George Aditjondro, Penulis Berpena Tajam itu Sudah Pergi

George Junus Aditjondro (GJA), penulis yang dikenal berpena tajam terhadap kekuasaan politik yang korup, telah meghembuskan napas terakhirnya pada hari Sabtu (10/12/2016) pagi, sekitar pukul 04.45 WITA, di Palu, Sulawesi Tengah.

GJA lahir pada 27 Mei 1946 di Pekalongan, Jawa Tengah. Ia berpulang di usia 70 tahun. Sepanjang hidupnya, GJA banyak dikenal sebagai penulis kritis, aktivis sosial dan peneliti.

Tahun 1987, GJA menerima penghargaan lingkungan Kalpataru karena perhatiannya pada isu lingkungan. Namun, ketika Bob Hasan, salah satu kroni Soeharto, menerima penghargaan serupa di tahun 1997, GJA mengembalikannya.

GJA sempat bekerja sebagai wartawan Tempo. Tahun 1994 dan 1995, nama GJA mulai terkenal luas lantaran tulisan-tulisannya yang membongkar korupsi Orde Baru dan Timor Leste.

Lantaran itu, rezim Orde Baru mulai berusaha membungkamnya. Akhirnya, sejak 1995 hingga 2002 dia bermukim di Australia dan menjadi pengajar ilmu sosiologi di Universitas Newcastle.

Setelah rezim Orde Baru tumbang, GJA kembali ke tanah air. Sempat mengajar di Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta. Semangat menulis dan pikiran kritisnya tetap berkobar, hingga melahirkan banyak buku-buku penting.

Bukunya antara lain: Guru Kencing Berdiri, Murid kencing Berlari: Kedua Puncak Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme Rezim Orde Baru dari Soeharto ke Habibie (1998) dan Tangan-tangan berlumuran minyak : Politik minyak di balik tragedi Timor Lorosae (1999).

Tahun 2009, dia menulis buku yang menohok langsung keluarga Cikeas (merujuk pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarganya). Buku itu berjudul Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century.

Buku itu dilarang beredar dan dijual di toko buku. Namun, karena orang penasaran dengan isinya, banyak yang mengunduh versi PDF buku itu di internet.

Tahun 2011, kritik GJA kembali menyengat. Kali ini menyengat Keraton Yogyakarta. Dalam sebuah diskusi di UGM, GJA memplesetkan keraton dengan “kera yang ditonton”.

Lantaran itu, GJA dilaporkan oleh sejumlah pihak atas tuduhan pencemara nama baik. Gara-gara itu, GJA sempat jadi homeless di Yogyakarta karena diusir sekelompok orang.

Sejak tahun 2012, penyakit stroke menyerang tubuhnya. Dia mulai kesulitan berbicara. Tahun 2014, GJA meninggalkan Yogyakarta dan pindah ke Palu, Sulawesi Tengah.

Muhammad Idris

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut