Catatan Dari Seminar Ekspedisi Pamalayu: Berdamai Dengan Sejarah

Pagaruyung adalah nama yang melambung. Ia hadir dalam narasi besar sejarah Nusantara. Banyak kerajaan kecil merasa penting menarik asal muasalnya dari negeri Adityawarman itu. Lalu bagaimana dengan Dharmasraya, sang saudara tua?

Ini sungguh bukan hal baru. Para peminat sejarah Sumatera tentu tahu, nama Dharmasraya pertama kali muncul dalam narasi yang dipahat di alas (lapik) arca Amoghapasa , penanda penting ekspedisi Pamalayu pada tahun Saka 1208 atau 1286 M.

Berdasarkan terjemahan Prof.Slamet Mulyana, narasi itu menyebut nama “Sri Maharadja Diradja Kertanegara Wikrama” dari Singosari sebagai pemberi arca kepada segenap rakyat dan Raja Melayu “Srimat Maharaja Tribuanaraja Mauliwarmadewa” yang ber-istana di Dharmasraya. Setelahnya, selain temuan naskah Tanjung Tanah[i], nama itu tak lagi banyak disebut.

Ia lama tenggelam, terutama setelah Pagaruyung menjadi besar dan meninggalkan yang lain sebagai bayang-bayang. Entah bagaimana kisahnya dan skenario apa yang sedang dirancang semesta, ketika nama itu kemudian terpilih menjadi sebutan sebuah kabupaten baru hasil pemekaran tahun 2004 di Sumatera Barat. Dharmasraya berdiri persis di bentang lanskap tempat ditegakkannya arca penanda sebuah ekspedisi seberang lautan, 700 tahun di kelampauan.

Lalu di 2019 ini, Kabupaten itu menggelar ulang tahunnya yang belia dengan rangkaian festival terlama di dunia. Festival Pamalayu namanya. Tombol sirene dibunyikan 22 Agustus2019 dan berakhir di 7 Januari 2020, tepat di tanggal pengesahan kelahirannya di kali kedua. Tanggal 22 Agustus dipilih karena konversi tahun Saka ke Masehi saatpengiriman arca Amoghapasa, jatuh di tanggal itu.

Sutan Riska, sang Bupati muda, menyebut festival Pamalayu dimaksud selain untuk mengembalikan ingatan kolektif masyarakat Dharmasraya akan akar sejarahnya, juga hendak memanggul sebuah gagasan besar. Menyibak tafsir umum yang konon dianggap “bengkok” hingga perlu diluruskan. Setidaknya itulah narasi yang ditulispanitia pada pengumuman pembukaan seminar bertajuk “Menyingkap Tabir Sejarah Dharmasraya”.

Sekali Lagi Tentang Ekpedisi Pamalayu

Sepanjang perbincangan literernya,“ekpedisi Pamalayu” memang menimbulkan dua tafsir besar yang saling berhadapan. Sebagian ahli sejarah percaya ia adalah perjalanan penaklukan Singosari atas Kerajaan Malayu. Tafsir ini dapat dilacak pertama kali muncul dari teks Pararaton yang ditulis abad ke-15, tak jauh dari peristiwa ekspedisi. Pararaton adalah kitab yang memuat kisah-kisah raja Singosari dan Majapahit. Ia tampaknya memang ditulis untuk menggambarkan keagungan raja-raja Jawa, yang karenanya, perspektif yang digunakan adalah hegemoni. Melihat negeri lain sebagai tanah taklukkan. Apa lacur, versi inilah yang mahsyur dipercayai banyak orang. Krom[ii], Coedes[iii] dan Slamet Muljana[iv]adalah para ahli yang membenarkan narasi Pararaton. Yang berpendapat sebaliknya pun ada. Carparis dan CC Berg adalah dua diantaranya.

Lalu bagaimana seminar sejarah Dharmasraya ini menceburkan dirinya dalam dua tafsir mainstream itu? Semangat persatuan nasional paska amuk pilpres rupanya membawa perbincangan untuk menguatkan perspektif persaudaraan/persahabatan ketimbang narasi penaklukan. Dan ekspedisi Pamalayu adalah narasi yang tepat.

Dalam flyer seminar yang dibagikan, ekspedisi ini bahkan disebut sebagai cikal-bakal semangat persatuan di Nusantara. Para narasumber utama yaitu: Bambang Budi Utomo, peneliti senior Balai Arkeologi Nasional; dan jurnalis-sejarahwan, Wenri Wanhar, menyajikan bukti-bukti naratif nan “saiyo-sakato”.

Sementara itu, Dirjen Kebudayaan yang hadir membuka seminar,meninggalkan selarik pesan yang mengusik, “Kita tampaknya lebih senang mereproduksi glorifikasi. Seakan dalam sejarah hanya ada kebesaran tanpa kerapuhan. Padahal sejarah harusnya sedia bicara jujur. Bahwa yang terang selalu bergandengan dengan yang kelam. Kesediaan kita menerima sisi gelap akan membantu kita menciptakan masa depan yang besar.”

Sang Dirjen nampaknya sedang ingin menyulut mata api. Melempar batu dan melihat siapa saja yang terkena lemparannya, dan seberapa besar lemparan itu beresonansi.

Jauh hari, sejarahwan Taufik Abdullah sudah berkata, sejarah bukan hanya tentang fakta, tapi juga terkait bagaimana fakta itu dinilai.

Dan sejarah orang-orang Minang memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Bukan hanya karena diaspora mereka yang melempar sauh hingga ke negeri-negeri yang jauh. Tapi juga karena selapisnya tetap menjadi rahasia yang hanya dibisikkan dari satu dua mamak ke satu dua kemanakan.

Adityawarman, Sang Legenda

Sepanjang pengetahuan penulis, sejak terbitnya penanggalan Masehi, hanya ada dua raja Nusantara yang “berani” menggunakan gelar Maharadja Diradja, yaitu Kertanegara dan Raja Melayu Adityawarman (didahului oleh pendahulunya  Akendrawarman). Pada masa Ekspedisi Pamalayu, sebagaimana yang tertera dalam prasasti Padang Roco, Raja Malayu yang berkuasa adalah Srimat Tribuanaraja Mauliwarmadewa, dengan gelar Maharaja.

Mengutip Kozok, Berg dengan didukung Casparis menafsirkan penggunaan gelar Mahardja Diradja oleh Kertanegara dengan dua kemungkinan. Pertama, di masa itu hampir seluruh kerajaan di Sumatera mengakui kedaulatan Singosari, walau tidak selalu berarti menjadi daerah taklukan. Kedua,  gelar itu berkaitan dengan kehendak besar Kertanegara yang ingin mempersatukan kerajaan-kerajaan di Nusantara dan memposisikan dirinya sebagai sang penyatu.[v]

Saat ekspedisi Pamalayu, para ahli sepakat bahwa ibukota Kerajaan Malayupura (Malayu) berpusat di Sungai Langkat, Dharmasraya. Tempat didirikannya Arca Amoghapasa. Sebelum tahun Saka 1310 ia berpindah lagi ke Suruaso, pedalaman Sumatera Barat, yang di kemudian hari setelah mendapat pengaruh Islam, ia menjadi besar sebagai kerajaan Pagaruyung.

Walaupun ditemukan di Kerinci, hasil transliterasi menyebut Naskah Tanjung Tanah berasal dari Dharmasraya. Pada bagian pengantar dan penutupnya yang berbahasa Sansekerta, tercantum bahwa naskah itu ditulis oleh Depati Kuta Aji di hadapan (atas perintah) Paduka Seri Maharaja Dharmasraya. Sekali lagi, gelar rajanya masih sama: Maharaja.

Berdasarkan uji karbon[vi], naskah Tanjung Tanah diperkirakan berusia lebih dari 600 tahun. Ditulis di abad ke-14 dan merupakan naskah melayu tertua yang ditemukan hingga saat ini. Naskah Tanjung tanah adalah semacam Undang-undang yang mengatur larangan dan  aturan-aturan denda bagi  rakyat dan pembesar Kerinci jika melakukan kecurangan dalam perdagangan. Pada masa itu jelas bahwa Kerinci berada dalam wilayah kuasa Dharmasraya.

Lalu sampai disini, bagaimana relasi Dharmasraya dengan Kerajaan Malayu Adityawarman di Suruaso?.

Melacak pahatan pada prasasti di balik arca Amoghapasa yang bertarikh 1347 M. Jelas bahwa prasasti itu ditoreh 61 tahun setelah arca Amoghapasa tiba di bumi Malayu. Dipahat oleh (atau atas perintah) Adityawarman sendiri karena isinya berupa puja puji terhadapnya sekaligus mentasbih gelar Maharadja Diradja. Saat itu pusat kerajaan Melayu sudah berada di pedalaman Sumatera Barat.

Para ahli menduga,Dharmasraya yang letaknya persis di perbatasan antara Jambi dan Minangkabau, adalah jalur purba lalu lintas barang dan manusia. Karenanya ia tetap sangat penting bagi Adityawarman untuk mengontrol kekuasaan. Dharmasraya difungsikan sebagai pelabuhan tempat bongkar-muat barang dan juga tempat untuk menjalin hubungan dengan negeri-negeri di sekitar seperti Kerinci. Naskah Tanjung Tanah setidaknya memperlihatkan bahwa Dharmasraya jelas berada di bawah kekuasaan penguasa Suruaso, karena yang pertama rajanya menyandang gelar Maharadja, sementara lainnya bergelar Maharadja Diradja.[vii]

Baik Andaya maupun Kozok menilai penyematan Gelar Maharadja Diradja sendiri merepresentasikan kekuasaan Adityawarman saat itu. Kozok mengutip De Casparis, menulis bahwa kerajaan Malayu di bawah Adityawarman menjadi sebuah imperium yang menguasai hampir seluruh Sumatra. Casparis di sini merujuk pada pupuh 13 Nagarakartagama karya Mpu Prapanca, yang menyebut 24 negeri tunduk kepada bumi Malayu.[viii]

Jumlah prasasti yang mengabarkan Adityawarman mencapai 20 buah. Merepresentasikan betapa sosok ini besar pada masanya. Adityawarman diperkirakan wafat tahun 1376. Dan seiring penetrasi ajaran baru dari Timur Tengah yang saat itu sudah menguasai daerah utara Sumatera, sebutan bagi raja Melayu pun berubah menjadi Sultan. Sejak itu, gelar Maharadja Diradja dianggap punah.

Tapi benarkah ia punah? Karena tetiba hari ini kita mendengar sayup-sayup, gelar itu rupanya hidup di sebuah kerajaan kecil bernama Koto Besak di Kabupaten yang baru berusia 15 tahun, Dharmasraya. Nama yang mengembalikan segala kenang akan arca Amoghapasa.

Koto Besak hari ini adalah sebuah kecamatan. Disana berdiri sebuah rumah gadang yang telah ditetapkan menjadi cagar budaya karena dahulunya berfungsi sebagai istana kerajaan. Kisah tentang asal usul nenek moyang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi. Menurut Arjuna, tokoh pemuda Dharmasraya, pusako dan tambo adat sebenarnya masih banyak. Namun sebagian besar belum bisa terbaca. Sejarah Dharmasraya umumnya dan Koto Besak khususnya, paska Amoghapasa, masih menyisakan enigma.

Kisah Yang Hidup Dalam Degup

Belakangan, sejarah nampaknya sudah sedia menerima sumber-sumber lain selain yang terpahat dalam prasasti atau yang tertulis dalam lontar dan lembar-lembar manuskrip tua. Sejarah membuka diri pada kisah-kisah dan ingatan kolektif yang hidup dalam degup masyarakat si empunya cerita. Andaya misalnya, mengakui bahwa sebagian besar sumber dari penulisan buku “To Live as A Brother” tentang sejarah Sumatera Tengah abad ke-16 hingga 18, justru bersumber dari cerita-cerita rakyat yang ia gali.

Sejarah memang harusnya ditulis bukan dari apa yang harus ada, tapi dari apa yang ada!

Adalah prasasti yang hidup dalam memori kolektif rakyat Koto Besar, kisah tentang nenek moyang mereka, Puti Reno Langguak. Puti adalah adik dari Raja Pagayurung saat itu. Ia dikisahkan menderita penyakit kusta sehingga menyingkir dari Istana. Awalnya Puti hanya hendak menyendiri di tepian sungai Lubuak Tajunjuang yang masih berada dekat dari Istana Pagaruyung. Namun karena semakin hari ia merasa perhatian dari Istana semakin berkurang, Puti memutuskanuntuk menghilir. Nagari demi nagari dilaluinya. Berbekal sebuah pedang (pusako ini masih ada dan disimpan dengan baik oleh keluarga Tuanku Kerajaan), Puti menerabas semak dan hutan hingga akhirnya tiba di tempat yang menjadi cikal-bakal Koto Besak.

Di Koto Besak, yang toponimi daerahnya berasal dari kata “kuto besa” (kusta besar), Puti mendirikan kerajaan baru. Penyakit Kustanya pun berangsur hilang dan Puti menikah dengan seorang datuk dari Sungai Tarap, daerah Sijunjung sekarang. Dalam waktu singkat,Puti mendapat banyak pengikut dan kerajaannya segera menjadi besar dan diakui kerajaan-kerajaan sekitar. Berita inipun sampai ke Sutan Raja Alam Dipertuan Jati, Raja Pagaruyung yang tak lain adalah kakak kandung Puti. Raja mengirimkan utusan untuk membujuk Puti kembali ke istana, namun Puti menolak.

Hal ini berkali-kali dilakukan namun Puti juga terus menolak. Sampai akhirnya Raja berang dan mengucap sumpah bahwa siapapun orang perempuan dari Koto Besak yang datang ke Pagaruyung akan menderita sakit perut dan berujung pada kematian. Membalas sumpah abangnya, Putipun mengucap sumpah serupa, yakni siapapun orang laki-laki dari Pagaruyung yang datang ke Koto Besak akan menderita sakit perut dan berakhir kematian.[ix]

Apa yang datang dari masa lampau, memiliki tuah dan keramatnya sendiri. Masyarakat Dharmasraya, khususnya Koto Besar percaya sumpah ini terbukti benar adanya. Kesedihan meliputi anak turunan Puti Reno Langguak dan Sutan Raja Alam di Pagaruyung dikarenakan terputusnya tali kekerabatan dan silaturahmi. Sejak itu hanya orang lelaki Koto Besar yang dapat bertandang ke Pagaruyung dan begitu sebaliknya, hanya kaum perempuan Pagaruyung yang bisa menjejak kaki di tanah Koto Besar.

Kisah perseteruan Puti Reno Langguak dengan kakaknya Raja Pagaruyung adalah pintu masuk untuk melihat mengapa gelar Maharadja Diradja yang disandang Adityawarman, punah di Pagaruyung dan tetiba hidup di Dharmasraya.

Menurut garis adat matrilineal, pewaris tahta raja diturunkan dari garis anak perempuan. Tak heran, Sutan Raja Alam begitu gusar ketika Puti Reno tak hendak kembali ke istana hingga berujung pada sumpah keramat yang memakan korban. Ia mengetahui konsekuensi terberatnya, yaitu tahta raja akan kehilangan garis nasabnya. Karena menurut kepercayaan orang-orang Koto Besak, Sutan Raja Alam Dipertuan Jati hanya memiliki satu saudara perempuan yaitu Puti Reno Langguak.

Namun seiring waktu nampaknya kisah itu tersembunyi dari tutur lisan orang-orang Pagaruyung, karena selain melemahkan sanad, juga karena Islam telah menjadi agama resmi kerajaan. Islam yang patrilineal seakan “mengobati” keputusasaan Sutan Raja Alam dalam mencari penerusnya.

Sayang, tersebab tambo adat Koto Besar masih banyak yang belum terungkap, sampai tulisan ini diturunkan, belum didapatkan tahun pasti kepindahan Puti Reno Langguak ke tanah Dharmasraya dan bagaimana kondisi kontestasi istana Pagaruyung paska perginya sang Puti.

Namun berdasarkan stempel kerajaan Koto Besak yang bertarekh tahun 1289 (diduga Hijriah karena beraksara Arab Melayu), usia kerajaan Koto Besak ini 151 tahun. Rajanya yang sekarang, Sutan Riska adalah raja kesembilan. GelarnyaSri Maharadja Diradja Sutan Riska Tuanku Kerajaan. Sejak raja pertama, gelar Maharadja Diradja selalu disematkan.

Tahun 2016, Sri Maharadja Diraja Sutan Riska Tuanku Kerajaan, yang diangkat sebagai Raja Koto Besar tahun 2014, terpilih menjadi Bupati Dharmasraya periode 2016-2020. Ia yang saat itu baru berusia 26 tahun, mengalahkan petahana. Dengan kemenangannya itu, Dharmasraya memiliki bukan hanya Kepala Daerah konstitusional berdasarkan UU, tapi sekaligus seorang Raja pewaris tahta Adityawarman.

Raja yang ini pula, dalam tahun pertama pemerintahannya, langsung menggelar ritual pencabutan sumpah keramat Puti Reno Langguak dan mengembalikan ikatan kekerabatan dengan kerajaan Pagaruyung yang telah putus selama lebih dari 300 tahun.[x]

Dharmasraya yang muda, tentu tak ingin lebih lama “durhaka” pada sang kakak, Pagaruyung. Walau keduanya pernah berpisah di persimpangan sejarah, namun mereka tetap memiliki tuahnya sendiri-sendiri. Paska perselisihan dua bersaudara, tonggak-tonggak kerajaan Pagaruyung tetap tegak. Islam telah mengisi adatnya dengan syara’.

Tulisan ini tak hendak menyakiti siapapun. Dirilis setelah 7 bulan rampung (Agustus 2019). Harap dibaca sebagai kaca, bahwa masyarakat ilmiah adalah mereka yang tak goncang karena sebuah kritik. Tak terbakar karena tafsir ulang. Masyarakat rasional menerima eksperimentasi ide sebagai bagian dari mekanisme perbaikan diri yang harus ada terus menerus. Karena bukan hanya makhluk hidup yang berevolusi, tapi juga ilmu pengetahuan. Dan sejarah, adalah bagian dari ilmu pengetahuan itu.

RATNA DEWI, penulis yang bergiat di Seloko Institute Jambi

Keterangan foto ilustrasi: Arca Bhairawa Buddha Lokeswara di Museum Nasional, yang dianggap perwujudan Raja Ādityawarman (Sumber foto: Jakarta Post/Narabeto Korohama)


[i]Naskah tambo berupa undang-undang yang ditemukan tahun 1941 di sebuah desa bernama Tanjung Tanah, Kerinci.  Oleh Voorhoeve, pegawai Belanda ahli bahasa, dibantu Abdul Hamid, seorang guru di Kerinci, ia mentransliterasikan naskah tersebut bersama 261 naskah lain yang disatukan dalam “Tambo Kerintji” . Karena satu dan lain hal, salinan naskah yang dibuat sebanyak 6 rangkap, hilang. Untuk kemudian ditemukan lagi untuk kedua kalinya di tahun 2002 oleh Filolog, Uli Kozok.

[ii] NJ.Krom “Hindoe-Javaansche Geschiedenis”.  Klik https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.536014/hal.342 dan 441

[iii]Goerge Coedes adalah arkeolog Perancis yang temuan-temuan arkeologisnya di Nusantara tertuang dalam buku “The indianized states of southeast asia”. Untuk download klik https://uhpress.hawaii.edu/product/the-indianized-states-of-southeast-asia/

[iv] Lebih lanjut baca “Kuntala, Sriwijaya, Swarnabhumi” terbitan Yayasan Idayu, 1981

[v] Kozok, hal.28

[vi] Dilakukan di Lab Rafter Radiocarbon Laboratory di Wellington, New Zealand pada tahun 2003.

[vii] Kozok, hal.37

[viii] Kozok, hal.38

[ix] Ada laman yang sudah mentranskrip kisah ini, klik https://situsbudaya.id/rumah-gadang-kerajaan-koto-besar-sumatera-barat/

[x] Prosesi singkatnya dapat dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=uktr2ydyzaw&t=304s

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid