Hentikan Privatisasi Krakatau Steel!

Pada masa Bung Karno, sebagai dasar untuk membangun ekonomi dalam negeri yang kuat dan mandiri, maka berdirilah pabrik Baja Trikora pada 1962, lalu berubah nama menjadi PT Krakatau Steel.

Meski cita-cita Bung Karno tidak pernah dilanjutkan oleh rejim-rejim sesudahnya, namun PT. Krakatau Steel tetap memiliki kapasitas produksi mencapai 2,5 juta ton per tahun dan merupakan industri baja terpadu terbesar di Asia Tenggara.

PT Krakatau Steel memiliki enam pabrik berbasis baja, yaitu: Pabrik Besi Pons, Pabrik Billet Baja, Pabrik Batang Kawat, Pabrik Slab Baja, Pabrik Pengerolan Baja Canai Panas (HSM), dan Pabrik Pengerolan Baja Canai Dingin (CRM).

Dalam ekonomi nasional, PT. Krakatau Steel memegang peranan yang menentukan, yaitu memegang 60% kebutuhan baja nasional dan menjadi basis untuk kepentingan industrialisasi di dalam negeri. Hampir 95% peralatan logam yang dipergunakan manusia berasal dari baja, sehingga industry baja sangat penting bagi perekonomian suatu bangsa.

Sayang seribu sayang, potensi besar dan peran strategis PT.Krakatau Steel hendak dikubur selamanya oleh rejim SBY-Budiono dengan rencana privatisasi terhadap perusahaan baja nasional ini. Rencana ini sudah tercetus sejak tahun 2008, ketika SBY berniat mengobral 44 BUMN Indonesia kepada asing, yang mana PT. Krakatau Steel masuk di dalamnya.

Untuk menjalankan ambisi privatisasi ini, pemerintah telah memilih opsi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham PT Krakatau Steel. Dan, entah bodoh atau disengaja, kementerian BUMN sudah menetapkan harga penjualan saham Krakatau Steel sebesar Rp850 per lembar. Sebuah harga penawaran, yang mengutip ekonom Drajat Wibowo, “sangat kebangetan” dan berpotensi merugikan negara trilyunan rupiah.

Dengan begitu, PT. Krakatau Steel yang dibangun dengan bersusah payah semasa Bung Karno, telah dijual dengan enteng dan dengan harga sangat murah alias obral kepada pihak asing. Inilah watak neoliberal pemerintahan sekarang ini.

Privatisasi merupakan pengambil-alihan swasta terhadap kekayaan kolektif dan kepemilikan publik, termasuk simpanan publik, tanah, mineral, hutan, dana pensiun. Ini merupakan bagian dari strategi imperial untuk menghancurkan kapasitas produktif nasional dan menguasainya.

Padahal, mengingat posisi strategis Krakatau Steel untuk kepentingan nasional, maka perusahaan baja ini tidak boleh dijual. Apalagi, seperti dikatakan Drajat Wibowo, politisi asal PAN, kinerja keuangan Krakatau juga tak buruk-buruk amat. Pada semester I 2010, produsen baja yang berpusat di Cilegon Banten ini mampu meraup laba bersih hampir Rp1 triliun.

Alih-alih bisa menciptakan kompetensi manajemen, kemampuan mencipta, daya saing produk, optimalisasi utilitas aset negara, dan kesejahteraan masyarakat, privatisasi justru menciptakan pemecatan massif (PHK), penutupan industry, mengasingkan masyarakat, dan sarang korupsi. Sebaliknya, di negara-negara yang memperkuat peran BUMN-nya seperti Tiongkok, perekonomian mereka cukup kebal terhadap serangan krisis ekonomi global.

Jika diperiksa lebih jauh, penyebab kemunduran Krakatau Steel ada di kesalahan kebijakan pemerintahan SBY. Pertama, Krakatau Steel mengalami kekurangan pasokan bahan baku, seperti bijih besi, bijih mangan, bijih chrom, bijih nikel, kapur dan dolomit. Keseluruhan bahan baku itu dapat disediakan oleh alam Indonesia, namun pemerintahan SBY-lah yang mengekspornya dengan harga sangat murah ke luar negeri.

Kedua, produksi Krakatau Steel terkendala oleh kurangnya pasokan energy, khususnya listrik, sehingga industri baja tidak bisa beroperasi secara maksimal. Sayang sekali, lagi-lagi SBY membuat kesalahan ketika mengekspor murah batu bara Indonesia ke luar negeri.

Ketiga, kurangnya pengembangan industri bahan baku baja di dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Kita tidak dapat menyandarkan penguatan ekonomi dan pengembangan industry nasional kepada rejim yang abai terhadap kepentingan nasional, yaitu rejim SBY-Budiono yang neoliberal. Hanya dengan pemerintahan yang menjalankan Trisakti, seperti yang dicita-citakan Bung Karno, bangsa Indoensia bisa membangun industri nasional dan perekonomian yang kuat. Merdeka! 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut