Perdebatan tentang Budiman Sudjatmiko, Agus Jabo Priyono, dan sejumlah mantan aktivis 1998 yang kini berada di lingkar pemerintahan kembali mengemuka setelah diskusi di UGM berakhir ricuh. Sebagian mahasiswa menilai mereka telah meninggalkan idealisme dan menjadi bagian dari kekuasaan yang dahulu mereka lawan. Namun Agus Jabo menjawab kritik itu dengan kalimat yang sederhana namun sarat makna: “Tidak ada yang berubah, arenanya saja yang berubah. Dulu di jalanan, sekarang di kekuasaan. Justru kekuasaan itulah kita jadikan alat untuk memperjuangkan apa yang dulu kita teriakkan di jalanan.”
Kalimat itu sesungguhnya membuka pertanyaan yang lebih besar: apakah perjuangan harus selalu dilakukan dari luar kekuasaan?
Bagi generasi aktivis Orde Baru, perjuangan bukanlah romantisme media sosial. Mereka menghadapi penangkapan, intimidasi, pelarangan organisasi, bahkan penjara. Tokoh seperti Budiman Sudjatmiko pernah dijatuhi hukuman penjara karena aktivitas politiknya pada masa Orde Baru. Perjuangan mereka membantu membuka ruang demokrasi yang hari ini memungkinkan siapa pun menyampaikan kritik secara bebas.
Karena itu, menilai perjalanan seorang aktivis hanya dari posisi jabatannya sering kali terlalu sederhana. Dalam sejarah politik dunia, banyak aktivis yang pada akhirnya masuk ke dalam institusi negara. Sebab mereka menyadari bahwa mengubah kebijakan sering kali membutuhkan lebih dari sekadar teriakan di jalan. Dibutuhkan kewenangan, anggaran, regulasi, dan kemampuan mengeksekusi gagasan menjadi program nyata.
Di sinilah letak perdebatan yang sebenarnya. Bukan soal apakah masuk pemerintahan berarti berkhianat, melainkan apakah kekuasaan yang diperoleh benar-benar digunakan untuk memperjuangkan rakyat atau justru dinikmati untuk kepentingan pribadi dan kelompok.
Kritik mahasiswa tetap penting. Bahkan sangat penting. Demokrasi membutuhkan suara yang terus mengingatkan penguasa agar tidak lupa pada janjinya. Namun kritik juga perlu diiringi kesediaan untuk melihat hasil kerja secara objektif. Sebaliknya, para mantan aktivis yang kini berada dalam pemerintahan juga harus siap diuji oleh sejarah. Mereka tidak cukup hanya mengandalkan rekam jejak masa lalu, tetapi harus membuktikan bahwa idealisme yang dulu diteriakkan masih hidup dalam kebijakan yang mereka jalankan hari ini.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling lantang berteriak. Sejarah akan mengingat siapa yang berhasil mengubah penderitaan rakyat menjadi kebijakan yang memberi harapan.
Karena perjuangan sejati bukan soal berada di luar atau di dalam kekuasaan. Perjuangan sejati adalah memastikan bahwa di mana pun kita berdiri, rakyat tetap menjadi tujuan utama. Dan jika kekuasaan benar-benar digunakan sebagai alat untuk mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan berdikari, maka yang berubah hanyalah arena pertarungannya, bukan cita-citanya.
Agustinus Prasetyo Hadi


