahlah membumikan cita–cita Soekarno yang menginginkan Indonesia bisa menjadi Negara maju, modern, makmur dan berdaulat–mandiri-berpribadi dalam politik-ekonomi dan budaya.

Terakhir, saya tidak akan mengarahkan Anda untuk mencoblos ke salah satu pasangan calon presiden dan wakil, tapi dukungan atau pilihan Anda ada baiknya tidak terhenti setelah pencoblosan, juga bagaimana mengawal program–program kerakyatan pasangan yang terpilih menjadi kerja utama pemerintahan baru nanti. Ingat, politik (demokrasi) Indonesia tidak bisa sendirian melangkah di jalan sunyi, Prabowo atau Jokowi boleh saja saklek akan memulai cita–cita menuju Indonesia yang berdaulat, tapi itu tidak serta merta mudah mewujudkannya, karena mereka akan berhadapan langsung dengan dikte kekuatan–kekuatan asing (imperialisme) yang berkeinginan terus menjajah ekonomi, politik dan budaya Indonesia, dan notabenenya ada di lingkaran maupun di luar lingkaran koalisi yang dibangun PDI P dan Partai Gerindra.

Bekasi, 14 Juni 2014

Tejo Priyono, Pengurus Pusat Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker)

[email protected]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut