Gita Wirjawan ‘Menjual’ Soekarno Di WTO

Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO ke-9 sudah berlalu. Tetapi ada kisah dari pertemuan itu yang kurang diangkat media massa: adegan Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan, yang juga ketua panitia konferensi, dikejar-kejar oleh delegasi Kuba.

Peristiwa itu terjadi di akhir pertemuan WTO di Bali. Gita Wirjawan selaku Ketua Panitia memaksa menutup sesi sidang. Padahal, delegasi Kuba meminta kesempatan berbicara guna menyampaikan keberatannya terhadap sejumlah masalah.

Delegasi Kuba sangat kecewa. Akhirnya, ketika Gita keluar ruangan, delegasi Kuba mengejarnya. Sumber yang dikutip laman Aktual.co mengungkapkan, delegasi Kuba marah-marah. Mereka menuding Gita tidak fair. Tak hanya itu, delegasi Kuba memaksa Gita meminta maaf di depan semua delegasi.

Tetapi ada versi lain tentang kejadian itu. Menurut laman Jaringnews.com, untuk melunakkan delegasi Kuba, Gita Wirjawan bicara soal pertemanan Soekarno dan Fidel Castro. Tak hanya itu, bak penjilat kelas berat, Gita menyanjung kenikmatan cerutu Kuba yang melegenda. Alhasil, menurut Gita, sikap delegasi Kuba pelan-pelan luluh.

****

Apa yang disampaikan Gita itu tidak salah. Bung Karno memang berkawan akrab dengan Fidel Castro. Dalam surat-menyurat Bung Karno memanggil Fidel dengan sebutan “kawan”. Selain itu, Bung Karno juga berkawan baik dengan Che Guevara.

Lebih penting lagi, ada pertalian erat antara Revolusi Kuba dan Revolusi Indonesia, yakni sama-sama anti-kolonialisme, anti-imperialisme, dan mencita-citakan internasionalisme sejati. Dalam kerangka melawan imperialisme global, Indonesia dan Kuba sama-sama memprakarsai Konferensi Tiga Benua (Konferensi Trikontinental). Sering juga disebut: Konferensi Organisasi Setia-kawan Asia-Afrika dan Amerika Latin (AAA).

Hubungan Indonesia-Kuba sudah lama. Begitu Revolusi Kuba menang, Fidel langsung mengutus Che Guevara untuk membuka jalur diplomatik dengan Indonesia. Akhirnya, pada tahun 1959, Che berkunjung ke Indonesia dan bertemu Bung Karno.

Di Jakarta, Che berdiskusi panjang lebar dengan Bung Karno. Selain membahas soal revolusi di masing-masing negara, keduanya juga berbagi pandangan tentang situasi internasional. Tak hanya itu, Che sempat jalan-jalan ke Candi Borobudur.

Setahun kemudian, giliran Bung Karno yang mengunjungi Kuba. Turun dari pesawat, Bung Karno langsung disambut Fidel Castro, Che Guevara dan pemimpin Kuba lainnya. Sambutan rakyat Kuba pun sangat meriah. Pertemuan Bung Karno-Fidel sangat hangat. Bung Karno menghadiahi Fidel Castro dengan sebuah keris. Tak hanya itu, keduanya juga sempat bertukar tutup kepala: kopiah Bung Karno melekat di kepala Fidel, sedangkan topi militer Fidel terpasang di kepala Bung Karno.

Awal Oktober 1965, situasi politik di Jakarta berubah. Sebuah gerakan yang disusun sayap kanan, dengan Soeharto/AD sebagai aktor lapangannya, berusaha mendongkel Bung Karno. Saat itu Fidel sangat khawatir dengan nasib Bung Karno dan Revolusi Indonesia.

Awal Desember 1965, didorong oleh rasa khawatir itu, Fidel Castro menyambangi Kedubes RI di Havana. Saat itu, Dubes RI untuk Kuba dijabat oleh AM Hanafie, bekas aktivis Menteng 31. Saat itu Fidel menitipkan surat pribadinya kepada Bung Karno melalui Hanafie.

Bung Karno lalu membalas surat Fidel Castro itu di akhir Januari 1966. Di dalam suratnya Bung Karno menulis:

P.J.M. Perdana Menteri Fidel Castro, Havana

Kawanku Fidel yang baik!

Lebih dulu saya mengucapkan terima kasih atas suratmu yang dibawa oleh Duta Besar Hanafi kepada saya.

Saya mengerti keprihatinan saudara mengenai pembunuhan-pembunuhan di Indonesia, terutama sekali jika dilihat dari jauh memang apa yang terjadi di Indonesia – yaitu apa yang saya namakan Gestok dan yang kemudian diikuti oleh pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh kaum kontra revolusioner, adalah amat merugikan Revolusi Indonesia.

Tetapi saya dan pembantu-pembantu saya, berjuang keras untuk mengembalikan gengsi pemerintahan saya, dan gengsi Revolusi Indonesia. Perjuangan ini membutuhkan waktu dan kegigihan yang tinggi. Saya harap saudara mengerti apa yang saya maksudkan, dan dengan pengertian itu membantu perjuangan kami itu.

Duta besar Hanafi saya kirim ke Havana untuk memberikan penjelasan-penjelasan kepada saudara.

Sebenarnya Duta besar Hanafi masih saya butuhkan di Indonesia, tetapi saya berpendapat bahwa persahabatan yang rapat antara Kuba dan Indonesia adalah amat penting pula untuk bersama-sama menghadap musuh, yaitu Nekolim.

Sekian dahulu kawanku Fidel!

Salam hangat dari Rakyat Indonesia kepada Rakyat Kuba, dan kepadamu sendiri!

Kawanmu

ttd

Sukarno

Jakarta, 26 Januari 1966

Begitu Bung Karno digulingkan, lalu muncullah diktator Soeharto, politik Indonesia berubah total. Indonesia tidak lagi menyuarakan anti-kolonialisme dan anti-imperialisme. Tak hanya itu, sejak Soeharto berkuasa, praktek kolonialisme kembali direstorasi di Indonesia.

Sementara Kuba tetap kokoh di jalannya. Malahan, pada tanggal 3-12 Januari, Kuba menjadi tuan rumah Konferensi Trikontinental atau Konferensi Organisasi Setia-kawan Asia-Afrika dan Amerika Latin (AAA). Saat itu, Indonesia punya dua delegasi: delegasi yang dipimpin oleh Ibrahim Isa dan delegasi yang dipimpin oleh Brigjen Latif Hendraningrat. Delegasi Ibrahim isa mewakili politik Soekarno, sedangkan delegasi Brigjend Latif sudah disetir oleh ‘penguasa militer’ di Jakarta. Sebagai bentuk dukungan terhadap Soekarno, Panitia Konferensi yang diketuai oleh Kuba menolak delegasi Brigjend Latif. Alhasil, delegasi Brigjend Latif kembali ke Jakarta dengan tangan hampa.

Namun demikian, rasa hormat rakyat Kuba terhadap Indonesia dan Soekarno tidak lekang. Tahun 2008 lalu, pemerintah Kuba menerbitkan prangko bergambar Bung Karno dan Fidel Castro.

****

Yang menjadi masalah, Gita ‘menjual’ perkawanan Soekarno-Fidel Castro untuk memuluskan agenda WTO. Padahal, WTO jelas-jelas organisasi imperialis. Sejak berdirinya di tahun 1995, WTO menjadi alat negara-negara imperialis untuk memaksakan perdagangan bebas di seluruh dunia. Targetnya jelas: menjadikan seluruh bangsa-bangsa, termasuk bangsa dunia ketiga, sebagai pasar bagi produk dari negeri-negeri imperialis.

Di Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-9 WTO di Bali, delegasi Kuba bersikeras menolak draft mengenai fasilitas perdagangan, yang akan makin memperlancar barang-barang impor masuk ke negara-negara berkembang. Posisi Kuba didukung oleh Venezuela, Nikaragua, dan Bolivia.

Tak hanya itu, Kuba juga memprotes praktek diskriminatif WTO, yang tetap membolehkan subsidi pangan di negara-negara maju, sementara negara dunia ketiga dipaksa menghapus segala bentuk subsidi yang diperuntukkan untuk memperkuat cadangan pangannya.

Di WTO, Kuba juga bersuara lantang mengenai praktek embargo yang dijalankan AS terhadap negerinya. Pasalnya, selama ini prosedur mengenai embargo ekonomi terhadap sebuah negara tidak pernah jelas. Amerika Serikat sendiri sudah lima dekade lebih melakukan embargo terhadap Kuba.

Dampak embargo itu sangat mengerikan bagi rakyat Kuba. Menurut  Bruno Rodriguez Parrilla, Menteri Luar Negeri Kuba, akibat embargo illegal tersebut, perekonomian Kuba kehilangan 1,1 triliun dolllar AS. Tak hanya itu, kata Rodriguez, embargo itu juga mencegah Kuba bisa mengakses obat penyakit jantung dan AIDS untuk rakyatnya.

Salim Lamrani, seorang professor di Sorbonne Paris, mengungkapkan bahwa, akibat embargo ekonomi AS yang berlangsung lebih 50 itu, Kuba kehilangan 571 milyar dollar AS. Tak hanya itu, kata Lamrani, embargo itu berdampak ke semua sektor rakyat Kuba, terutama yang paling rentan: anak-anak, lansia, dan wanita. Juga 70% rakyat Kuba hidup dalam iklim permusuhan ekonomi permanen.

Ironisnya, demi memuluskan agenda “Paket Bali”, yang makin mendorong liberalisasi perdagangan global, Gita Wirjawan mengabaikan protes Kuba. Malahan, Ia mencoba membungkam delegasi Kuba dengan mengingatkan persahabatan Soekarno-Fidel Castro. Betapa naifnya: Soekarno dijual untuk memuluskan praktek neo-kolonialisme di berbagai belahan dunia. Termasuk Indonesia dan Kuba.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • mataniari hamonangan

    memalukan sekaligus menyedihkan, gita wirjawan ‘memanipulasi’ soekarno untuk memuluskan praktek neokolonialisme lewat pertemuan WTO. hal ini menunjukkan tidak adanya penghormatan apalagi pemahaman sejarah yang baik bahwa soekarno dan rakyat indonesia berjuang bersama-sama dengan fidel castro dan rakyat kuba melawan kolonialisme, imperialisme serta membangun persaudaraan/solidaritas internasional yang setara, saling menghormati, penuh kehangatan dan akrab. gita wirjawan, seperti menteri-menteri pembantu SBY lainnya, tidak memiliki perspektif ‘kemandirian, kedaulatan dan kepribadian nasional’. mereka semua -para menteri-menteri pembantu SBY- mengikuti sikap dan perilaku yang sama dari tuannya, SBY-BOEDIONO. bahkan dahlan iskan yang dikampanyekan sebagai menteri ‘low profile-high profit’ tidak mampu mengatasi konflik-konflik agraria yang melibatkan perusahaan-perusahaan milik negara, yaitu PTPN.
    artikel diatas makin menegaskan keyakinan kita bahwa ‘politik pencitaraan’ masih menjadi ‘role model’ para elite yang mencoba ‘peruntungan’ dalam pertarungan politik 2014 ini. jangan tertipu dengan ‘politik pencintraan’ yang dilakukan oleh gita wirjawan, dahlan iskan, aburizal bakrie, jusuf kalla, prabowo subianto, dan lain-lain. nama-nama yang disebutkan memang calon-calon presiden yang terus berusaha membangun ‘citra baik dan positif’ dimata publik. tetapi yang harus diingat adalah ‘sejauh dan sampai mana’ komitmen para calon presiden dan calon anggota parlemen mulai dari tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota tersebut berjuang untuk ‘kemandirian, kedaulatan dan kemandirian nasional’. kriteria tersebut harus menjadi “saringan” pertama sebelum masuk pada program-program mereka. rakyat harus terus dididik dan dibangun kesadaran politiknya untuk tidak kembali tertipu oleh ‘politik pencitraan’.

    salam hormat
    mataniari hamonangan