Hancurnya Produksi Gula Nasional

Ketika kolonialisme masih bercokol di Indonesia, tepatnya tahun 1930-an, negeri ini sempat menjadi pengekspor gula kristal putih (GKP) terbesar di dunia. Ketika itu, menurut catatan Wikipedia, Indonesia–saat itu bernama Hindia-Belanda–mempunyai 179 pabrik pengolahan dan sanggup memproduksi tiga juta ton gula per tahun.

Setelah sempat mengalami penurunan produksi karena krisis dan perang, Indonesia kembali menjadi merajai ekspor gula tahun 1957, setelah pemerintahan Soekarno menasionalisasi seluruh pabrik gula milik Belanda dan asing lainnya. Beberapa tahun kemudian, saat orde baru telah berkuasa, karena kurang memajukan industri gula dan pertanian tebu, maka produksi gula Indonesia pun stagnan. Sejak itu hingga sekarang, Indonesia sudah kesulitan mencapai swasembada gula.

Dengan massifnya praktek kebijakan neoliberal di Indonesia, produksi gula nasional juga semakin melorot. Untuk tahun 2010, misalnya, produksi gula nasional diperkirakan menurun sebesar 20%, dan karena itu, sulit untuk mencapai target produksi sebesar 2,9 juta ton. Untuk tahun 2011 ini, prediksi produksi gula semakin menurun dan sulit mencapai target.

Sementara itu, dengan mengambil dalih berkurangnya cadangan gula nasional, pemerintah telah menyetujui mengimpor gula kristal putih sebesar 450.000 ton. Kebijakan ini sudah berjalan sekarang, dengan melibatkan sejumlah importir, yang sebagian besarnya adalah kalangan pengusaha yang dekat dengan kekuasaan.

Asosiasi Gula Indonesia (AGI) telah mengeluarkan bantahan terkait klaim pemerintah mengenai menipisnya cadangan gula nasional. Menurut AGI, hingga februari 2011 ini, ketersediaan gula kristal putih (GKP) masih mencapai 3,64 juta ton (stok awal tahun 876.102 ton, perkiraan produksi GKP termasuk sisa tebangan 2010 sebanyak 2,62 juta ton, impor GKP 50.000 ton, dan kapasitas tidak terpakai pabrik gula 93.492 ton). Padahal, konsumsi gula kristal putih nasional hanya berkisar 2,44 juta ton, yang meliputi rumah tangga dan non-rumah tangga. Belum lagi, dalam beberapa bulan mendatang, gula akan memasuki musim giling.

Kebijakan impor gula ini, tidak lebih dan tidak kurang, adalah bentuk kepatuhan pemerintah pada skema liberalisasi impor, sebagaimana dianjurkan oleh negeri-negeri imperialis dan korporasinya. Lebih jauh lagi, kebijakan impor tanpa kendali ini juga punya misi untuk menghancurkan produksi gula nasional dan memusnahkan ratusan pabrik gula di seluruh Indonesia. Dengan membanjirnya gula impor di pasar dalam negeri, maka produksi gula nasional pun akan mulai kehilangan sebagian pasarnya.

Selain karena impor, penurunan produksi gula nasional juga disebabkan oleh hal-hal seperti: pertama, menurunnya produksi bahan baku gula, khususnya tanaman tebu. kedua, sebagian besar mesin pengolahan gula nasional adalah mesin tua, yang tidak pernah diupgrade sejak jaman orde baru hingga sekarang ini. Ambil contoh: dari sekitar 60 pabrik gula yang ada saat ini, sebagian besar diantaranya sudah berusia 80 tahun. ketiga, masih minimnya kredit pemerintah untuk industri gula dan petani tebu.

Jika kita mau produksi gula nasional bangkit lagi, maka usaha pertama yang mesti dilakukan adalah membatasi impor. Untuk itu, pemerintah harus mengeluarkan data pasti mengenai produksi gula nasional. Selain itu, sudah bukan saatnya pemerintah “buang muka” soal produksi gula nasional, tetapi seharusnya mulai merumuskan kebijakan untuk mengejar swasembada gula nasional, seperti memperluas areal perkebunan tebu rayat, memajukan teknologi dan industri pengolahan gula, dan memberikan dukungan kredit lunak kepada petani tebu dan industri.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • dulu di tahun 1930-an ada 179 pabrik gula.
    sekarang ada 60 pabrik gula.
    yg lainnya pada kemana?

  • kang tomo

    PG yang lain tutup. Umumnya karena kondisi peralatan yang sudah tua juga karena kapasitas terpasangnya sudah tidak ekonomis lagi, shg kalo dipaksakan beroperasi akan terus merugi.