Kelompok Negara BRICS Perjuangkan Perdagangan Global Yang Adil

Kelompok negara-negara yang tergabung dalam BRICS, yaitu Brazil, Rusia, India, China (Tiongkok), dan Afrika Selatan, akan berjuang keras tanpa kompromi untuk membuat kerangka perdagangan dunia yang adil saat pertemuan Doha mendatang.

Pernyataan ini salah-satunya dilontarkan oleh Menteri Perdagangan dan Perindustrian Afrika Selatan, Rob Davies,saat berbicara dalam pertemuan negara-negara BRICS di Sanya, Provinsi Hainan, Tiongkok.

Dengan keanggotaan 5 negara, juga mempunyai penduduk sekitar 3 milyar orang atau 43% dari jumlah penduduk dunia, BRICS ditantang untuk mengambil tantangan mengubah stuktur ekonomi dan geo-politik global yang timpang dan tidak adil.

Sementara Presiden Tiongkok, Hu Jintao, menyerukan adanya reformasi terhadap sistim keuangan dan moneter dunia. “Kami harus menciptakan perdagangan adil, merata, inklusif dan dikelola dengan sistim keuangan dan moneter internasional yang baik untuk mendukung pembangunan ekonomi global, dengan keterlibatan negara-negara ekonomi baru dan negara berkembang,” katanya.

Sejumlah kesepakatan diambil dalam pertemuan ini. Diantaranya: pertama, mengambil langkah-langkah untuk mengurangi kesenjangan pendapatan di negara masing-masing, meskipun sudah menerapkan kebijakan sosial untuk mencapai tujuan ini.

Kedua, negara-negara BRICS harus mendorong laju industrialisasi. Saat ini, stuktur inudustri di negara-negara ini masih bersifat produk ekspor dan padat-karya. Tetapi, untuk mengubah negara ini menjadi negara berpendapatan tinggi, maka struktur industri harus diubah menjadi industri berteknologi tinggi dan ekstensif.

Ketiga, kelima negara BRICS bersepakat memperbaiki sistim jaminan sosial mereka. Mereka berusaha keras untuk melakukan itu, tetapi mereka harus meningkatkan usaha mereka.

Keempat, mereka akan mengambil langkah untuk mengontrol inflasi. Dalam 10 tahun terakhir, Brazil merupakan negara paling sukses dalam mengontrol kebijakan makro-ekonominya. Tetapi, inflasi menjadi masalah serius bagi Tiongkok dan empat negara lainnya. Sebagai misal, kenaikan harga biji besi dan minyak impor telah mendorong kenaikan harga-harga bahan pokok di dalam negeri.

Kelima, kelima negara harus membendung aliran “uang panas” ke negeri mereka. Ini tentu merupakan tugas yang sulit, mengingat pesatnya pembangunan dan peluang investasi yang menjanjikan keuntungan sangat tinggi.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut