Dua Lagu Yang Mengeritik Bisnis Kesehatan

Selama ini, lagu sering menjadi sarana untuk menyampaikan kritik atau protes sosial. Tidak terkecuali terhadap layanan kesehatan, yang terkadang diskriminatif dan berorientasi bisnis.

Sejauh ini, ada dua lagu yang sangat pedas mengeritik praktek diskriminasi dan orientasi bisnis layanan di rumah sakit. Yakni, lagu Ambulance Zigzag karya Iwan Fals dan Bener-Bener Rumah Sakit karya Marjinal.

Lagu Ambulance Zigzag diciptakan Iwan Fals tahun 1981. Lagu ini merupakan satu dari lusinan lagu yang terangkum dalam album Sarjana Muda. Di banding album Iwan lainnya, Sarjana Muda memang paling banyak mengandung lagu kritik. Lagu lainnya, yakni Sarjana Muda dan Guru Oemar Bakrie, sangat pedas mengeritik masalah pendidikan.

Lagu Ambulance Zigzag punya lirik yang sangat kritis:

Deru ambulance
Memasuki pelataran rumah sakit
Yang putih berkilau
Di dalam ambulance tersebut
Tergolek sosok tubuh gemuk
Bergelimang perhiasan
Nyonya kaya pingsan

Mendengar kabar
Putranya kecelakaan

Dan para medis
Berdatangan kerja cepat
Lalu langsung membawa korban menuju ruang periksa
Tanpa basa basi
Ini mungkin sudah terbiasa

Tak lama berselang
Supir helicak datang
Masuk membawa korban yang berkain sarung
Seluruh badannya melepuh
Akibat pangkalan bensin ecerannya…Meledak

Suster cantik datang
Mau menanyakan
Dia menanyakan data si korban
Di jawab dengan
Jerit kesakitan
Suster menyarankan bayar ongkos….pengobatan
Ai.. sungguh sayang korban tak bawa uang

Suster cantik ngotot
Lalu melotot
Dan berkata: “Silahkan bapak tunggu di muka!”

Hai modar aku
Hai modar aku
Jerit si pasien merasa kesakitan
Hai modar aku
Hai modar aku
Jerit si pasien merasa diremehkan

Melalui lagu Ambulance Zigzag, ia menembak langsung praktek diskriminatif di rumah sakit. Di lagu itu menunjukkan bagaimana perilaku dan cara kerja paramedis terhadap dua jenis pasien: kaya dan miskin. Ketika pasien kaya yang datang, yakni seorang nyonya kaya yang pingsang karena mendengar berita kecelakaan anaknya, paramedis langsung bekerja cepat. Tak hanya itu, si pasien yang bergelimang perhiasan itu langsung dimasukkan ke ruang periksa.

Namun, respon paramedis begitu berbeda ketika yang datang hanya pasien berkain sarung. Di sini sarung mewakili identitas kaum miskin atau kaum termarginalkan. Ironisnya, lantaran si pasien berdandan orang miskin, para suster malah menodong dengan pertanyaan tentang korban dan biaya pengobatan. Bukan memberikan pertolongan darurat. Lantas, karena karena tak punya uang, si pasien yang seluruh badannya melepuh ini justru menunggu di luar.

Saya kira, lirik lagu Iwan Fals ini mewakili realitas. Cerita semacam itu sudah sering kita dengarkan di masyarakat. Malahan, seiring dengan liberalisasi sektor kesehatan yang makin massif, cerita seperti lirik lagu Iwan Fals itu nyaris bisa kita temukan tiap hari melalui pemberitaan media massa.

Sementara lagu kedua, Bener-Bener Rumah Sakit karya Marjinal, mengeritik lebih pedas lagi. Lagu ini adalah satu dari 27 lagu di album bertajuk Predator yang diluncurkan tahun 2005.

Berikut lirik lagu Bener-Bener Rumah Sakit:

dirumah rumah sakit brengsek

ini yang terjadi
korupsi dan kolusi
tuk memperkaya diri
itu sudah tradisi

lihatlah dirumah sakit
orientasinya duit
banyak pasien yang menjerit
karena biaya mencekik

ngomong soal profesi
uangnya diutamakan
kepentingan kemanusiaan
tapi yang datang idola

kemanusiaan tidak dipikirkan
bila kau punya uang barulah lain urusan
kemanusiaan tidak dipikirkan
rumah sakit bayar dulu uangnya diutamakan

ternyata sumpah dan janji
serta kata kata hanya alasan basi
kau hianati negri ini
atas nama profesi

ooo.. ini yang terjadi
ternyata banyak penjahat berpakaian rapi
ooo.. ini yang terjadi
ternyata banyak penjahat dinegri sendiri (2X)

dirumah rumah sakit
birokrasinya berbelit
apalagi tak berduit
kau pasti kan di persulit

persetan orang gak punya
harga obat dimainkan
orang sakit di objekkan
semuanya pakai bayaran

kemanusiaan tidak dipikirkan
bila kau punya uang barulah lain urusan
kemanusiaan tidak dipikirkan
rumah sakit bayar dulu uangnya diutamakan

ternyata sumpah dan janji
serta kata kata hanya alasan basi
kau hianati negri ini
atas nama profesi

ooo.. ini yang terjadi
ternyata banyak penjahat berpakaian rapi
ooo.. ini yang terjadi
ternyata banyak penjahat dinegri sendiri (2X)

dirumah rumah sakit
banyak pasien menjerit
karena biaya mencekik
lantaran gak punya duit

dirumah rumah sakit
banyak pasien menjerit
lantaran dipersulit
dan dokternya pada sinting

kemanusiaan tidak dipikirkan
bila kau punya uang barulah lain urusan
kemanusiaan tidak dipikirkan
rumah sakit bayar dulu uangnya diutamakan

dirumah rumah sakit… brengsek
dirumah rumah sakit… ngehek

Marjinal adalah kelompok kaum muda yang menggunakan musik punk sebagai sarana menyampaikan pesan, kritik, dan seruan perlawanan. Mereka resmi berdiri tanggal 22 Desember 1997. Awalnya mereka bernama Anti Facist Racist Action (AFRA). Mereka sangat aktif dalam aksi-aksi menentang rezim Orde Baru. Namun, setelah mereka mulai menggunakan musik, namanya berganti menjadi Anti ABRI.  Tak lama kemudian, nama itu berganti menjadi Anti Military.

Pada tahun 2001, karena pertimbangan situasi yang berubah, kelompok berganti nama menjadi Marjinal. “ Kita terinspirasi oleh nama pejuang buruh perempuan yang mati disiksa militer: Marsinah..Marsinah… MARJINAL. Kata Marjinal sendiri waktu itu kan belum banyak dipakai untuk menjelaskan posisi orang-orang pinggiran,” kata Mike, salah satu pentolan Marjinal, ketika menjelaskan perihal perubahan nama itu. Marjinal sendiri digawangi oleh Mike (vocal) dan Bobby (bass).

Dalam lagu Benar-Benar Rumah Sakit, Marjinal melontarkan kritik pedas terhadap rumah sakit yang mengabaikan kemanusiaan. Padahal, poin pertama dari Sumpah Dokter Indonesia berbunyi: Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan. Pada kenyataannya, sumpah itu dimentahkan oleh orientasi bisnis.

Layanan kesehatan yang berorientasi bisnis itu, yang menempatkan uang di atas nilai kemanusiaan, menyebabkan rakyat sengsara. Marjinal memotret hal menyedihkan itu cukup terang di bait:kemanusiaan tidak dipikirkan/bila kau punya uang barulah lain urusan/kemanusiaan tidak dipikirkan/rumah sakit bayar dulu uangnya diutamakan.

Kejadian itu makin bertambah miris bila kita menengok ke sejarah. Kita tahu, tokoh-tokoh yang merintis pergerakan kemerdekaan kita tak sedikit yang berprofesi dokter, seperti Dr. Wahidi Soedirohoesodo, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Dr. Soetomo, dan lain-lain. Di jaman itu, mereka bukan hanya mengobati pasien, tetapi berjuang untuk mengobati bangsanya dari penghisapan dan eksploitasi.

Kesehatan adalah hak dasar rakyat. Bahkan konstitusi kita menjamin hal tersebut. Namun, pada kenyataannya, layanan kesehatan di Indonesia sangat berorientasi bisnis. Layanan kesehatan ditempatkan tak ubahnya komoditi yang diperjual-belikan. Obat tidak lagi diproduksi untuk kepentingan kesehatan rakyat, melainkan untuk tujuan profit.

Lily Nurhayani

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut