FORSUB: Kebijakan SBY-Budiono Abaikan Kaum Tani

KENDARI (BO)- Front Rakyat Sultra Bersatu (FORSUB), yang menggelar aksi massa memperingati Hari Tani Nasional (HTN) hari ini (24/9), menganggap hampir semua kebijakan pemerintahan SBY-Budiono tidak memihak petani.

FORSUB memulai aksinya di depan pelataran Ex-MTQ Kendari, lalu setelah beberapa jam kemudian bergeser ke rumah jabatan Gubernur Sultra. Aksi damai ini dijaga ketat oleh pasukan gabungan Kepolisian dan Satpol PP.

Hasan, seorang aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), menganggap kebijakan SBY-Budiono sangat berbau neoliberal. Beberapa bentuk kebijakan neoliberal di bidang pertanian adalah penghapusan subsidi, liberalisasi impor, dan penerapan mekanisme pasar untuk produk-produk pertanian.

Ia juga menyoroti maraknya perampasan tanah rakyat, baik untuk kepentingan investasi maupun atas nama pembangunan.

Salah satu kasus yang diangkat dalam aksi ini adalah kasus perampasan tanah rakyat di Puosu Jaya, Kecamatan Konda, Konawe Selatan. Di sana, tanah milik masyarakat dirampas paksa untuk pembangunan markas Brimob Polda Sultra.

Persoalan lain yang disoroti massa adalah kebijakan Guburnur Sultra, Nur Alam SE, yang menjadikan provinsi ini menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pertambangan. “Gubernur Sultra lebih memperhatikan investor pertambangan daripada nasib rakyat yang dirampas tanahnya,” kata Susi, aktivis dari Sarekat Hijau Indonesia (SHI).

Dalam situasi itu, kata Susi, rakyat Sultra hanya mendapatkan kotoran-kotoran dari eksplorasi tambang, sedangkan keuntungannya dinikmati oleh investor dan segelintir elit.

Sementara itu, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), La Uwali, menyoroti tindakan SBY-Budiono yang mengkhianati konstitusi. “Sampai sekarang pasal 33 UUD 1945 tidak pernah dijalankan pemerintah. Bahkan buah tangan para pendiri bangsa itu dirombak agar sesuai dengan nafas liberalisasi,” katanya.

Ia juga mempersoalkan tidak dilaksanakannya UUPA 1960, sebuah produk hukum era Bung Karno yang berusaha membebaskan pertanian dari cengkeraman kolonialisme dan imperialisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut