Bung Karno: Ya, Aku Marxis!

Bung Karno-13.jpg

Fabruari 1966. Suasana Ibukota Republik Indonesia, Jakarta, masih genting. Anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dikejar-kejar, disiksa, dipenjara, dan dibantai. Kantor Central Comite (CC) PKI di Jalan Kramat 81, Jakarta Pusat, sudah ludes dibakar massa anti-komunis.

Kekuasaan Bung Karno diujung tanduk. Kudeta merangkak yang dirancang Soeharto dan CIA memang menyasar Bung Karno. Maklum, di bawah kekuasaan Bung Karno, haluan ekonomi-politik Indonesia sangat anti-kolonialisme dan anti-imperialisme.

Soeharto dan kelompoknya berusaha menyeret Bung Karno ke dalam peristiwa G/30/S. Untuk itu, disusunlah propaganda mendiskreditkan Bung Karno. Poster dan famplet, yang didalamnya menyebut Soekarno seorang marxis, disebar dan ditempel dimana-mana.

Bung Karno tidak gentar. Tanggal 28 Februari 1966, di hadapan peserta Sapta Warsa Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI), Bung Karno terang-terangan mengakui dirinya seorang marxis. “Aku tegaskan dengan tanpa tedeng aling-aling, ya, aku marxis,” kata Bung Karno.

Itu bukan pertama kalinya Bung Karno menyebut diri marxis. Tanggal 6 September 1966, ketika menerima delegasi Angkatan 45 di Istana Negara, Bung Karno juga menyatakan dirinya seorang marxis. Bahkan, menurut pengakuannya, sejak tahun 1928, Ia sudah menjadi marxis, sekaligus nasionalis dan agamais. “Marxisme adalah isi dada saya,” ujar Bung Karno.

Bahkan, di pertemuan dengan Angkatan 45 itu, Bung Karno sempat mengungkapkan kemarahannya kepada MPRS yang berkeinginan melarang ajaran marxisme. “Kalau engkau (MPRS) mengambil keputusan melarang Marxisme, Leninisme, Komunisme, saya akan ketawa,” tegasnya.

Bagi Bung Karno, sebuah ideologi atau ajaran tidak boleh dilarang. Yang harus dilarang, katanya, adalah kegiatan marxisme atau komunisme yang merugikan negara. Ia sadar, sebuah ajaran atau pemikiran tidak terlepas dari sociaal economische verhoudingen (relasi sosial ekonomi). Ia mencontohkan, marxisme tidak akan pernah bisa dihilangkan jikalau sociaal economische verhoudingen masih sangat buruk. Sebab, marxisme adalah senjatanya kaum tertindas untuk membebaskan diri dari segala bentuk penghisapan.

Marxisme sendiri sangat mempengaruhi Bung Karno. Dalam artikel berjudul “Menjadi Pembantu Pemandangan: Soekarno, oleh…Soekarno sendiri”, yang dimuat di Pemandangan, 1941, Bung Karno menganggap marxisme sebagai teori yang paling kompeten untuk memecahkan soal sejarah, politik, dan sosial-kemasyarakatan.

Bung Karno juga mengakui, berkat kontribusi marxisme, ajaran nasionalismenya tidak tergelincir ke chauvinisme dan fasisme. Memang, di banyak negara, terutama di Eropa, ajaran nasionalisme cenderung menjadi chauvinis dan fasistik.

Di tahun 1920, era ketika Bung Karno mulai tampil di pentas pergerakan, pengaruh marxisme sangat kuat. Hampir semua tokoh pergerakan saat itu, termasuk Tjokroaminoto, sangat terpengaruh marxisme. Banyak Haji-Haji  dan pemuka agama juga menjadi marxis, seperti Haji Misbach, Haji Datuk Batuah, KH Tubagus Achmad Chatib, Natar Zainuddin, dan lain-lain.

Soekarno mengaku belajar marxisme sejak usia 16 tahun. Di Surabaya, saat mondok di rumah HOS Tjokroaminoto, Soekarno menyelami marxisme. Awalnya, ia mempelajari marxisme dari para penafsir marxisme. Setelah itu, ia mulai membaca karya-karya Marx dan Engels. “Pada waktu muda-mudi yang lain menemukan kasihnya satu sama lain, aku mendekam dengan Das Capital. Aku menyelam lebih dalam dan lebih dalam lagi,” kenang Bung Karno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Rumah Tjokro sendiri sering berfungsi sebagai tempat mangkalnya aktivis pergerakan. Tokoh-tokoh komunis, seperti Semaun, Sneevliet, Alimin, dan Musso, serang datang ke rumah Tjokro. Di situlah Bung Karno muda mengenal tokoh-tokoh marxis tersebut. “Bahanku juga dari marxisme, yang aku dapat dari Semaun, yang aku dapat dari pemimpin-pemimpin Belanda seperti Hartogh dan Sneevliet,” kata Bung Karno seperti dikutip Budi Setiyono dan Bonnie Triyana dalam buku kumpulan pidato, Revolusi Belum Selesai.

Dengan menjadikan marxisme sebagai alat analisanya, Bung Karno berusaha menganalisa situasi dan perkembangan masyarakat Indonesia. Hasilnya jelas: Marhaenisme. Dan ajaran Marhaenisme ini, seperti sering ditegaskan Bung Karno, adalah Marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dilaksanakan di Indonesia.

Marxisme juga mempengaruhi ajaran Bung Karno yang lain, terutama Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi. Bahkan, kalau mau jujur, Pancasila sendiri sangat kental dengan pengaruh marxisme. Nama Lenin, pemimpin komunis Uni Soviet, juga beberapa kali disebut dalam Pidato 1 Juni 1945—lahirnya Pancasila.

Para pendiri bangsa, seperti Bung Hatta dan Sjahrir, juga sangat dipengaruhi Marxisme. Penyusunan konstitusi kita, UUD 1945, banyak disumbangkan oleh tokoh-tokoh bangsa beraliran marxis. Sampai-sampai mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, menyebut UUD 1945 sangat dipengaruhi “Das Capital”.

Bung Karno juga sering murka kepada kaum intelektual, termasuk professor, yang mengabaikan Marxisme. Pada saat pembukaan Upgrading Wartawan PWI di Istana Bogor, 12 Februari 1966, Bung Karno menyindir professor ekonomi yang hanya mengajarkan liberalisme ekonomi kepada mahasiswa Universitas, tetapi mengabaikan marxisme dan ajaran-ajaran Karl Marx.

Marxisme dengan berbagai variannya sangat berkontribusi dalam perjuangan nasional Indonesia. Para pendiri bangsa juga banyak dipengaruhi oleh marxisme. Karena itu, tak bisa disangkal lagi, berdirinya NKRI ini tidak lepas dari kontribusi marxisme.

Ironisnya, dalam pembahasan Rancangan KUHP, DPR masih berusaha keras menempatkan ajaran Marxisme sebagai musuh NKRI, Pancasila, dan UUD 1945. Bahkan, tindakan yang dianggap menyebarkan dan mengembangkan ajaran komunisme/Marxisme-Leninisme akan diganjar hukuman penjara 7 tahun.

Saya bisa menyimpulkan: kalau DPR sampai tetap melakukan itu, berarti mereka telah menyangkal dan mengharamkan pemikiran Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan lain-lain. Artinya, mereka telah berusaha mengubur pemikiran yang berkontribusi dalam perjuangan bangsa ini.

Rudi Hartonopengurus Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (PRD); Pimred Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • DPR yg mana???!!! Jangankan Pancasila, Demokrasi Negara ini hanya semu…Demokrasi Indonesia itu hanya simbol apalagi DPR. Bagaimana dibilang negara demokrasi kalau DPR wakil kaum IMPERIALIS (Dewan Perwakilan impeRialis) plus otak korupsinya. Apalagi eksekutif-nya, merekalah eksekutor kaum impeRialis plus jg OTAK korupsi.
    Jelas2 makna dri demokrasi itu sendiri kekuasaan at pemerinatahan dari, oleh dan untuk rakyat. Jadi Rakyat dimana dlm Negara ini??? Harapan rakyat hanyalah pd Pancasila, dan Batang Tubuh (UUD1945). Sayang-seribu-syg MAHKAMAH KONSTITUSI dan AGUNG pun tidak lepas dari cengkraman impeRialis. Sungguh hancur sistem POLITIK, HUKUM, EKONOMI dan TATA NEGARA ini oleh impeRialis (kapital). Mereka tidak ingin demokrasi trejadi di Indonesia apalagi PANCASILA dan UUD 1945 di tegakan.
    Selama blm terjadi penemuan REVOLUSI Kembali selama itu juga demokrasi kita bkn PANCASILA, bkn KOMUNIS atau pun LIBERAL tapi demokrasi kita adlh ‘demokrasi IMPERIALIS/KAPITAL’

    Imperialisme bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negeri atau bangsa lain, tapi imperialisme bisa juga hanya nafsu atau sistem mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain. Ia tak usah dijalankan dengan pedang atau bedil atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa pengluasan daerah negeri dengan kekerasan senjata sebagai

    diartikan oleh Van Kol, tetapi juga berjalan dengan “putarlidah” atau cara “halus-halusan” saja, bisa juga berjalan dengan cara “pénétration pacifique”…………………………

    —INDONESIA MENGGUGAT, hlm 81—-

    Benar seperti kata Jean Juares, di dalam Dewan Rakyat Perancis terhadap wakil-wakil kaum modal, “Imperialisme itulah penghasut yang besar yang menyuruh berontak; karena itu bawalah ia ke depan polisi dan hakim.”

    —INDONESIA MENGGUGAT, hlm 81—-

    SALAM REVOLUSI

  • melatiharum

    Memahamkan marxisme – Imperialisme – Demokratisme – -Presidenisme -DPRisme – CAMATISME -LURAHISME-RTISME dan isme yang lain seharusnya di sekolah itu di lakukan dengan berimbang di sertai dengan contoh yang bijak . Esensi dari apapun nama pergerakan itu sesungguhnya adalah bagaimana tercapainya tujuan dengan cara yang elegan – Fair – Akuntabilitas . Jika mau Jujur , Hari ini apa yang tdk di KAPITALIS oleh negeri ini ,wong Ibadah pada TUHAN aja Di KAPITALIS kok !! ( TERLALUU Kt Bang Rhoma Irama ) , Ayo akar masalah bangsa ini di selesaikan dulu . Puncaknya ,samakan visi -misi meski beda persepsi ,kultur ,beda Partai ,beda agama .Pastikan tujuan kita satu …Yuk kita bangun Indonesia lebih baik bersama -sama

  • Aji Trilaksmana

    Kata bung hatta beliau ingin mendirikan partai bernama partai pendidikan. Pendapat saya, Karena pendidikan sebagai jalan manusia untuk mulai belajar menggunakan akal pikiran dan hatinya untuk mencari Tuhannya. Karena di al-quran ada kata yaitu “orang yang beragama adalah orang yang menggunakan akalnya” dan dia tidak akan menyakiti fisik atau hati sesama manusia.

  • eki

    Soryy banget bung RUDY HARTONO saya ikut komentar disini, saya cuma mau meluruskan tentang prinsip soekarno sebagai marxisme. Anda menulis dan memahami beliau salah besar.. Bungkarno adalah seorang PANCASILAISME, orang yang mengajarkan PANCA AZIMAT REVOLUSI dan MARHAENISME. PANCASILA ITU DIRANCANG DAN DI CIPTAKAN OLEH PENDIRI BANGSA,LELUHUR KITA,NENEK MOYANG KITA, YANG TIDAK TERTULIS DAN SEBAGIAN ADA TOKOH YANG TERTULIS / TERKEMUKA…. HEY BUNG RUDY HARTONO HARUS ANDA KETAHUI…!!!!! DI DIBALIK PANCASILA ITU ADA DEWAN MAJLIS PANCASILA YANG TERDIRI DARI TOKO TOKOH PERWAKILAN SEMUA LAPISAN MASYARAKAT. ADAT ADAT DAN KERAJAAN MAUPUN NASIONALIS DAN AGAMAWAN DAN LAIN LAIN. YANG BERTANGGUNG JAWAB DAN MENJAMIN PRINSIP DAN AJARAN PANCASILA ITU. ANDA DAN SAYA HARUS HARUS FAHAMI DAN PELAJARI ITU SEMUA, KITA SEBAGAI GENERASI PENERUS BANGSA DIWAJIBKAN BERDIKARI….. SEKALI LAGI BERDIKARI … BERDIKARI DENGAN LANDASAN PANCASILA BUKAN. MENGAMALKAN PRINSIP PRINSIP DARI BARAT, TIMUR, SELATAN, UTARA, atau yang lain.. TERIMA KASIH..!!! Kontak saya 085221311958 PIN BB 22B45306

  • Mikha

    Tidak dapat disangkal pembentukan Pancasila sebagai dasar Negara itu melalui proses dari buah Pemikiran Soekarno pada dasarnya, KOndisi tahun 1945-46 kynya gk mungkin mengadakan rapat besar2an untuk membentuk Pancasila, lha orang kumpul aja bs disel sm Jepang, pemikiran saya ini, Pancasila adalah Buah Pikir Soekarno pd intinya.Sepakat bahwa Soekarno banyak dipengaruhi paham Marxist dari Muda sampai tua nya dia tetap berpandangan akan Marxist, karena apa yang salah dari paham Marxist?? gk ada yg bs menyalahkannya, hanya bilang “ih komunis, ih marxist” tanpa tau apa itu Marxist dan apa yg diajarkannya.Perjuangan Indonesia erat dg marxist, satu2nya partai yang berani melawan Belanda dan memberontak pada Belanda 1926 dan menjadi cikal bakal lahirnya Soempah Pemuda 1928, wlp Pemuda/pemudi/orang tua di Th 1926 banyak yg gugur/ hilang oleh Belanda untuk mewujudkan Persatuan Indonesia yg mempunyai hak atas Tanahnya Sendiri, sama hak antara Belanda-Indonesia di Dunia. Yang saya mau tanya dimana orang2 itu yg katanya berjuang untuk Indonesia di masa2 dl atau 1926?? padahal saat itu sudah ada partai2 lain?? aneh kan? Sepakat melarang paham Marxist, komunis, berarti mengingkari Indonesia yang sebenarnya, yang lahir dari buah Pikir para pemuda2 berpaham Marxist.

  • Taufik Rahman

    Saya ada sedikit tulisan tentang hal ini di http://www.anakadam.com/2016/07/kenapa-marx-selalu-menarik/ Terimakasih.