Hemingway & Gellhorn: Tinta, Cinta, Dan Perang

Hemingway & Gellhorn (2012)

Sutradara: Philip Kaufman
Penulis: Jerry Stahl, Barbara Turner
Tahun Produksi: 2012
Durasi: 154 menit
Pemain: Nicole Kidman, Clive Owen dan Parker Posey

Anda kenal Ernest Hemingway? Dia adalah penulis besar dunia kelahiran Amerika Serikat. Karya-karyanya masih berpengaruh besar hingga kini. Salah satu karya besarnya, The Old Man and the Sea, mendapat penghargaan Nobel pada tahun 1954.

Nah, sutradara film Amerika, Philip Kaufman, sudah mengangkat sepotong kisah hidup penulis besar Amerika itu ke layar lebar. filmnya berjudul Hemingway & Gellhorn. Film ini khusus mengangkat kisah asmara antara Hemingway (Clive Owen) dengan wartawan perang, Martha Gellhorn (Nicole Kidman). Nantinya, Gellhorn menjadi istri ketiga Hemingway.

Film ini dimulai dengan pertemuan keduanya di Key West, Florida, tahun 1936. Saat itu, Hemingway sudah punya istri, Pauline, seorang katolik yang taat. Keduanya kembali bertemu saat meliput perang sipil di Spanyol. Saat itu, Hemingway sedang menjadi sutradara film. Sedangkan Gellhorn menjadi koresponden Collier’s magazine.

Hubungan keduanya menjadi cukup akrab. Keduanya tinggal di hotel yang sama: Hotel Florida di Madrid. Keduanya juga sering melakukan liputan bersama. Di situ, Hemingway tampak sebagai mentor bagi Gellhorn.

Namun, film ini tak sekedar soal relasi asmara dua aktor utamanya. Namun, lebih dari itu, film ini juga memperlihatkan lebih dekat kepada kita tentang kebangkitan rakyat Spanyol melawan fasisme Jenderal Franco. Ini perang kaum Republik melawan Fasis. Anda bisa melihat potongan-potongan gambar asli mengenai antusiasme revolusioner rakyat menentang kekuasaan fasisme.

Hemingway dan Gellhorn sama-sama anti-fasis. Hemingway digambarkan sebagai seorang realis, kritis, dan satire. Sedangkan Gellhorn terlihat sebagai seorang perempuan muda yang humanis, idealis, dan cukup politis.

Dalam sebuah adegan, Hemingway mengambil gambar pertempuran antara pejuang-pejuang anti-fasis (partisan) melawan fasis. Pertempuran menyebabkan banyak korban berjatuhan di barisan anti-fasis. Tiba-tiba seorang pejuang anti-fasis terkena tembakan—sempat tertangkap kamera—dan terjatuh. Hemingway sempat membantu orang itu sebelum menemui ajalnya. Emosi anti-fasismenya bangkit. Hemingway mengambil senapan dan maju ke medan pertempuran.

Pada bagian lain, pesawat tempur fasis memborbardir kota Madrid. Korban berjatuhan. Rakyat berlarian kesana-kemari untuk menyelamatkan diri. Di tengah kepanikan itu, Gellhorn mendengar tangis anak-anak memanggil ibunya. Ia berlari menuju sumber tangisan itu. Didapatinya seorang anak duduk sambil menangis disamping mayat ibunya. Gellhorn mengambil anak itu dan membawanya ke hotel.

Keduanya jelas-jelas memihak: pejuang anti-fasis; atau lebih tepatnya, memihak kemanusiaan. Jurnalisme memang akan menjadi absurd jika berusaha bersikap dua sisi dalam situasi seperti itu. Seperti diucapkan Gellhorn dalam sebuah adegan: “Fuck all your objectivity shit!”

Hubungan asmara keduanya terbentuk tatkala Hotel Florida dibombardir. Tatkala bom meluluh-lantakkan sebagian bangunan hotel, Hemingway dan Gellhorn asyik bercinta. Keduanya pun saling jatuh-cinta. Inilah kisah cinta dua orang yang dipersatukan oleh pekerjaan tinta: penulis dan jurnalis.

Hubungan keduanya makin teras pasca kepulangannya dari Spanyol. Hemingway digugat oleh istrinya, Pauline. Ini membuka jalan bagi pernikahan Hemingway dan Gellhorn. Namun, hubungan pasangan ini penuh ketegangan. Bagi Hemingway, Gellhorn adalah sumber inspirasi.

Bulan madu keduanya dihabiskan dengan meliput serbuan Jepang ke Tiongkok. Diceritakan pertemuan antara Gellhorn—ditemani Hemingway—dengan istri Chiang Kai Shek. Kemudian, tiba-tiba Hemingway mendapat undangan untuk bertemu dengan salah satu tokoh partai Komunis Tiongkok, Zhou Enlai. Gellhorn menaruh simpati besar terhadap Zhou Enlai. Ia menyebutnya “pria penuh kharisma”.

Beberapa tahun kemudian, hubungan keduanya makin tegang. Hemingway banyak menghabiskan waktu dengan mabuk. Sedangkan Gellhorn tak bisa mengubur cita-citanya meliput setiap perang yang terjadi di berbagai belahan dunia. Keduanya pun bercerai.

Hemingway menikah lagi dengan Mary Welsh. Sedangkan Gellhorn terus melanjutkan pekerjaannya. Ia meliput kamp konsentrasi NAZI di Dachau. Laporannya berjudul “The Face of War”  muncul tahun 1959.

Film ini cukup menarik. Salah satunya karena film ini juga memasukkan gambar-gambar dan dokumen asli. Sayang, terkadang alur film ini agak membingungkan. Apalagi, jika tak memahami rangkaian kejadian. Selain itu, karena film ini merupakan narasi atau sesuatu yang diceritakan Gellhorn, maka sudah pasti agak subjektif.

Tapi, untuk diketahui, Gellhorn sebetulnya juga pernah ke Indonesia. Itu terjadi kira-kira tahun 1946. Ia meliput perjuangan rakyat Indonesia melawan kolonialisme. Terhadap itu, Gellhorn sangat simpatik dengan rakyat Indonesia. Gellhorn pernah melihat langsung Bung Karno berpidato di sebuah rapat umum. Dalam tulisannya Gellhorn memuji Bung Karno sebagai “orator hebat”. Tidak hanya itu, Gellhorn juga pernah ikut rombongan Bung Sjahrir saat ke ibukota Republik di Jogjakarta.

Kusno, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut