Krisis dan Kritik: Venezuela, Sebuah Paradoks Stabilitas?

Bagi rakyat Venezuela, awal tahun 2019 mungkin merupakan momen paling menegangkan dalam tujuh belas tahun terakhir. Berbeda dengan kekerasan politik tahun 2017 dan drama golput di pemilu 2018, kali ini ada skenario nyata intervensi militer asing di Venezuela.

Dan untuk pertama kalinya, Washington berulang kali mengancam untuk menggunakan kekuatan militer seperti di Irak, Libya, Panama, dan-lain-lain, yang tampaknya dapat dilakukan.

Seiring berlalunya waktu, kesalahan dan miskalkulasi yang tersirat dalam strategi AS menjadi semakin jelas. “Pemerintahan pararel—semacam pemerintahan tandingan– yang dipimpin oleh Juan Guaido terbentuk, tetapi tidak memiliki kapasitas untuk mengadakan kegiatan di dalam negeri, apalagi untuk memerintah sebagaimana mestinya. Satu-satunya basis kekuasaan Guaido adalah korporasi media internasional. Namun ia membutuhkan dukungan militer. Hingga tiba 30 April 2019.

Hari itu, ada mobilisasi oleh tentara pemberontak, yang meskipun jumlahnya sangat sedikit namun mendapat dukungan kuat dari media internasional yang membawa kesan bahwa Maduro mungkin jatuh. Kelompok yang dipimpin oleh Guaido mengambil alih jembatan layang di dekat pangkalan udara La Carlota di Caracas timur dan meminta militer untuk bangkit melawan Maduro. Beberapa jam kemudian, kelemahan gerakan menjadi jelas dan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton mengungkapkan bahwa pejabat tinggi militer dan sipil yang diduga terlibat dalam kudeta telah “mematikan telepon mereka.”

Menyusul kegagalan untuk membalikkan sikap militer Venezuela, yang sekali lagi menunjukkan kesetiaannya kepada pemerintah, Washington melipat-gandakan sanksi, terutama di semua bidang yang berkaitan dengan perdagangan minyak.

Selama enam bulan pertama tahun itu, tidak ada cara untuk menggambarkan Venezuela di luar kosa kata: bencana.

Semester kedua sepenuhnya berbeda.

Membentur karang?

Ketegangan yang terjadi di Venezuela menyebar di seluruh benua. Di Puerto Rico, Panama, Haiti, Ekuador, Chili, Bolivia, dan Kolombia, pergolakan rakyatmengguncang satu demi satu pemerintahan yang kini berjuang untuk bertahan secara politik.

Sementara Amerika Latin mendidih, Venezuela kembali tenang. Meskipun masih ada krisis ekonomi parah yang telah berlangsung setidaknya enam tahun dan jatuhnya pelayanan dasar kebutuhan publik, tetapi perselisihan politik telah berkurang. Pendukung oposisi tidak kembali turun ke jalan dan ketidakstabilan politik berpindah ke kubu oposisi sendiri.

Pada akhir 2019, kepemimpinan Guaido tidak menstimulusi kebulatan suara. Ia mengalami beberapa skandal, termasuk dugaan penggelapan dana bantuan oleh utusan yang dipilihnya sendiri, hubungannya dengan kelompok paramiliter pedagang narkoba Los Rastrojo, dan yang terbaru adalah skema lobi ilegal yang melibatkan wakil-wakil dari Majelis Nasionalnya sendiri, termasuk di anggota partai politiknya. Pemerintah yang paling keras menentang Venezuela, seperti Chili dan Kolombia, harus mengurus masalah domestik mereka. Aktivasi Perjanjian Aksi Timbal Balik Antar-Amerika (TIAR) belum maju ke arah intervensi militer langsun. Dan di media AS serta internasional, isu “krisis kemanusiaan” Venezuela sudah bukan menjadi prioritas. Tampaknya Venezuela tidak lagi menjadi pusat agenda internasional seperti pada awal 2019.

Dan, yang paling penting, ekonomi Venezuela mulai stabil.

Stabilitas ekonomi?

Tidak seperti berbagai negara lain di kawasan ini, ekonomi Venezuela tampaknya stabil karena beberapa alasan. Pertama, gelombang migrasi memiliki efek samping yang bermanfaat. Orang-orang yang bermigrasi kemudian membanjiri negara itu dengan pengiriman uang (remittance) yang mencapai jutaan keluarga, bahkan yang termiskin. Bahkan ada banyak kasus dukungan keuangan dari luar negeri telah mengubah status sosial ekonomi banyak keluarga di tengah krisis yang parah.

Ada juga beberapa langkah ekonomi yang diambil Maduro, seperti pelonggaran UU Pertukaran Mata uang secara gelap, penghilangan kontrol harga secara de facto, dan memungkinkan sirkulasi dolar secara bebas. Semua ini membuka skenario ekonomi baru memasuki tahun 2020, termasuk akhir dari kelangkaan barang-barang penting—yang merupakan kutukan dari periode 2012-2016, penciptaan peluang bisnis baru, serta repatriasi sejumlah modal–yang meskipun terbatas—telah merangsang kegiatan komersial dalam situasi ekonomi yang masih sangat sulit.

Pada akhir November, Reuters mengungkapkan bahwa produksi minyak di Venezuela telah meningkat 20 persen secara relatif terhadap bulan sebelumnya, yang dapat menunjukkan kepastian berbalik dari kondisi terjunbebas yang dialami selama paruh pertama tahun lalu. Berita ini meningkatkan ekspektasi positif untuk tahun 2020 dengan kemungkinan peningkatan ekspor minyak mentah Venezuela di tahun mendatang.

Memang, menurut ekonom Venezuela Francisco Rodriguez, ekonomi Venezuela bahkan dapat tumbuh sebesar 4 persen pada tahun 2020.

Dapat disimpulkan bahwa dengan tidak jatuhnyaMaduro karena krisis ekonomi yang parah selama 2019, maka kecil kemungkinan ia akan digulingkan sekarang, setidaknya dalam waktu dekat. Kita harus menunggu untuk melihat: apakah Trump, dalam kampanye pemilihannya kembali, akan memberlakukan tindakan yang lebih keras terhadap Venezuela yang merusak ekonomi secara lebih parah?

Tapi untuk saat ini, ketikaTrump tampaknya mengesampingkan intervensi militer di Venezuela, semua mata beralih ke oposisi Venezuela. Apakah mereka akan berhasil menyelesaikan kudeta mereka sendiri?

Oposisi Venezuela pasca-2019: Perpecahan definitif?

Terlepas dari apakah Guaido dapat mengamankan pemilihan kembali sebagai presiden Majelis Nasional (AN) pada tahun 2020, oposisi tidak memiliki strategi yang kredibel untuk menggulingkan Maduro. Dan ketidakberdayaan ini memicu perdebatan internal yang tidak hanya memecah belah oposisi di depan umum tetapi juga melumpuhkan para pendukungnya. Oposisi seperti yang ada sekarang tampak bangkrut secara politis,  mengingat harapan besar yang dibuatnya pada 2019 dan kegagalan total yang terjadi.

Oposisi hari ini dibagi antara mereka yang setuju adanya invasi AS dan mereka yang mendukung solusi politik. Sebagian besar dari kelompok pertama berbasis di Amerika Serikat, sementara mayoritas yang kedua masih di Venezuela. Keretakan ini kemungkinan akan terus melebar pada tahun 2020 ketika pemilihan umum dijadwalkan untuk Majelis Nasional, satu-satunya cabang pemerintahan yang saat ini dikuasai oposisi. Dari empat partai oposisi besar yang mengendalikan AN, Aksi Demokratik (AD) dan A New Era (UNT) memiliki kepemimpinan mereka di Venezuela dan, dengan demikian, abstain akan berarti menyerahkan kursi mereka.

Untuk sektor-sektor gariskeras, terutama yang berbasis di AS dan Kolombia, basis kekuatan mereka terutama adalah korporasi media internasional. Dan mereka tidak akan menerima solusi pemilu. Oleh karena itu, 2020 bisa menjadi tahun perpecahan definitif dalam oposisi. Kehendak Rakyat (VP) dan Keadilan Pertama (PJ) masih tidak tahu bagaimana cara memberitahu pendukung mereka untuk memilih dalam pemilu tanpa memenuhi janji “akhir perebutankekuasaan” yang sering diulang. Atau mereka akan kehilangan Majelis Nasional.

Kekalahan oposisi tidak terbatas pada arena politik dan militer. Daftar skandal korupsi dan kekacauan politik semakin meningkat seiring dengan pemberontakan rakyat yang mengguncang pemerintah sayap kanan tetangga yang bersekutu dengan oposisi Venezuela. Artinya, oposisi sedang dikalahkan di beberapa bidang.

Oposisi memulai 2019 dengan harapan yang sangat tinggi, bersatu dan mengumpulkan pendukungnya, namun mengakhiri tahun dengan sangat terpecah, teratomisasi, dan terdemobilisasi. Kampanye publik yang berhati-hati dalam mempromosikan Guaido tidak berdaya untuk menghentikan si anak baru ini dalam menghambur-hamburkan modal politiknya tanpa mencapai hasil penting.

Maduro, di sisi lain, telah mengalami proses yang sebaliknya.

Maduro, Menyintas 2019

Pada awal tahun, Maduro memiliki profil sebagai presiden yang lemah di ambang penggulingan setiap saat. Oposisi membanjiri jalan-jalan pada bulan Januari. Lebih dari lima puluh negara menolak untuk mengakui Maduro dan mendukung Guaido.

Washington praktis memberi harga pada kepala Maduro. Senator partai Republik dari Florida, Marco Rubio, mengancam akan menyodomi dan membunuhnya seperti yang dilakukan pemberontak yang didukung NATO kepada Muamar Khadaffi di Libya.

Masa depan Venezuela tampaknya menjadi salah satu konflik berdarah, atau segera dipecah belah oleh Kolombia, Brasil, dan Guyana.

Presiden Chile Sebastian Piñera dan Ivan Duque dari Kolombia berkumpul bersama Guaido di Cucuta pada 23 Februari 2019. Mereka menyebut pertemuan itu sebagai dorongan terakhir untuk menggulingkan Maduro dengan memaksa “bantuan kemanusiaan” melintasi perbatasan Venezuela. Pada Desember 2019, tak satu pun dari presiden sayap kanan ini menghadiri pertemuan Kelompok Lima dan memilih memokuskan energi mereka untuk menghentikan pemberontakan massa anti-neoliberal yang terjadi di dalam negeri mereka masing-masing.

Pada akhir 2019, Venezuela terlihat jauh lebih stabil daripada tetangga sayap kanannya, yang beberapa bulan lalu ngotot pada perubahan rezim di Venezuela ketimbang masalah domestik mereka.

Pemerintah Venezuela tidak lagi bersikap defensif. Ia bergerak mengambil inisiatif politik dengan menyerukan pemilihan legislatif 2020 dalam upaya merebut benteng politik terakhir oposisi (Majelis Nasional). Pemilihan ini dapat diselenggarakan pada awal tahun. Angkatan bersenjata tetap kuat di belakang Maduro, yang telah berhasil membuka jalan untuk negosiasi dengan faksi-faksi oposisi minoritas. Dengan faksi-faksi oposisi minoritas ini partai berkuasa dapat bekerja selama periode legislatif yang baru.

Politik adalah benturan antara kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan dan, seperti yang ditunjukkan Venezuela, perimbangan kekuatan dapat berubah secara radikal selama satu tahun.

Ociel Alí López, Peneliti Venezuela yang telah mempublikasikan banyak karya dalam bentuk tulisan maupun multimedia.

Artikel ini diterjemahkan dari laman Venezuela Analysis.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid