Davin Evan Bachtiar, Bocah 6 Tahun yang Diduga Korban Malpraktek Enam Krum Bersarang Di rahangnya

Davin Evan Bachtiar, namanya mungkin tak pernah disebut dengan lengkap. Tapi kasusnya sudah wira-wiri di surat kabar lokal kabupaten Jember dan nasional sejak beberapa waktu terakhir. Bocah 6 tahun yang diduga korban malpraktek itu kini telah menjalani operasi rahang pertamanya. Bagaimana ia menjalani hari dengan 6 krum bersarang di rahangnya?

JAM menunjukkan pukul 8 malam. Davin Evan Bactiar, bocah berusia 6 tahun itu tergolek lemah tak berdaya dengan 2 selang yang terpasang di bawah rahangnya dan 2 lainnya bersarang di hidungnya. Matanya terpejam, dengan kedua kaki yang bersandar di bahu sang ayah tercinta.

Jum’at, 30 April 2010, Davin menjalani operasi pertamanya setelah 5 bulan lamanya bergulat dengan rasa sakit yang teramat sangat akibat gigi susunya tiba-tiba harus dicabut tanpa ijin karena diagnosa dari seorang dokter puskesmas kecamatan pakem, kabupaten Jember, Ita Rossinta.

Ia memasuki ruang operasi pada pukul 7 pagi dan operasi yang berjalan dua tahap itu berjalan selama 13 jam lamanya. Tahap awal, tim dokter dari RSUD Dr. Soetomo harus memotong tulang rahang Davin karena ada pembengkakan yang cukup besar. Pembengkakan itu berakibat pada kerusakan yang cukup parah pada rahangnya.

Tahap kedua, pembedahan kembali dilakukan oleh tim dokter untuk memotong tulang rusuk Davin sepanjang 6 sentimeter sebagai pengganti dari rahang yang telah rusak dari bocah yang sehari-harinya bersekolah di TK Amelia, kelurahan Kebonsari, kabupaten Jember itu.

Tulang rusuk sepanjang 6 sentimeter itu kemudian dicangkokkan pada rahang Davin agar kembali terbentuk lebih baik sehingga bentuk wajahnya bisa lebih baik. Meski tidak bisa kembali seperti semula, hanya dengan cara itulah rahang Davin bisa menjadi lebih baik dan pembengkakan yang dirasakannya selama 5 bulan terakhir bisa lekas lebih baik.

Operasi itu terbilang berhasil. Davin pun dipastikan membaik dengan beberapa syarat. ia tak boleh sekalipun membuka mulutnya apalagi berteriak. Karena bagian bawah dagu yang penuh dengan jahitan akan rentan terbuka. Apalagi, di sisi-sisinya terdapat dua selang yang berfungsi sebagai perantara untuk membuang sisa darah bekas operasi.

Tapi Davin bukanlah pria dewasa yang bisa mengerti arti sebuah operasi. Ia hanyalah seorang bocah kecil berusia 6 tahun yang hampir tidak bisa diatur. Apa yang dirasakannya sudah pasti akan diungkapkannya terang-terangan.

Sadar dari bius pasca operasi, Davin spontan berteriak kencang. Ia memukuli perutnya sendiri. Rupanya setelah operasi yang begitu panjang, ia merasa perutnya keroncongan karena lapar. “Adik Davin memang tidak bisa menahan lapar. Setiap bangun tidur yang dilakukannya adalah mencari makanan,” ujar sang Ibu, Reny.

Satu selang yang menjadi perantara aliran darah bekas operasinya pun terlepas, operasi yang tadinya diyakinkan berhasil itu menampakkan tanda-tanda gagal. Tubuh Davin diserang panas yang cukup tinggi. Setiap 15 menit sekali dokter harus memberikan 6 kali suntikan di tubuhnya. Saat itu, Reny dan Panji, suaminya, hanya bisa berdoa melihat kondisi Davin.

Rupanya, doa Reny dan suaminya didengar. Putera pertamanya melewati masa kritis dengan baik setelah melewati 12 jam yang cukup menyulitkan. Dan guru honorer di sebuah SMK Swasta itu kembali bisa bernafas lega atas kondisi puteranya.

Kejadian yang dialami Davin memang sungguh menyakitkan bagi Reny dan suaminya. Meski sudah satu tahun berlalu, kejadian itu belum terlupakan. Apalagi, Davin akan menjalani operasinya yang kedua untuk melepas plat dan krum yang bersarang di rahangnya beberapa bulan mendatang.

Kejadian itu dimulai November 2009 lalu. Davin, yang ketika itu masih berusia 5 tahun menjalani hari-hari di sekolahnya seperti biasa. Pagi itu, ada pemeriksaan mendadak dari puskesmas Pakem. Kepala sekolah Davin di TK. Amelia pun tak tahu menahu tentang kedatangan tim puskesmas yang akan memeriksa gigi gratis anak-anak di TK tersebut.

Davin menjadi salah seorang anak yang didiagnosa untuk menjalani pencabutan gigi. Padahal, pagi itu, Reny yakin benar, anaknya tidak dalam kondisi sakit di bagian gigi atau gusi. Reny yang bekerja sebagai guru honorer memang tidak pernah menemani anaknya kecuali ada panggilan dari sekolah jika ada acara khusus. “Karena hari sebelumnya tidak ada pemberitahuan dari pihak sekolah, saya tidak menemani Davin,” ujarnya.

Kepala sekolah Davin rupanya sudah mengingatkan sang dokter untuk memberitahu orang tua masing-masing anak jika memang harus ada tindakan penanganan yang dilakukan. Namun, hanya satu anak yang mendapatkan ijin dari orang tuanya yang kebetulan sedang menunggui putranya. Itupun karena, gigi anak itu sudah sangat goyang.

Pulang kerja, Reny melihat Davin mengaduh kesakitan dan mengeluh giginya sakit karena baru dicabut. Davin hanya bilang ia kesakitan di bagian gigi sebelah kanan. Dan setelah dilihat, gusinya memang bengkak. Reny kaget luar biasa. Sesegera mungkin, Davin dibawa ke PMI untuk mendapatkan penanganan. Rupanya, di PMI tidak ada diiagnosa khusus tentang Davin. Ia hanya diberi obat untuk dipakai selama 1 minggu.

Di hari ketujuh, Davin tak juga mengalami perubahan. Justru bengkak yang dialaminya kian besar. Reny pun membawanya ke puskesmas. Dan perlakuan yang diberikannya pun sama. Ia hanya menerima obat untuk dipakai selama satu minggu. Dan hasil yang didapatkannya pun sama. Davin justru semakin parah.

Reny bersama suaminya sepakat untuk membawa Davin ke RSUD Soebandi. Dan dari foto rongent, diketahui ada pembengkakan yang cukup parah dan Davin harus menjalani operasi pencangkokan rahang. “Di RSUD Soebandi tidak ada alat untuk pencangkokan ginjal, jadi kami dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya,” ujar Reny.

Upaya yang dilakukan pasutri tersebut untuk mencari peradilan bagi putera pertamanya nyaris tak terhitung. Mengetahui putranya sakit sedemikian parah dan divonis cacat seumur hidup adalah hal yang tak pernah terbayangkan bagi mereka.

Mereka telah mengadukan persoalan tersebut dibantu pihak LSM Asosiasi Pendamping Independen (API) kepada komisi D DPRD sejak Juni 2010. Namun, nama mereka tak kunjung dipanggil. Padahal, mereka hanya minta dibantu untuk memfasilitasi pertemuan antara kedua belah pihak. Dr. Ita Rossinta, kepala puskesmas Pakem, kepala TK Amelia serta pihak mereka.

29 November lalu, mereka kembali wadul untuk mempertanyakan surat yang telah mereka layangkan. Panji, Ayah Davin memang mengaku telah difasilitasi oleh kepala puskesmas Pakem untuk bertemu dengan Dr. Ita Rossanti. Pertemuan itu berlangsung selama 3 kali. Di pertemuan pertama, dokter tersebut bersikeras bahwa penanganan yang dilakukannya sudah sesuai prosedur.

Di pertemuan kedua, dokter itu masih bersikeras bahwa perbuatannya sudah sesuai prosedur. Namun, ia berjanji akan membantu setengah dari operasi Davin yang pertama. Untuk operasi kedua, ia tak mau memberikan bantuannya. Sedangkan di pertemuan ketiga, Reny menerima pukulan yang cukup telak. Bukan lagi dokter tersebut yang memberikan statemen melainkan ibunda dari dokter tersebut yang mengeluarkan statement tegas bahwa pihaknya tidak akan mengeluarkan biaya sepeserpun untuk Davin.

Ketika itu, ia berjanji akan membawa persoalan itu ke ranah hokum. Namun, konsentrasinya pada kesembuhan Davin membuatnya mengabaikan sementara ranah hokum tersebut. “Usai pertemua ketiga itu, dia (dr. Ita) sempat menitipkan uang melalui pihak sekolah anak saya sebesar Rp 500 ribu. Katanya untuk permintaan maaf. Jelas saya menolaknya mentah-mentah,” ujarnya.

Di tengah-tengah keputusasaannya, Reny bersama sang suami justru merasa sudah jatuh tertimpa tangga dengan pemberitaan yang dilakukan di media. Beberapa Koran nasional dan lokal memberitakan mereka telah menerima uang dari DPRD Jember, Dinkes dan juga dari Dr Ita untuk operasi Davin. Padahal, Reny mengaku harus meminjam bank sebesar Rp 15 juta dengan agunan sertifikat atas nama sekolah yang menaunginya sebagai guru untuk biaya operasi Davin.

Ia merasa, media itu seakan-akan membuatnya seperti perompak yang ingin mengambil keuntungan dari situasi tersebut. Ia dituduh sebagai pemeras atas dugaan malpraktek itu. “Anak saya itu cacat seumur hidup. Empat giginya harus dicabut, tulang rusuknya harus dipotong. Apakah ada orang tua yang tega memanfaatkan situasi sementara kondisi anaknya sudah semacam itu,” katanya dengan nada berapi-api.

Hingga kini, puteranya masih harus makan makanan yang halus dan minum susu kalsium. Davin pun tak boleh jatuh ataupun terbentur benda keras jika ingin hasil operasinya berhasil sempurna. “Kami ingin yang terbaik untuk Davin. Kami hanya mau dokter itu mengakui perbuatannya dan bertanggung jawab pada kesembuhan Davin,” tandasnya. (*)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Menteri Kesehatan Endang, yang diisukan “antek” salah satu negara, harus dikonfrontir atas situasi memilukan ini. Salam.

    Gede Sandra