Ekuador Memulai Kampanye Melawan Chevron

Mulai minggu ini, Presiden Ekuador Rafael Correa menggalang dukungan internasional untuk memboikot Chevron. Maklum, perusahaan minyak raksasa asal AS itu menolak membayar ganti-rugi sebesar 19 milyar dollar AS.

Sebagai awal dari kampanye itu, Presiden Correa telah mengunjungi hutan yang terkena dampak limbah Chevron. Di sana, ia mencelupkan tangannya ke dalam lumpur minyak dan memperlihatkannya kepada awak media. Inilah kampanye “tangan kotor Chevron”.

“Mereka menggunakan teknik anakronistik untuk mengisi kantong mereka (dengan uang) tanpa peduli dengan polusi yang mereka hasilkan,” kata Presiden Correa.

Hari Kamis (19/9/2013) lalu, Presiden Correa berkunjung ke Argentina untuk bertemu dengan Presiden Cristina Fernandez. Namun, kunjungan Correa itu bertemu dengan momentum yang kurang tepat karena perusahaan negara Argentina (YPF) sedang membangun kerjasama dengan Chevron.

Selain itu, Ekuador juga sedang mempersiapkan mengirim lima delegasinya untuk datang ke Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, guna menjelaskan kejahatan lingkungan yang dilakukan Chevron.

Namun, lagi-lagi usaha itu kelihatannya menemui kendala. Sabtu (21/9) kemarin, Kementerian Luar Negeri Ekuador menyatakan bahwa kelima delegasi mereka itu ditolak visanya oleh pemerintah AS. Dengan demikian, mereka akan kesulitan untuk melakukan perjalanan ke AS dalam waktu dekat.

Selama 26 tahun, yakni dari tahun 1964 hingga 1990, perusahaan minyak Texaco asal AS menguras minyak mentah di Sucumbíos dan Orellana. Dalam kurun waktu itu, Texaco menumpahkan 18 juta galon limbah beracun ke hutan hujan Amazon, yang menyebabkan penduduk sekitar menderita penyakit kanker, keguguran, dan kelainan saat melahirkan. Pada tahun 2001, Texaco diambil alih oleh Chevron.

“Ini adalah salah satu bencana terbesar dalam sejarah umat manusia dan perusahaan minyak ini (Chevron) berusaha lari dari hukuman. Coba bayangkan bagaimana mereka mau menghindar bila hari ini, setelah 30 tahun, (limbah) minyak itu masih di sini. Itulah yang menyebabkan banyak kasus kanker di daerah ini,” ujar Correa.

Laporan dari Stratus Consulting menyebutkan bahwa polusi ini menyebabkan 1.041 orang yang tinggal di sekitar sumur minyak meninggal dunia. Sebagian besar karena kanker dan keguguran.

Pada tahun 2011, pengadilan di Ekuador telah mengganjar Chevron dengan hukuman denda 19 milyar dollar AS. Namun, karena saat ini Chevron tidak punya aset di Ekuador, maka para penggugat memaksa perusahaan melakukan pembayaran di Kanada, Brazil dan Argentina.

Dan perjuangan Ekuador untuk mengejar tanggung jawab Chevron makin berat tatkala pengadilan Arbitrase di Den Haag, Belanda, merilis perjanjian yang dibuat tahun 1995 antara pemerintah Ekuador dan Texaco, yang membebaskan raksasa minyak itu dari tanggung jawab atas ‘kerusakan kolektif”.

Namun, keputusan itu dianggap tidak adil. Presiden Rafael Correa menggambarkan perjuangan rakyat Ekuador melawan Chevron seperti “David versus Goliath”.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • endy d. ardiyanto

    EKUADOR BERJUANGLAH