Di Cianjur, Tentara Dipakai Hadapi Mogok Buruh

Mogok kerja merupakan hak dasar buruh yang dilindungi oleh Undang-Undang. Namun, di Cianjur, Jawa Barat, aksi mogok kerja buruh PT Tirta Sukses Perkasa dihadapi dengan TNI dan polisi.

Berdasarkan rilis yang dikeluarkan oleh Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), puluhan anggota TNI dan Brimob bersenjata lengkap bersiaga di dalam perusahaan. TNI itu diduga berasal dari kesatuan Batalyon artileri 05/105 Tarik.

“Mereka bertugas untuk mengawal perusahaan yang ingin mengeluarkan barang dari perusahaan,” kata koordinator advokasi FPBI, Gan Gan Solehuddin, melalui siaran pers, Jumat (14/10/2016).

Menurut Solehuddin, kehadiran TNI dan Brimob bersenjata lengkap merupakan tindakan menghalangi pemogokan karena mengintimidasi buruh secara tidak langsung.

“Polisi dan Brimob yang bersenjata lengkap seharusnya tidak melakukan intervensi, karena bukan tugas mereka. Itu bertentangan dengan konstitusi,” paparnya.

Karena itu, pihaknya meminta kepada pimpinan TNI dan Brimob untuk menarik pasukan mereka dari pabrik. Dia juga berencana akan melaporkan kasus ini kepada pimpinan TNI dan Polri.

Sementara itu, sejumlah serikat buruh mengeluarkan protes keras atas kehadiran TNI dan Brimob dalam aksi mogok buruh. Mereka menilai tindakan itu sudah melanggar UU.

“Gelar pasukan dari Batalyon Artileri Medan 05/105 Tarik dalam antisipasi Aksi mogok kerja Serikat Pekerja FPBI Tirta sukses Perkasa Cianjur telah melanggar Undang-Undang No 34/2004 tentang Tugas Dan Tanggungjawab TNI dan merupakan tindakan berlebihan,” kata Ketua Umum Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI) Rudi HB Daman dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (14/10/2016).

Menurutnya, aksi mogok kerja yang dilakukan oleh buruh bukanlah ancaman nasional, sehingga TNI tidak perlu menggelar pasukan di perusahaan tersebut.

Untuk diketahui, sejak September lalu buruh PT Tirta Sukses Perkasa menggelar aksi mogok kerja. Mereka menuntut pihak perusahaan menjalankan perjanjian bersama yang sudah disepakati dan membatalkan PHK terhadap 48 orang buruh.

Sebelumnya, pada 10 September 2015, serikat buruh dan PT Tirta Sukses Perkasa sudah menyepakati Perjanjian Kerja Bersama (PKB). PKB itu, antara lain, mengubah status PKWT (Perjanjian kerja waktu tertentu) menjadi PKWTT (perjanjian waktu tidak tertentu) dan menjadikan pekerja harian lepas sebagai PKWT.

Namun, alih-alih menjalankan PKB itu, perusahaan air kemasan Club itu justru memecat 48 buruhnya secara sepihak.

Mahesa Danu

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid