Evo Morales Tunjukkan 5 Kehebatan Sosialisme Mengurus Ekonomi

Sejarah mencatat, banyak kudeta terhadap pemerintahan sosialis di bawah kolong langit ini dilatari oleh ketidakpuasan terhadap situasi ekonomi.

Jalan menuju sosialisme memang penuh onak. Selain berhadapan dengan sumber daya yang terbatas, terkadang kerja membangun sosialisme juga tak sepi dari gangguan. Ada banyak rintangan, dari sabotase, sanksi, blokade hingga embargo ekonomi.

Dalam situasi itu, kadang rakyat terpaksa menerima kenyataan: bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Tapi kadang urusan perut tak bisa bersabar. Pada titik itu, ditambah propaganda sayap kanan, muncul ketidakpuasan.

Dan biasanya, ketika ketidakpuasan mulai menjangkiti sebagian rakyat, maka terbitlah kudeta.

Tetapi kudeta terbaru terhadap pemerintahan sosialis Evo Morales di Bolivia justru sebaliknya. Kudeta justru terbit ketika kondisi ekonomi Bolivia sangat baik. Atau meminjam istilah pak Jokowi: ekonomi Bolivia tengah meroket.

Sampai-sampai, banyak yang takjub dengan kemajuan ekonomi Bolivia. The New York Times, media kebanggan kaum liberal sedunia, memuji kemajuan Bolivia lewat artikel berjudul: Turnabout in Bolivia as Economy Rises From Instability.

Artikel itu memuat pujian dari IMF dan Bank Dunia, dua lembaga keuangan pembenci sosialisme. Kedua lembaga keuangan dunia itu memuji kebijakan makro-ekonomi Morales yang dianggap “hati-hati”.

Seorang pejabat IMF yang dikutip artikel ini kurang lebih bilang begini: sementara hampir semua negara direvisi pertumbuhan ekonominya karena jatuhnya harga komoditas di pasar dunia, Bolivia justru meroket.

Bulan September 2018, Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi untuk Karibia dan Amerika Latin (ECLAC), Alicia Bárcena, bilang: “Bolivia adalah contoh bagaimana ekonomi dikelola dengan baik. Kebijakan makro-ekonomi yang sangat tertib dan kebijakan sosial yang sangat inklusif.”

Tetapi, ini bukan isapan jempol, tapi data-data berbicara.

Satu, Pertumbuhan Ekonomi

Merujuk data Bank Dunia, PDB nomimal Bolivia meningkat pesat dalam satu dekade. Dari USD $ 9,549 pada 2015, menjadi USD $ 40.500 sekarang.

Sementara, dalam laporan tahunnya pada 22 Januari 2019, Evo Morales menyebut pertumbuhan PDB nominal Bolivia dalam rentang itu sebesar 327 persen.

Selama pemerintahan Morales, ekonomi Bolivia tumbuh rata-rata 4,9 persen per tahun. Sementara pertumbuhan ekonomi kawasan itu hanya rata-rata 2,7 persen per tahun.

Laporan terbaru Centre for Economic and Policy Research (CEPR) menyebutkan, PDB per kapita riil (sudah menghitung kenaikan harga/inflasi) Bolivia meningkat 50 persen selama 13 tahun pemerintahan Morales.

Sedangkan PDB riil per kapita Bolivia tumbuh rata-rata 3.2 persen selama 13 tahun. Sementara rata-rata kawasan Amerika latin hanya tumbuh 1,6 persen.

Nasionalisasi tak membuat pendapatan Bolivia dari hidrokarbon menurun. Dalam 8 tahun pertama pemerintahan Morales, pendapatan dari hidrokarbon meningkat tujuh kali lipat, dari 731 juta USD menjadi 4,9 milyar USD.

Jadi, tudingan bahwa nasionalisasi akan berujung pada salah urus hingga penurunan pendapatan, jelas terpatahkan oleh pemerintahan Morales di Bolivia.

Dua, Rasio Utang terhadap PDB Turun

Salah satu bahaya yang juga kerap mengintai adalah utang. Nah, salah satu ukuran untuk mengukur keamanan utang adalah rasio utang terhadap PDB.

Memang, pada November 2018, utang Bolivia berjumlah USD $ 9.830. Dan itu angka tertinggi dalam sejarah. Tapi, kalau dilihat dari rasio utang terhadap PBD, justru turun drastis. Dan ingat, utang itu untuk sektor produktif, bukan konsumsi.

Pada 2005, rasio utang terhadap PDB Bolivia sebesar 52 persen. Namun, di tahun 2018, rasio utang terhadap PDB Bolivia tinggal 24 persen.

Tiga, Inflasi terjaga, Upah meroket

Memang, di masa awal Morales menjabat, kira-kira 2006-2008, inflasi agak tinggi. Sempat mencapai 14 persen di tahun 2008. Namun, tahun-tahun berikutnya inflasi turun hingga rata-rata 4 persen.

Di tahun 2017, inflasi cukup rendah: 2,8 persen. Sedangkan tahun 2018 lebih rendah lagi: 2,3 persen.

Upah minimum meroket tajam di era pemerintahan Morales. Dari 440 Bs (Boliviano Bolivia) pada 2015 menjadi 2060 Bs pada 2018. Selama 13 tahun, upah minimum Bolivia naik 515 persen. Luar biasa, bukan?

Hebatnya, upah tinggi tak mengurangi lapangan pekerjaan. Pengangguran turun dari 7,7 persen di masa awal Pemerintahan Morales menjadi 3,26 persen di tahun 2018.

Keempat, Kemiskinan menurun Drastis

Pemerintahan Morales sangat berhasil dalam menurunkan angka kemiskinan. Menurut data resmi Institut Statistik Nasional (INE) Bolivia, pada 2015, kemiskinan ekstrem mencapai 38,2 persen. Namun, pada 2018, tinggal 15,2 persen.

Menurut Statista Bank Dunia, jumlah orang Bolivia yang hidup di bawah 3,20 USD per hari turun dari 32,1 persen di tahun 2005 menjadi 11,8 persen di 2017.

Bersamaan dengan kemajuan ekonomi ini, kelas menengah Bolivia membengkak. Di tahun 2005, 35 persen rakyat Bolivia adalah kelas menengah. Tapi, di tahun 2017, kelas menengah Bolivia sudah mencapai 58 persen.

Kelima, Belanja sosial terus meningkat

Salah satu kunci pendorong kebijakan sosial yang inklusif di bawah pemerintahan Evo Morales adalah belanja sosial. Menurut data CEPR, sepanjang 2005-2017, belanja sosial Bolivia meningkat 80 persen.

Di Bolivia, ada banyak program sosial berbentuk transfer tunai kepada sektor masyarakat paling rentan: anak-anak, ibu hamil, dan lansia.

Untuk anak-anak, ada program Juancito Pinto, yaitu bantuan keuangan kepada keluarga miskin yang punya anak sekolah agar rajin bersekolagh. Untuk ibu hamil ada program Juana Azurduy, yaitu bantuan keuangan kepada ibu hamil agar bisa mengakses layanan kesehatan selama kehamilan, guna mengurangi angkatan kematian ibu dan balita. Kemudian program Renta Dignidag, yaitu bantuan keuangan kepada lansia.

Pada tahun 2008, sebanyak 5,8 juta atau 51,8 persen rakyat Bolivia mendapat bantuan tunai semacam ini.

Di Bolivia, sejak Maret 2019, negara menjamin kesehatan rakyatnya secara cuma-cuma lewat program yang disebut Sistem Kesehatan Tersatukan (SUS).

Menariknya, agar rakyat gampang mencari dan menemukan pusat-pusat kesehatan yang gratis, Bolivia punya 46 telemedicine—aplikasi penyedia informasi tentang pusat-pusat kesehatan—yang tersambung langsung dengan satelit Tupac Katari.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid