Cerpen: Kampung Mabuk di Negeri Miring

Pagi yang bertemankan sejuta harapan hadir menggantikan malam yang gelap pekat. Sinar mentari menebar hawa hangat melalui celah-celah rimbunnya pepohonan. Dahan-dahan bambu pun melambai pelan diterpa hembusan angin. Dan jauh di balik hutan belukar terdengar suara berbagai macam rupa nyanyian burung, pertanda bahwa seluruh penghuni kampung Mabuk di negeri Miring akan segera bersua dengan segala aktivitas mereka.

Kampung Mabuk, “kampung yang serba ada”. Tetapi sayang, kampung tersebut dihuni oleh penduduk yang bertabiat bagaikan sekerumunan “lembu”. Lembu yang dari ribuan tahun yang lalu hidup dengan hanya memakan rumput hijau, dan tentulah ribuan lembu pun tak akan mampu mengolah atau mengkreasikan rumput menjadi sandwinches, karena mereka hanyalah kumpulan hewan ternak yang tak punya akal dan fikiran.

Kampung Mabuk di negeri Miring memiliki: sawah, hutan,  laut,  tambang, minyak, emas, dan tanah yang subur. Namun, sumber daya alam yang melimpah ruah tersebut tak pernah terjamah untuk dimanfaatkan oleh warga kampung Mabuk secara maksimal. Yang bertani masih saja miskin dengan hasil panen mereka, hutan pun hanya ditebang secara liar, si nelayan masih saja hidup melarat, sedangkan tambang, minyak, dan emas yang ada di kampung Mabuk, luput dari penglihatan dan pengetahuan penduduknya, karena mereka—para penduduk di sana— tak paham segala hal tentang pertambangan. Hanya perusahan-perusahan raksasa yang bertuliskan dalam bahasa asing yang terus-terusan mengrogoti isi perut bumi di kampung Mabuk.

Dan… bukankah “lembu” juga tentu tak mau repot-repot berfikir untuk menemukan cara agar bisa memanfaatkan kekayaan alam tersebut?  Bagi warga kampung Mabuk menjadi “baju coklat, baju putih, dan baju hijau”[1] adalah harga mati! Tak jarang para orang tua yang sedikit kaya rela menghalalkan dosa untuk mencari saudara yang bisa disuap agar anak mereka bisa menjadi si baju coklat, putih, dan hijau. Padahal di kampung Mabuk banyak terdapat dayah (pesantren/tempat pengajian), ulama keramat,  dan mesjid di sana pun besar-besar. Tetapi, ya.. namanya saja manusia yang berperangai bagaikan sekerumunan lembu, mereka kenal agama tapi mengabaikan ayat-ayat Allah yang kira-kira tak sesuai dengan keinginan mereka.

***

Haji Badu, adalah salah seorang dari kumpulan “lembu” yang  dilebeli ‘orang kaya’ oleh kaumnya di kampung Mabuk. Ia punya banyak sawah dan tanah, warisan dari kakek neneknya yang dulu pernah melacurkan bangsa pada Belanda. Keluarganya sangat disegani di kampung Mabuk. Konon, keluarga Haji Badu keturunan darah “blau[2]”.

Balu, Bala, dan Babu adalah ketiga putra haji Badu. Balu yang usianya hanya  terpaut dua tahun lebih tua dari Bala adalah ‘si baju coklat’, dan Bala yang berumur 25 tahun adalah ‘si baju hijau’, sedangkan Babu masih menjadi mahasiswa di sebuah universitas ternama di kotamadya. Ketiga anak laki-laki Haji Badu itu menamatkan SD Unggulan, SMP Unggulan, SMA Unggulan, dan kemudian melanjutkan studi mereka ke universitas ternama di kotamadya. Anak-anak yang lahir dari kotak kelam sejarah yang sengaja ditutup-tutupi itu, terkenal cerdas, tapi sayang mereka juga kerumunan lembu yang bercita-cita sederhana saja.

Tepat di samping rumah adat berkukiran mewah milik Haji Badu, berdiri sebuah gubuk reot milik yatim piatu yang telah lama ditinggal ayah-ibunya saat ia berumur lima tahun. Anak malang itu bernama Amin. Umurnya sebaya dengan anak bungsu Haji Badu, yaitu Babu. Tapi Amin tidak berkawan dengan Babu, karena yatim piatu itu tak bersekolah. Ia hanyalah yatim piatu miskin yang tak berpendidikan. Amin hanya pergi mengaji dan bekerja serabutan sejak umurnya 5 tahun. Pekerjaannya dari kanak-kanak dahulu hanyalah bertani di sawah milik orang lain, berternak sapi-sapi milik orang lain, dan menjadi pemulung buah melinjo di halaman kecil di depan rumahnya.

***

“Aku ingin merantau, Bang,” kata  Amin kepada Rahmat.

“Aku ingin merubah nasibku,” tambah Amin lagi.

“Hendak ke mana rupanya kau, Min?” sahut Rahmat saraya memasukkan ikatan padi yang baru dipanen ke dalam sebuah mesin perontok padi.

Bunyi deru mesin itu dan gumpalan selonsong padi yang telah lunak memaksa Amin diam sesaat.

“Ke mana saja, bang, yang penting aku tak lagi di sini!” ucap Amin pelan.

Tak terasa mentari mulai memperlihatkan kegagahannya dengan memucratkan sinarnya yang panas di tengah-tengah hamparan sawah, tempat Amin dan Rahmat bergelut dengan mesin perontok padi.

“Kita istirahat dulu, Min,” ujar Rahmat sambil melenyapkan bunyi bising mesin perontok padi.

Mereka kemudian berjalan menuju ke pondok sawah yang terbuat dari dahan-dahan bambu dan beratapkan daun rumbia.

“Kalau kau berniat sungguh-sungguh ingin merantau, aku usulkan agar kau ke negeri jiran saja, di sana banyak orang kita yang telah merubah nasib. Lagi pula, ku perhatikan, sepertinya kau cocok bekerja di bengkel karena kau bisa memperbaiki mesin-mesin,” ucap Rahmat lagi yang mencoba memberikan usulan kepada Amin.

Selain menjadi kuli tani di sawah milik orang lain, peternak bayaran, dan pemulung melinjo, Amin juga sering di panggil beberapa warga kampung Mabuk untuk memperbaiki TV, radio, dan alat-alat elektronik lainnya. Sering pula dia berada di bengkel sepeda motor sebagai mekanik panggilan.

“Lantas, bagaimana aku bisa ke sana, Bang?” tanya Amin serius. Bola matanya berbinar-binar, dan raut wajahnya yang kaku terlihat ikut berharap akan adanya jalan terang baginya.

“Gampang, engkau bisa menumpang perahu mesin milik nelayan,” jawab Rahmat seadanya dan sederhana saja.

Siang itu mereka pulang untuk menunaikan ibadah shalat zuhur sekaligus untuk makan siang. Dan seperti hari-hari biasa, pukul dua siang, Amin dan Rahmat melanjutkan kembali pekerjaan mereka di sawah.

Hati Amin girang bukan main saat itu. Yatim piatu yang ditinggal pergi sang ayah karena di bawa pergi oleh “aparat” dulu kala konflik, mencoba keluar dari kampung Mabuk untuk merubah nasibnya yang telah lama hidup sebatang kara dan terhina. Ibunya meninggal dunia karena pendarahaan saat melahirkan adik perempuannya, si bayi kecil (adiknya) juga ikut bersama sang ibu lima belas menit setelah sang ibu menghembuskan nafas terakhir. Peristiwa tersebut terjadi setelah 3 bulan ayahnya menghilang bak ditelan bumi, dan pada saat itu Amin baru saja berumur 5 tahun.

***

Tiga bulan setelah mendengar nasehat dari Rahmat, Amin menunaikan niatnya untuk hijjrah ke negeri jiran dengan menumpang perahu mesin nelayan di desa Mabuk. Amin tidak membawa apa-apa saat ia hendak merantau, dan kepergiannya juga tak dilepas oleh seorang pun, kecuali sahabatnya, Rahmat. Baju lusuh dan sendal cepit adalah harta yang melekat di tubuh kakunya yang ia bawa serta bersamanya untuk bertemu cita-citanya.

“Jaga dirimu baik-baik di sana,” suara Rahmat pelan terdengar diantara bunyi-bunyi mesin perahu nelayan.

Itulah penggalan kalimat terakhir Rahmat. Dan Amin pun pergi berlalu membawa mimpi dan semangatnya jauh meninggalkan kampung Mabuk.

Hari-hari dan bulan pun berlalu cepat. Amin menghabiskan 2 tahun dalam keadaan morat-marit di negeri jiran. Hingga akhirnya ia pun bekerja di sebuah bengkel di pusat ibu kota negeri jiran. Ia tidak bekerja sebagai montir atau mekanik saat petama kali menginjakkan kakinya di sana, melainkan menjadi tukang sapu atau office boy (OB) di rumah yang sekaligus menjadi bengkel tempat ia menetap. Amin tak pernah mengeluh dengan pekerjaan pertamanya itu, hingga akhirnya bakat terpendamnya sebagai ahli mesin lambat laun terlihat oleh sang bos. Amin terlihat lihai memperbaiki sepeda motor yang rusak walaupun tak mengenal pendidikan formal sedikitpun. Karena bakatnya tersebut telah tumbuh dan terlihat mekar indah, maka ia pun dipercayakan menjadi montir di bengkel tersebut. Amin merangkak perlahan menuju mimpinya, ia kemudian diberi modal oleh sang bos yang kagum akan kegigihan Amin. Dan mimpi itu pun akhirnya terwujud, Amin sukses dari sebuah bengkel sederhana yang kemudian membuatnya menjadi pengusaha orderdil sepeda motor yang kaya raya.

***

Sepuluh tahun setelah kepergiannya ke negeri jiran, Amin pun pulang ke kampung halamannya di negeri Miring bersama anak dan istrinya.

Orang pertama yang ingin Amin temui sesampainya ia di kampung adalah Rahmat, abang yang sekaligus sahabatnya. Amin tahu persis di mana biasanya Rahmat menghabiskan waktu senggangnya di siang hari seusai bekerja di sawah.

“Pulang juga kau akhirnya, Min,” sapa Rahmat yang sedang meneguk secangkir kopi di warung.

“Bang, apa kabar?” tanya Amin terkejut. Ia menghampiri Rahmat seraya menyalaminya.

Se-isi warung kopi tersebut menatap perubahan pribadi dan penampilan Amin penuh kagum.

“Pulang sendiri, kau?” Rahmat tak menjawab pertanyaan Amin. Ia pun merasa bahwa perubahan Amin adalah suatu kewajaran yang sudah selayaknya ia dapati.

“Tidak, Bang. Aku sudah berkeluarga. Anak istriku di rumah,” sahut Amin sambil tersenyum tipis.

“Hanya itu? Tidakkah kau bawa pulang ilmumu? Pengalamanmu? Dan pemikiranmu untuk mencerahkan pemikiran manusia di kampungmu?” tanya Rahmat lagi. Ia tidak menoleh ke arah Amin. Di tangannya terselip sebatang rokok, dan Rahmat hanya membaca koran dengan seksama. Rahmat adalah sarjana pertanian yang hanya meng-aplikasikan ilmunya di sawah-sawahnya di desa Mabuk. Lelaki yang 10 tahun tua dari Amin itu, tak bisa  hidup dengan layak atau mengubah nasibnya dengan berbekal ijazah sarjana pertanian karena ia tak punya sanak famili yang berkuasa di negeri Miring.

Pertanyaan Rahmat ternyata telah mendorong Amin untuk melakukan sesuatu pada tanah kelahirannya. Ia memutuskan menetap selama setahun di Kampung Mabuk, sedangkan usahanya di negeri jiran, ia serahkan sementara pada istrinya. Amin bersedia secara sukarela berbagi ilmunya dengan pemuda-pemuda di desa Mabuk. Menejemen organisasi dan keuangan yang ia tularkan pada seluruh pemuda desa Mabuk, melahirkan sebuah koperasi simpan pinjam yang kemudian dari koperasi tersebut terciptalah irigasi, kilang padi, dan mesin-mesin pertanian yang kesemuanya adalah milik warga desa kampung Mabuk. Kampung Mabuk sejahtera seketika, dan pemuda-pemudanya tak lagi bercita-cita menjadi ‘baju coklat, putih, dan hijau’.


[1] Pegawai Negeri

[2] Keturunan bangsawan

Biodata Penulis:

Nama: Firdaus
Tempat/ Tgl. Lahir: Sigli, 25 April 1990
Alamat: Jl. Perintis No. 9 Kel. Blang Paseh KEC. Kota Sigli KAB. Pidie  PROV. Aceh
Kode Pos: 24118
Pekerjaan: Mahasiswa (Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Jabal Ghafur Gle Gapui-Sigli)
E-Mail/FB/Twitter : [email protected]/Dauz Yusuf/[email protected]
No. HP : 085370136430

Karya Yang Sudah Terpublikasikan: 

Antologi cerpen:
 Cinta Si Abua Amat (FAM Publishing, 2012)
 Tiga Pilihan yang diajukan oleh Waktu (Plotpoint, 2012)
Anakku Tersayang Hilang dari Pandangan (www.berdikarionline.com, 10/1/2013)

Artikel/ Opini:
Learning by Doing (www.unigha.ac.id, 23/2/2011)
Menoleh ke Spion Sejarah (theglobejournal.com, 3/1/2013)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut