Film Reportase “Bloody Sunday”

Bloody Sunday (2002)

Sutradara: Paul Greengrass
Penulis naskah: Paul Greengrass
Pemain: James Nesbitt, Nicholas Fareel, Declan Duddy, Gerard Crossan, Mary Moulds.
Durasi : 107 menit
Tahun Produksi: 2002

Anda pernah dengar peristiwa Bloody Sunday? Setidaknya, ada 3 peristiwa yang mengacu pada bloody Sunday. Pertama, terjadi pada 13 November 1887, di London, saat polisi menyerang pertemuan kaum sosialis di lapangan Trafalgar. Kedua, kejadian pada 22 Januari 1905, di St. Petersburg, Rusia, ketika demonstrasi damai anti-tsar dibantai dan kejadian ini turut menyulut Revolusi Rusia 1905. Ketiga, kejadian tragis pada 30 Januari 1972, di kota Derry, Irlandia Utara, saat militer Inggris menyerang pawai damai kelompok hak sipil.

Kelompok musik populer U2 menyanyikan “Bloody Sunday” mengacu pada peristiwa ketiga di atas. Kejadian itu menyebabkan 13 orang peserta pawai tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka. Kelompok band asal Irlandia itu pun menuliskan lirik lagunya begini:

I can’t believe the news today
Oh, I can’t close my eyes
And make it go away
How long…
How long must we sing this song
How long, how long…
’cause tonight…we can be as one
Tonight…

Ya, ini kejadian yang benar-benar memilukan. Sutradara film Inggris, Paul Greengrass, berhasil mengangkat kembali kejadian ini melalui film berjudul “Bloody Sunday”. Paul Greengrass, yang bekas jurnalis itu, menggunakan teknik reportase untuk menyegarkan kembali ingatan pembaca akan kejadian itu.

Greengrass mengangkat kejadian itu seperti repostase atau kronologis aksi. Ia menempatkan dirinya sebagai pencatat kejadian demi kejadian beberapa hari menjelang kejadian dan beberapa hari sesudahnya.

Ingin menampilkan objektifitas, Greengrass berusaha mengangkat kejadian ini dengan menampilkan dua sisi: penyelenggara aksi protes dan militer Inggris. Sepanjang 105 menit film itu, Greengrass berusaha konsisten dengan menampilkan dua sisi itu dalam laporan kronologisnya.

Film ini menampilkan beberapa sosok yang menonjol: Ivan Cooper (James Nesbitt), seorang anggota parlemen dari Partai Buruh Sosial Demokratik (SDLP), perwira militer Inggris seperti Mayor Jenderal Ford (Tim Pigott-Smith) dan Brigadier Maclellan (Nicholas Fareel), dan seorang pemuda berusia 17 tahun, Gerald Donaghy, yang terlibat kisah percintaan perempuan protestan.

Ivan Cooper adalah penyelenggara pawai damai Asosiasi Hak Sipil Irlandia Utara (NICRA). Ia adalah aktivis non-kekerasan dan sangat dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Martin Luther King. Seperti juga Martin Luther King, Ivan Cooper percaya bahwa berkumpul secara damai adalah sebuah jalan yang bisa membuat pengaruh untuk mendorong perubahan. Lagu “We Shall Overcome” karangan konposer Amerika Charles Albert Tindley, yang populer saat gerakan hak sipil yang dipimpin oleh Martin Luther King, berkali-kali dinyanyikan oleh aktivis NICRA.

“Kami akan berbaris secara damai,” kata Cooper dalam konperensi pers. Sedangkan militer Inggris, dalam hal ini Mayor Jenderal Ford, yang juga menggelar konferensi pers di tempat terpisah, menegaskan adanya larangan adanya pawai atau demonstrasi dalam bentuk apapun di Irlandia Utara.

Militer Inggris bereaksi berlebihan terhadap pawai damai itu. Mereka mengerahkan tentara, yaitu pasukan penerjun dari angkatan perang Inggris, dengan bersenjata lengkap dan menggunakan peluru tajam. Pasukan militer Inggris dikerahkan seperti “standar perang”. Padahal, mereka sedang berhadapan dengan demonstrasi damai tanpa kekerasan dan tidak bersenjata apapun.

Pawai pun jadi digelar. Sejak pagi 30 Januari 1972, ribuan rakyat—umumnya Katolik—kota Derry, Irlandia Utara, mulai berbaris. Makin lama barisan makin panjang hingga diperkirakan 20.000 rakyat berpartisipasi. Mereka berbaris menuju lapangan Guildhall, yang terletak di pusat kota.

Namun, saat barisan massa hendak melintasi William Street dan Rossville Street, dimana terdapat pos penjagaan pasukan Inggris, sejumlah demonstran justru terpecah dan berbaris ke pos penjagaan itu. Militer Inggris segera meresponnya dengan gas air mata, water canon, dan peluru karet.

Demonstran membalasnya dengan lemparan batu. Namun, entah kenapa, militer Inggris mengambil kesimpulan untuk mengerahkan pasukan bersenjata lengkap. Pasukan militer Inggris—layaknya dalam perang—menembaki demonstran tidak bersenjata. Bahkan, sejumlah demonstran yang tertembak adalah mereka yang berusaha menolong rekannya dan meneriakkan “Don’t Shoot!”.

Korban berjatuhan. Darah tercecer menggenangi jalan-jalan. Orang-orang berteriak histeris. Tetapi militer Inggris bertambah brutal dan terus menembaki orang-orang yang merunduk dan mencari perlindungan.

Demonstran damai, yang saat itu tidak terlibat bentrokan, juga ditembaki oleh militer Inggris. Betapa militer Inggris tidak punya standar etika dan nilai kemanusiaan sama sekali.

Greengrass, yang konon menggunakan kamera genggam, berhasil menyajikan reportase semi dokumenter tentang kejadian ini. Ia berhasil menaikkan emosi penonton untuk mengutuk kejadian ini. Dan memang pantas dikutuk!

Para pemirsa dari luar Eropa tentu akan menjadi faham betapa palsunya demokrasi dan kebebasan di barat itu. Untuk diketahui, militer dan pemerintah Inggris cukup lama menyangkal kejadian ini. Militer Inggris mengaku tidak memulai tembakan. Bagaimana bisa? Puluhan ribu orang menyaksikan kejadian itu dan tentu tidak akan lupa akan betapa barbarnya rejim kapitalis yang berkuasa di Inggris. Inilah kekerasan negara, dalam hal ini Inggris, terhadap rakyat tak berdosa.

Sehari setelah kejadian Bloody Sunday, markas IRA—organisasi pejuang bersenjata untuk kemerdekaan Irlandia—dibanjiri oleh para pemuda yang inggin mendaftar menjadi anggota IRA dan terlibat perjuangan bersenjata.

I can’t believe the news today…(U2)

RUDI HARTONO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut