Diperlakukan Tidak Manusiawi, Pedagang Pasar Pabaengbaeng Mengadu Ke Komnas HAM

JAKARTA (BO)- Haji Diana, 46 tahun, seorang pedagang di Pasar Pabaengbaeng Makassar, melaporkan dugaan pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) yang dialaminya kepada Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (KOMNAS-HAM) di Jl Latuarhary No 4B, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (23/9).

Hj Diana datang ke Bidang Pengaduan Komnas HAM didampingi oleh aktivis Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Sulsel, Wahida Baharuddin Upa.

Berdasarkan pengakuan ibu tiga anak ini, dirinya dipenjara selama empat bulan hanya karena mempertahankan apa yang menjadi haknya. “Saya dianggap melakukan penganiayaan. Padahal, saya hanya berjuang untuk mempertahankan hak saya,” katanya.

Haji Diana mengisahkan, pasca renovasi pasar Pabaengbaeng, tiba-tiba pihak kepala pasar memperjualbelikan seluruh kios yang ada. Karena tidak punya uang, maka Hj Diana pun tidak sanggup membeli.

Pada tanggal 23 Maret 2011, Petugas Pasar Pabaengbaeng—atas perintah Kepala Pasar, H Azis Hafid–tiba-tiba melempar keluar seluruh barang dagangan miliknya. Akibatnya, barang dagangan berupa kopi, minyak, gula merah, dan lain-lain, pun hancur.

Ia tidak terima perlakuan kasar itu. Tetapi, bukannya meminta maaf atas tindakan kasar itu, Kepala pasar dan anggotanya mengejar dirinya dan mengeroyoknya. Pada saat itulah ia mengambil batu kecil dan melemparkannya ke arah Kepala Pasar.

Kepala Pasar mengalami goresan kecil di bagian wajahnya. Dengan berbekal luka kecil itu, Kepala Pasar segera melaporkan Hj Diana ke Kepolisian. Keadilan tidak memihak kepada Hj Diana. Ia pun dipenjara selama 4 bulan karena tuduhan penganiayaan.

Sempat Dimintai Uang Damai

Anehnya, beberapa saat setelah pelaporan ke Polisi, Kepala Pasar Pabaengbaeng H Azis Hafid sempat menawarkan “uang damai” sebesar Rp6 juta. Tetapi Hj Diana tidak menyanggupinya.

Pihak Kepolisian, kata Hj Diana, juga pernah meminta uang sebesar Rp4 juta. Polisi sendiri tidak menjelaskan untuk apa uang sebesar itu. Permintaan itu juga diabaikan oleh Hj Diana.

Hj Diana merasa betul betapa tidak adilnya aparat penegak hukum yang menangani kasusnya. Pasalnya, perilaku penghancuran barang dagangan bukan sekali itu dirasakannya.

Pernah suatu hari, kira-kira bulan April 2010, barang dagangannya juga dikeluarkan secara paksa dan dilemparkan ke kanal. Ia pun melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian, tetapi tidak pernah mendapatkan respon.

“Kalau saya yang melaporkan perlakuan kekerasan, pihak kepolisian tidak merespon sama sekali. Tetapi ketika Kepala Pasar yang melapor, meskipun hal itu sangat sepele, Polisi segera bertindak cepat,” katanya.

Komnas HAM Akan Melakukan Pemeriksaan

Menanggapi pelaporan Hj Diana, pihak Komnas HAM akan mempelajari dan memeriksa kasus ini lebih lanjut.

Bidang Pengaduan Komnas HAM menyampaikan, pihaknya akan mempelajari lebih lanjut tiga hal dari pokok perkara ini, yaitu: soal pedagang lama dan pedagang baru, tindakan kekerasan terhadap pedagang lama, dan tindakan kriminal disertai pemenjaraan yang dialami oleh Hj Diana.

Hj Diana sendiri berharap bahwa Komnas HAM benar-benar menindak-lanjuti kasus ini dan mengambil tindakan terhadap pelaku pelanggar HAM dimaksud.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • ya begtulah hukum dikita bu, keadilan hanya milik org kaya dan penguasa. .
    Dan demi menyenangkan hati tuannya aparat penegak hukumpun lupa dgn kewajibannya,. Demi menyenangkan sang tuan merkeka berani brtindak refresip dgn merenggut hak org lain untk hdup. . Saatnya rakyat melawan.