Bung Hatta Dan Nama “Indonesia”

Suasana Sabtu malam yang ceria di Depok, Jawa Barat. Tetapi ini bukan malam untuk hura-hura. Ini adalah malam budaya yang digelar sejumlah seniman Depok untuk mengenang Bung Karno. Dengan musik, juga puisi-puisi, mereka merindukan sosok Bung Karno.

Tetapi, ada hal yang menggelitik saya dari Malam Budaya itu. Yakni: pernyataan seorang seniman, bahwa nama “Indonesia” adalah hasil pemberian Belanda. Baginya, penerimaan nama Indonesia sebagai nama negeri yang diperjuangkan hanyalah sebuah kompromi politik di kalangan kaum pergerakan.

Penjelasan seniman itu begitu meyakinkan. Banyak pendengar menganguk-angguk seakan menyetujui. Ironisnya lagi, si seniman berpendapat, Indonesia bisa diganti kapan saja. Tergantung kesepakatan. Toh, kata dia, Indonesia hanya pemberian Belanda. Ia mengusulkan agar Indonesia diganti “Nusantara”.

Malam itu juga saya teringat Bung Hatta. Penggunaan nama “Indonesia” tidak lepas dari andil Bung Hatta. Itu terjadi pada Februari 1922. Saat itu Indische Vereeniging, organisasi pelajar dan mahasiswa Indonesia di negeri Belanda, menggelar pertemuan penting. Pertemuan inilah yang mengubah nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereniging.

Indonesische Vereeniging-lah organisasi yang punya andil mengenalkan kata “Indonesische” di ranah pergerakan. Sebelumnya, Profesor Van Vollenhoven juga sudah menggunakan kata “Indonesier” dan kata sifat “Indonesich” dalam buku-bukunya. “Tetapi kata ‘Indonesia’ sebagai Tanah Air adalah ciptaan Indonesische Vereeniging,” kata Bung Hatta dalam memoirnya yang ditulis tahun 1979.

Pada tahun 1925, Indonesische Vereeniging berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Sebelumnya, majalah Indonesische Vereeniging sudah diberi nama “Indonesia Merdeka”.

Di tanah air, organisasi pertama yang menggunakan kata Indonesia adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Itu terjadi tahun 1924. PKI sendiri berdiri 23 Mei l920, dengan nama “Partai Komunis Hindia”. Baru pada Juni l924, melalui sebuah Kongres di Weltevreden, Partai Komunis Hindia berubah menjadi Partai Komunis Indonesia. Makanya, untuk mencegah meluasnya penggunaan kata ‘Indonesia’ dalam gerakan politik, Belanda mencap kata Indonesia sebagai kata komunis.

Ketika Bung Karno mendirikan partainya tahun 1926, Ia juga menamainya: Partai Nasional Indonesia (PNI). Menurut Taufik Rahzen, seorang sejarawan sekaligus budayawan, Bung Karno punya andil besar dalam mempopulerkan nama Indonesia ke massa rakyat melalui pertemuan atau Rapat Akbar (Vergadering).

Namun, sebelum muncul nama “Indonesia”, pernah ada organisasi politik yang mengusulkan nama lain, yakni Indische Partij (IP). Organisasi ini didirikan oleh tiga serangkai: Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryadingrat (Ki Hajar Dewantara). Saat itu IP mengusulkan nama “Hindia”. Seruan politiknya yang terkenal adalah “Hindia lepas dari Nederland”. Sayang, gagasan IP kurang mendapat sambutan luas.

Memang, seperti diuraikan Bung Hatta dalam pidatonya di depan pelajar-pelajar Indologi di Utrecht, 1930, setelah cita-cita tanah air merdeka terbit di kalangan pergerakan kemerdekaan, maka tanah air yang dicita-citakan itu harus diberi rupa dan wajah sendiri. “Terlebih dahulu haruslah Tanah Air itu mempunyai nama sendiri,” kata Bung Hatta.

Menurut Bung Hatta, nama Hindia-Belanda tidak patut lagi dipertahankan. kata “Hindia Belanda” dianggap perlambang jajahan alias tidak merdeka. Begitu pula dengan istilah “Nederlandsch Indie”. Tetapi Bung Hatta juga tidak setuju dengan nama “Hindia”–usulan Indische Partij. “Sebab nama ini mudah menimbulkan keliru dengan negara bersebelah, yang resmi bernama India,” ujar Bung Hatta.

Pada tahun 1926, diadakan Kongres Demokrasi Internasional di Biervielle, Prancis. Bung Hatta mewakili Perhimpunan Indonesia hadir di pertemuan tersebut. Namun, Bung Hatta hadir sebagai delegasi “Asiatique”. Di situ Bung Hatta memperkenalkan nama “Indonesia” sebagai pengganti “Hindia-Belanda”.

Penggunaan kata “Indonesia” bukan tanpa hambatan. Bagi kaum reaksioner Belanda, penggunaan kata “Indonesia” sebagai ganti “Hindia-Belanda” adalah tindakan makar atau keinginan lepas dari Nederland. Tak jarang, mereka yang menggunakan nama Indonesia ditakut-takuti dengan cap komunis.

Profesor Van Vollenhoven, seorang etisi yang kerap menggunakan kata Indonesier, juga tidak setuju bila Indonesia diberi makna politik sebagai pengganti Hindia Belanda. Alasannya, Hindia-Belanda adalah istilah untuk semua jajahan Nederland di Asia Tenggara yang mencakup 66 juta orang (statistik jaman itu). Sedangkan Indonesia sendiri hanya mencakup wilayah yang mencakup 49 juta orang.

Namun, kehendak sejarah tidak bisa dibendung. Nama Indonesia makin populer dan diterima luas oleh kaum pergerakan kemerdekaan. Setelah berdirinya PNI, hampir semua organisasi pergerakan di tanah air juga menggunakan nama Indonesia. Dan ini makin ditegaskan melalui Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yang menegaskan: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yakni INDONESIA.

Memang, penemu kata “Indonesia” adalah seorang etnolog Jerman, Adolf Bastian. Bastian sudah memakai nama Indonesia sejak 1884, ketika tanah air ini masih bernama Nederlandsch-Indie, yang berarti Hindia kepunyaan Belanda.

Bastian sendiri mengunjungi Indonesia sebanyak empat kali, yakni antara tahun 1864 dan 1880.  Ia memakai kata Indonesia dalam karyanya Indonesien Oder Die Inseln Des Malayischen Archipels dan Die Volkev des Ostl Asien. Dalam bukunya, kata Indonesia merujuk pada pulau besar dan gugusan pulau yang mengitari pulau besar di kawasan ini-dari Jawa, Sumatera, Borneo (Kalimantan), Celebes (Sulawesi), Molukken (Maluku), Timor, hingga Flores. “Indonesia adalah satu kesatuan kepulauan Nusantara yang berumpun Melayu,” ujarnya.

Pada 1847, di Singapura, terbit majalah ilmiah tahunan bernama Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh JR Logan. Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, Earl, etnolog Inggris, mengusulkan agar wilayah jajahan Belanda ini diberi nama yang khas. Bukan Hindia, karena sering ketukar dengan penyebutan wilayah lain. Earl mengajukan dua nama: Indunesia atau Malayunesia. Earl sendiri cenderung memakai nama Malayunesia. Sementara JR Logan lebih memilih nama Indunesia. Belakangan, huruf “U” diganti “O”, sehingga menjadi: Indonesia.

Jadi, Indonesia bukan hadiah Belanda. Ini adalah istilah politik yang lahir dari jaman pergerakan kemerdekaan.

Rudi HartonoPimred Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut