El Salvador: Mantan Gerilyawan Kiri Menangi Pilpres Putaran Pertama

Calon Presiden dari partai kiri Front Pembebasan Nasional Farabundo Marti (FMLN), Sanchez Ceren, berhasil unggul di pemilu Presiden putaran pertama El Salvador.

Sanchez Ceren, yang pernah memimpin perjuangan gerilya FMLN di tahun 1980-an, berhasil meraih 49,2% suara. Sementara pesaingnya, Norman Quijano, bekas walikota di San Salvador yang diusung oleh partai sayap kanan ARENA, berada di urutan kedua dengan 38,9%. Urutan ketiga ditempati oleh bekas Presiden El Salvador periode 2004-2009, Antonio Saca, yang hanya mendapat suara 11%.

Berdasarkan aturan pemilu El Salvador, jika kandidat pemenang tidak meraih lebih dari 50%, maka akan dilakukan Pilpres putaran kedua. Dalam Pilpres putaran kedua itu, yang dijadwalkan akan berlangsung pada 9 Maret mendatang, dua kandidat peraih suara terbanyak akan bertarung.

Kendati demikian, para pendukung FMLN sudah menggelar pesta kemenangan di jalan-jalan kota San Salvador dan kota-kota lainnya di seantero El Salvador. “Front (FMLN) menang karena kaum miskin. Mereka memberi kami kesempatan. Anakku tidak mungkin bisa bersekolah tanpa bantuan mereka,” kata Patricia Concepcion (43), seorang ibu rumah tangga yang memberikan dukungan kepada pemerintahan kiri.

Pada tahun 1980, untuk mencegah pengaruh komunisme, imperialisme AS membawa El Salvador ke dalam perang saudara selama 12 tahun. Lebih dari 75.000 rakyat El-Salvador menjadi korban dalam perang saudara itu.

Pada tahun 1992, perjanjian damai dicapai. Perang saudara pun resmi diakhiri. Namun demikian, demokrasi belum sepenuhnya dipulihkan. Sejak tahun 1989 hingga 2009, negeri berpenduduk 7 juta jiwa ini diperintah oleh partai nasionalis kanan, Aliansi Republikan Nasionalis (ARENA). Partai ini didirikan oleh Roberto D’Aubisson, tokoh sayap kanan yang terlibat pembunuhan Pastor Oscar Romero.

Selama berkuasa, ARENA menerapkan kebijakan neoliberal yang sangat agressif. Negeri ini juga sangat dikendalikan oleh imperialisme AS. Tak hanya itu, rezim sayap kanan ini juga sangat korup. Sebagian besar sumber daya alam El Salvador hanya dinikmati oleh korporasi asing dan segelintir elit ARENA.

Tahun 2009, rakyat El Salvador membuat gebrakan revolusioner. FMLN, yang selalu dicap “komunis”, berhasil memenangkan pemilihan umum. Mauricio Funes, seorang jurnalis, ditunjuk sebagai Presiden untuk periode 2009-2014. Begitu berkuasa, pemerintahan FMLN langsung mengimplementasikan sejumlah kebijakan sosial, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan, untuk meredam dampak mendalam akibat puluhan tahun penerapan kebijakan neoliberal.

Aktivis Front Pembebasan Farabundo Marti (FMLN) merayakan kemenangan Pemilu.
Aktivis Front Pembebasan Nasional Farabundo Marti (FMLN) merayakan kemenangan Pemilu.

Sánchez Cerén, yang juga bekas Wakil Presiden di era Funes, berjanji akan melanjutkan dan memperdalam kebijakan Presiden sebelumnya di bawah slogan “profundizando el cambio” (memperdalam proses perubahan). “Di mana-mana saat saya kampanye, saya melihat wajah-wajah senang anak-anak, ibu-ibu, dan lainnya. Yakinlah bahwa perubahan akan terus berjalan dan untuk mereka,” kata Ceren dalam pidato kemenangannya.

Ia juga berterima kasih kepada Capres dari Unidad Movement, Tony Saca, yang telah memberi ucapan selamat kepadanya dan juga kepada FMLN. Ia mengajak Tony Saca, yang bekas pimpinan ARENA, untuk bersatu dalam “proyek baru” membangun negeri.

Dalam pemilu Presiden putaran kedua mendatang, Sanchez Ceren akan bersaing dengan kandidat sayap kanan ARENA, Norman Quijano. Namun, peluang kemenangan Sanchez sangat besar. Apalagi jika Tony Saca, yang sudah terlancur berpisah dengan ARENA, menyatakan berkoalisi dengan FMLN.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut