Buddha, Moralitas dan Semangat Kemanusiaan

Jumat, 28 Mei 2010 | 09.11 WIB | Editorial

Hari Raya Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddharta Gautama yang kemudian digelari Buddha (yang Tercerahkan): kelahiran, pencerahan, dan kematiannya. Kini, kurang lebih 24 abad setelah kehidupannya, ajarannya telah berkembang menjadi agama keempat terbesar di dunia, menempati posisi penting dalam khasanah peradaban manusia.

Dalam sejarah Indonesia kuno khususnya, pengaruh agama Buddha menyertai masa-masa keemasan peradaban nusantara. Kerajaan maritim besar pertama di nusantara, Sriwijaya, tercatat sebagai pusat agama Buddha pada jamannya. Kini, saksi bisu pengaruh Buddha di tanah air terwujud dalam Borobudur yang di bawah purnama dijadikan tempat upacara Waisak.

Rakyat nusantara yang selama berabad-abad menjadi persilangan dari berbagai peradaban besar di dunia telah terbiasa mengasimilasi berbagai pengaruh dari luar. Tidak dapat disangkal bahwa pengaruh agama Buddha telah turut memperkaya sejarah dan pandangan hidup masyarakat nusantara. Atas alasan ini, bangsa Indonesia secara umum dapat memandang Waisak maupun hari raya agama lainnya bukan sekedar perayaan bagi umat yang bersangkutan, melainkan juga sebagai perayaan terhadap kekayaan sejarah dan budayanya.

Dalam pembahasan ini, barangkali tidak ada salahnya mengangkat sebagian kecil nilai-nilai universal dalam ajaran Buddha. Sebutlah, lima landasan moral yang dianjurkan oleh Buddha sebagai langkah awal membebaskan diri dari ketergantungan yang mendatangkan penderitaan: 1) tidak membunuh, 2) tidak mencuri, 3) tidak melakukan penyelewengan seksual, 4) tidak berbohong, 5) tidak mengonsumsi hal-hal yang memabukkan.

Etika moral diatas bisa dibilang dapat diterima oleh seluruh masyarakat, bukan sekedar umat Buddha. Ironisnya, tidak susah pula menarik kesimpulan awam bahwa ia justru kerap bertentangan dengan kenyataan yang banyak ditemukan dalam kehidupan bermasyarakat atau politik.

Korupsi, contohnya, begitu marak mengisi berita sehari-hari sehingga seakan menjadi kenyataan yang tidak dapat diubah, semacam banalitas, yang mau tidak mau harus ditelan dan dimaklumi oleh masyarakat. Tak asinglah selentingan bahwa ini negeri di mana copet digebuki sampai mati sedangkan maling uang rakyat berjumlah milyard dan trilyunan rupiah bisa ongkang kaki di luar negeri. Lalu kampanye hubungan masyarakat bisa memulihkan nama baik seseorang dari tersangka maling menjadi pahlawan. Lihatlah, misalnya, kasus Sri Mulyani yang meskipun sedang dalam proses pemeriksaan, bisa serta merta ‘diungsikan’ ke Washington dengan disertai berbagai puja puji di media. Tentunya, masyarakat kita tidak kondusif bagi perwujudan moral seperti di atas, namun bukan berarti tidak ada harapan.

Kisah Buddha yang mendedikasikan hidupnya untuk mencari penawar atas penderitaan manusia, bahkan mahkluk hidup pada umumnya, merupakan narasi agung yang terus bergaung dalam semangat generasi dan tokoh besar yang berpihak pada kemanusiaan. Bangsa Indonesia bisa berefleksi pada sang ibu kandung pergerakan, Kartini, yang tergerak hatinya atas penderitaan rakyat di sekelilingnya dan berupaya membebaskannya dari kemiskinan dan kebodohan. Dengan begitu ia turut membidani pergerakan Indonesia itu sendiri, yang bertujuan menghantarkan rakyat nusantara ke tatanan masyarakat yang lebih manusiawi. Di tengah kebobrokan masyarakat saat ini, semangat seperti inilah yang tampaknya perlu terus diperingati dan dikobarkan.

Selamat Hari Raya Waisak!

Anda dapat menanggapi editorial kami di email: [email protected]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut