‘Bersatu Dalam Perbedaan’

Wakil Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, membacakan surat Hugo Chavez saat pertemuan CELAC.

Pada hari Senin, 28 Januari 2013 lalu, 33 negara anggota Komunitas Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC) berkumpul di Santiago, Chile, untuk menyatukan tekad membangun persekutuan regional.

Pertemuan itu adalah pertemuan kedua. Pertemuan sebelumnya berlangsung di Caracas, Venezuela. Pada saat itu, 33 negara anggota CELAC sepakat mengusung “deklarasi Caracas”.

Yang menarik dari pertemuan kedua ini, hampir semua negara anggota, yang berasal dari spektrum politik yang beragam, berhasil menyatukan tekad bersama untuk integrasi regional.

Dalam pertemuan kemarin telah disepakati Deklarasi Santiago, yang mencakup 73 poin. Deklarasi itu mengharapkan agar CELAC muncul sebagai aktor politik untuk integrasi ekonomi, politik, sosial, dan budaya di kawasan ini.

Forum CELAC menyatakan solidaritas untuk Venezuela dan Presiden Hugo Chavez, mendukung proses dialog antara pemerintah Kolombia dan gerilyawan FARC, dan kepedulian atas situasi di Suriah.

“Kami juga sepakat untuk berkolaborasi dalam melindungi lingkungan dan melindungi hak-hak penduduk yang bermigrasi dari suatu negara ke negara lain,” kata Presiden Chile, Sebastian Pinera.

Tak hanya itu, 33 pemimpin negara Amerika Latin mencapai kesepakatan mengenai kedaulatan Argentina atas kepulauan Falkland/Malvinas, penghentian embargo atas Kuba, dan perjuangan mengatasi kesenjangan di kawasan itu.

Tak heran, sekretaris eksekutif Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin dan Karibia (ECLAC), Alicia Bárcena, menyatakan bahwa Amerika Latin dan Karibia sudah sangat berubah.

Maklum, masa lalu Amerika Latin akrab dengan istilah “halaman belakang” Amerika Serikat. Tak hanya itu, melalui doktrin Monroe AS berusaha mengontrol dan mendominasi Amerika Latin.

Presiden Chile, Sebastian Pinera, memastikan bahwa kunci utama proses integrasi regional adalah proses inklusif, yang di satu sisi menegaskan konvergensi pada kepentingan bersama, tetapi di sisi lain terbuka berhubungan dengan yang di luar.

Presiden Venezuela, yang masih menjalani perawatan di Havana, Kuba, hanya sempat mengirimkan surat. Dalam suratnya yang dibacakan oleh Wakil Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, Chavez mengingatkan bahwa CELAC merupakan proyek politik penting untuk kesatuan ekonomi, politik, dan sosial-budaya di kawasan itu.

Chavez juga menegaskan, doktrin Monroe sebagai alat penindasan, dominasi, dan perpecahan akan hilang selama-lamanya di kawasan Amerika latin dan Karibia.

Chavez pun mengutip kata-kata pemikir Argentina, Jorge Abelardo Ramos: Amerika Latin tidak terpecah-belah karena ‘terbelakang’, tetapi menjadi ‘terbelakang’ karena terpecah belah.

Karena itu, Presiden Chavez menegaskan, Amerika latin harus hidup belajar hidup berdampingan sekalipun ada perbedaan-perbedaan, saling menghargai dan menerima, dan mencari jalan untuk saling melengkapi satu sama lain.

Apa yang disampaikan Chavez masuk akal. 33 negara Amerika Latin dan Karibia anggota CELAC sangat beragam dan orientasi politiknya pun berbeda-beda. Venezuela, Kuba, Bolivia, dan Ekuador bisa dikategorikan kiri-revolusioner. Lalu negara seperti Brazil, Argentina, Nikaragua, dan El Salvador di kategori kiri-moderat. Sedangkan Honduras dan Paraguay baru saja direbut oleh sayap kanan melalui kudeta. Dan negara-negara seperti Meksiko, Kolombia, Chile dikuasai oleh rezim kanan dan sangat mesra dengan imperialisme AS.

Dan perbedaan itu nampak menganga ketika perdebatan berpusat pada persoalan kehadiran modal asing di kawasan itu. Chile, Meksiko, Kolombia, dan lain-lain sangat menggantungkan ekonominya pada modal asing.

Presiden Kuba Raul Castro mengatakan, kehadiran perusahaan transnasional, terutama dari utara, tidak akan pernah menyerahkan kontrol terhadap energi, air, dan sumber daya strategis yang kian langka.

Ketika tiba giliran Bolivia, Presiden Evo Morales langsung menyampaikan permintaan negaranya untuk bisa mengakses Samudera Pasifik karena diklaim oleh Chile. Presiden Chile Pinera menjawab, diskusi soal itu akan diperpanjang dalam dua forum.

Tak hanua itu, Evo Morales juga meminta gerilyawan Marxis, Angkatan Perang Revolusioner Kolombia (FARC), untuk mencapai kesepakatan damai dengan pemerintah Kolombia.

Kata Morales, “di masa-masa sekarang ini, revolusi tidak lagi dibuat melalui peluru tetapi suara, dalam proses demokrasi, tanpa kekerasan, dengan proses penyadaran dan bukan membeli suara rakyat.”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ekuador Ricardo Patiño menuntut Organisasi Negara Amerika (OAS) agar memasukkan kembali Kuba, yang telah diskor sejak tahun 1962. Ironisnya, OAS malah memasukkan AS dan Kanada sebagai anggotanya.

Bagi banyak ahli, CELAC memang bisa menjadi konsolidasi regional alternatif bagi Amerika latin dan Karibia. Menariknya, CELAC tidak memasukkan dua imperialis dari Amerika Utara, yakni Amerika Serikat dan Kanada.

Yang menarik, pertemuan CELAC kedua ini mendaulat Presiden Kuba, Raul Castro, sebagai Presiden CELAC. Selain itu, Kuba juga ditunjuk sebagai tuan rumah pertemuan di tahun 2014.

Sebelum pertemuan kedua CELAC kemarin, sempat didahului dengan pertemuan antar benua, yakni antar Uni Eropa dan CELAC. Namun, pertemuan itu lebih banyak berbicara soal perdagangan dan investasi di kedua kawasan.

CELAC mulai digagas sejak tahun 2010 di Meksiko. Motornya adalah Presiden Venezuela, Hugo Chavez. Akhinya, pada tahun 2011, cita-cita membentuk CELAC terealisasi di Cacaras. Dengan keanggotaan 33 negara, CELAC meliputi 600 juta rakyat di kawasan itu.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut