Chavez Belum Bisa Hadiri Pelantikan

Chavez-kampanye-2

Hugo Chavez, yang terpilih kembali sebagai Presiden Venezuela melalui pemilu Oktober 2012 lalu, menyatakan belum bisa menghadiri acara pelantikan dan diambil sumpahnya.

Kepastian itu disampaikan oleh Wakil Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, melalui surat kepada Presiden Majelis Nasional, Diosdado Cabello, Selasa (8/1).

Surat Maduro itu mengatakan, “Presiden (Hugo Chavez) meminta agar menginformasikan bahwa, berdasarkan rekomendasi tim medis yang mengontrol kesehatannya, proses pemulihan pasca operasi masih diperpanjang melebihi tanggal 10 Januari. Untuk itu, dia tidak bisa hadir di Majelis Nasional.”

Maduro menegaskan, pengambilan sumpah terhadap Presiden Hugo Chavez bisa dilakukan di lain waktu. Ia merujuk pada konstitusi pasal 231, bahwa pengambilan sumpah akan dilakukan pada 10 Januari sebelum Majelis Nasional, tetapi kalau Presiden terpilih tidak bisa melakukannya karena sesuatu hal, maka pengambilan sumpah bisa dilakukan sebelum Mahkamah Agung.

Merespon permintaan itu, Ketua Majelis Nasional Diosdado Cabello mengatakan, “Presiden Chavez, majelis ini mengakui bahwa kau butuh waktu untuk lebih baik dan pulih.” Menurut jadwal resmi, Presiden Hugo Chavez seharusnya dilantik pada tanggal 10 Januari 2012 besok.

Rencananya, Majelis Nasional akan melakukan pemungutan suara Selasa (8/1) malam untuk memutuskan apakah permintaan dari Nicolas Maduro tersebut. Untuk diketahui, Majelis Nasional didominasi oleh partai pendukung Chavez, Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV).

Tidak Ada Kekosongan Kekuasaan

Pihak oposisi berpendapat, jika Chavez tidak dilantik pada tanggal 10 Januari mendatang, maka Venezuela mengalami “kekosongan kekuasaan”.

Karena itu, Henrique Capriles, salah seorang tokoh oposisi, meminta agar Ketua Majelis Nasional agar bertindak sebagai pejabat sementara hingga digelarnya pemilu baru dalam 30 hari.

Tetapi pemerintah bersikeras bahwa pelantikan Presiden hanyalah formalitas belaka. “Jangan membuat menghianati suara rakyat. Hormatilah demokrasi,” kata Maduro merujuk pada hasil pemilu demokratis pada Okteber 2012 lalu yang memenangkan Chavez.

Nicolas Maduro menuding teori “kekosongan kekuasaan” yang dikumandangkan oposisi sebagai isyarat kudeta terhadap pemerintahan Hugo Chavez.

“Mereka melancarkan opensif nasional dan internasional melawan rakyat Venezuela. Dan berusaha mengambil keuntungan dalam situasi ini untuk mengacaukan Venezuela dan menghentikan revolusi Bolivarian,” kata Nicolas Maduro.

Dalam pemilu itu, Chavez memenangkan pemilu dengan 54,44%. Sedangkan lawannya, Henrique Capriles, meraih suara sebesar 45%. Partai pendukung Chavez, PSUV, juga menang mutlak dalam pemilu regional bulan Desember lalu.

Mobilisasi Umum Untuk Chavez

Menghadapi berbagai manuver dari pihak oposisi, PSUV telah menyerukan mobilisasi umum pada tanggal 10 Januari 2012, sekitar pukul 10.00 pagi, di depan istana Miraflores.

“Semua orang, datanglah ke Caracas…untuk mendukung Presiden Chavez…dengan turun ke jalan…untuk menunjukkan kehendak rakyat, yang diekspresikan pada pemilu 7 Oktober lalu, dihormati,” kata Wakil Presiden PSUV, Diosdado Cabello.

Cabello mengingatkan, pihak oposisi telah menyerukan “pemogokan sipil” yang dimulai dari tanggal 10 Januari hingga seterusnya. “Jika itu terjadi, rakyat harus turun ke jalan untuk mengalahkannya dan menghentikan segala upaya oposisi menggoyang pemerintahan,” katanya.

Pihak oposisi memang tidak membuat pengumuman secara resmi, tetapi sudah menyebar-luaskannya melalui jejaring sosial.

Chavez sendiri masih menjalani proses pemulihan pasca operasi di Havana, Kuba. Meski berjuang melawan penyakitnya, Chavez tetap menyimak perkembangan di negerinya. Ia juga rajin mengirimkan ucapan dan seruan kepada rakyatnya.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut