Cerpen: Ingat Pesan Lagu ‘Bunga Seroja’

Minggu lalu, warga kampung X digusur paksa oleh pasukan Brimob atas perintah perusahaan sawit. Situasi di sana masih cukup mencekam. Bersama Firman, seorang warga, aku memaksa masuk ke kampung itu suatu malam.

Teman-teman di kampus sudah mengingatkan, “Bil, kau jangan masuk ke sana dulu. Pasukan Brimob masih berjaga-jaga. Nanti kau bisa dituding provokator.” Tapi aku, manusia yang dikenal keras kepala ini, tetap ngotot.

Dengan sepeda motor,  aku dan Firman memasuki kampung dengan menembus kabut tengah malam. Jalanan amat sepi. Hanya ada suara jangkrik dan katak yang saling beradu. Di sana sini terlihat batangan pisang dan bongkahan kayu di tengah jalan.

Kami masuk ke kampung dengan berjalan kaki. Suasananya begitu sunyi dan senyap. Hanya sesekali gonggongan anjing yang menyambut kami. Firman segera bersiul seakan memberi isyarat. Benar saja, belasan pemuda keluar semak-semak dan menemui kami.

Tanpa sempat bertegur sapa, saya dan Firman disuruh berjalan di belakang mereka. Entah dibawa kemana aku malam mini. Tiba-tiba, di tengah kesunyian malam itu, Ponselku bordering. Kulihat di layarnya: incoming call My Lovely.

Ah, mengganggu saja, pikirku. Kuabaikan panggilan itu. Tiba-tiba tanda pesan masuk bordering lagi. Kembali kulihat layar ponselku: Say, jangan lupa ya, besok aku Ulang Tahun. Pokoknya, kamu harus datang dan memberiku kado paling romantis di dunia. See you..”

Firman berbalik dan membisikkan sesuatu di kupingku: “Bung, dimatikan saja ponselnya demi keamanan kita. Jangan sampai didengar preman perusahaan, bisa habis kita malam ini.”  Dan permintaannya segera kuiyakan dan kujalankan.

Setelah berjalan 30 menit, dengan menembus semak-belukar, sampailah kami di tempat tujuan. Oh, rupanya, sebagian besar lelaki kampung berlindung di tengah hutan lebat. Katanya, polisi dan Brimob sedang melakukan pembersihan kampung. Semua lelaki dewasa ditangkapi.

Kulihat pak Gunardi, seorang bekas pejuang kemerdekaan, berada di tengah-tengah warga. Ia seakan sedang memberi wejangan-wejangan. Melihat aku datang, Pak Gunardi langsung datang dan mengajak ngobrol.

“Baru datang, bung?”

“Iya, pak, baru beberapa menit yang lalu. Kawan-kawan yang gak sempat datang. Mereka hanya mengirim pesan. Katanya, kasus ini sudah ramai diberitakan media massa nasional,” kataku berusaha memberi suntikan semangat.

“Oh, baguslah, artinya apa yang terjadi dengan rakyat di sini sudah terdengar keluar.”

Segera kuaktifkan kembali ponselku. Dan ting….ada 20 pesan baru yang masuk. Semuanya nyaris sama isinya: “Say, aku telpon kamu kok HP-mu di luar jangkauan. Emangnya kamu di mana?” Pesan lainnya lagi berbunyi: “Say, kalau kamu belikan aku kado, jangan yang murah-murah ya. Nanti malu sama teman-teman.”

Pak Gunardi tersenyum, seakan tahu isi pesanku. Ia pun segera menyindir, “kalau dalam situasi revolusi begini, suasana hati dan perasaan itu harus dikosongkan dulu dari asmara.”

Betapa malunya aku. Seorang pejuang kemerdekaan menasehati seorang aktivis mahasiswa kiri-revolusioner. Aduh, kalau ketahuan kawan-kawan, bisa jadi bahan lelucon aku.

Belum selesai mukamu memerah karena sindiran itu, Firman langsung mengadu:

“Iya, pak, masak tadi di perjalanan, ponselnya tak pernah berhenti berdering. Bayangkan kalau dalam situasi perang, kita pasti sudah habis disikat musuh,”

“Hushh..ini urusan orang dewasa. Anak di bawah umur gak usah ikut campur,” kataku mendengus.

Pak Gunardi segera mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya. Dibakar dan kemudian dihisapnya dalam-dalam. Lalu, ia mulai bercerita:

“Kau pernah dengar lagu Bunga Seroja?” ia bertanya, kemudian melanjutkan, “Resapi lagu itu dalam-dalam dan kau akan ketemu maknanya.”

“Sering sekali, pak,” jawabku.

“Lagu itu punya kesan tersendiri buat saya,” katanya sambil memperbaiki dudukan kacamatanya. Lalu Ia pun mulai berkisah:

Dahulu, katanya, ia menjadi anggota pasukan gerilya. Saat itu, kedudukan Republik sudah terjepit. Belanda menebar mata-mata di mana-mana untuk mengetahui posisi pasukan Republik.

Suatu hari, ketika sedang berjaga-jaga, Gunardi didatangi seorang perempuan cantik. Ia memperkenalkan diri sebagai “Sulastri”. Pendek cerita, Sulastri merayu Gunardi agar diijinkan ikut dengan gerilyawan.

Gunardi terpesona dengan kecantikan Sulastri. Tanpa berfikir panjang, Sulastri pun diboyongnya ke markas tentara. Kepada komandan dan kawan-kawannya, Gunardi bilang kalau Sulastri adalah tunangan dari kampung.

Komandannya tetap tak terima. Di dalam keadaan yang sedang genting, kata Komandannya, kewaspadaan harus dipertinggi dan jangan gampang terjebak dalam urusan asmara. “Asmara yang berlebihan bisa mengurangi kewaspadaan dan militansi,” kata komandannya.

Sulastri, yang sudah tahu lokasi gerilya, berpura-pura memahami keputusan itu. Ia lantas pamit dan mengaku ingin kembali ke kampung.

Eh, dua hari kemudian, pesawat tempur Belanda datang dan menjatuhkan bom. Pasukan gerilya kalang-kabut. Mereka tak menyangka akan diserang secara tiba-tiba. Tak hanya itu, pasukan darat Belanda juga sudah mengepung tempat itu. Suara tembakan bersahut-sahutan dari berbagai penjuru.

Banyak pasukan gerilya yang gugur. Komandan pasukan juga gugur. Gunardi, yang sempat menyelamatkan diri, kehilangan kaki bagian kirinya.

Belakangan diketahui, Sulastri adalah mata-mata Belanda. Ia sengaja disebar untuk mencari tahu kedudukan pasukan gerilya.

“Gara-gara asmara yang tak terkontrol, saya tidak hanya kehilangan komandan dan banyak kawan saya, tetapi juga kehilangan kaki kiri saya. Akhirnya, saya berpuluh-puluh tahun bertopang pada tongkat dan kaki palsu,” katanya.

Katanya, lantaran peristiwa itu, ia selalu terkenang lagu “Bunga Seroja”. Dia bilang, lagu itu diciptakan pada masa perjuangan, yang tujuannya mengajak pemuda-pemuda meninggalkan asmara dan terjun ke revolusi.

Mari menyusun seroja
Bunga seroja ah… ah…
Hiasan sanggul remaja
Puteri remaja ah… ah…

Rupa yang elok
Dimanja jangan dimanja ah… ah…
Puja lah ia oh saja
Sekadar saja

Reff
Mengapa kau bermenung
Oh adik berhati bingung
Mengapa kau bermenung
Oh adik berhati bingung

Janganlah engkau percaya dengan asmara ..
Janganlah engkau percaya dengan asmara ..
Sekarang bukan bermenung, zaman bermenung ..
Sekarang bukan bermenung, zaman bermenung ..
Mari bersama, oh adik memetik bunga ..
Mari bersama, oh adik memetik bunga ..

Mari menyusun seroja
Bunga seroja ah… ah…
Hiasan sanggul remaja
Puteri remaja

Rupa yang elok
Dimanja jangan dimanja ah… ah…
Puja lah ia oh saja
Sekadar saja

Kata pak Gunardi, mari menyusun seroja itu maksudnya mari menyusun “barisan perlawanan”. Kata “bermenung” itu maksudnya “berpangku tangan”. Sedangkan kata “memetik bunga” berarti “mengangkat senjata”. Dalam situasi represif jaman itu, supaya tidak ketahuan Belanda, lirik lagunya memang sengaja diubah.

Di tengah kuliah umum Pak Gunardi kepadaku, aku segera menulis pesan singkat kepada pacarku: “Aku minta maaf, sayang. Aku sudah memutuskan untuk memilih jalan revolusi untuk membela rakyat. Aku tak mau terperangkap dalam asmara yang berlebihan. Jadi, kita putus sekarang juga!”

Pesanku terkirim. Beberapa menit kemudian datang balasan: “Ciyus? Miapah?”

Adi Firmansyah ([email protected])

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut