Harapan Baru dari Pemerintahan Kiri di Spanyol

Setelah sembilan bulan dalam kebuntuan politik, termasuk dua kali pemilu terbaru di tahun 2019 lalu, Spanyol akhirnya punya pemerintahan baru.

Pedro Sánchez, sekretaris Jenderal Partai Buruh Sosialis (PSOE), akhirnya ditunjuk sebagai Perdana Menteri. Dalam pemungutan suara, Selasa (7/1/2020), Sánchez didukung oleh 167 suara. Sebanyak 165 suara menolak dan 18 suara abstain.

Suara tersebut didapatkan Sánchez  setelah berhasil menjalin koalisi dengan partai berhaluan kiri, Unidas Podemos. Dalam pemilu terbaru November 2019 lalu, PSOE mendapat 120 kursi, sedangkan Podemos mendapat 35.

Akhirnya, setelah 80 tahun, Spanyol diperintah oleh Koalisi kiri. Terakhir, koalisi kiri memerintah Spanyol tahun 1936, yaitu Front Rakyat atau Popular Front. Namun, koalisi kiri itu hanya berumur pendek, hanya hingga 1939, lantaran digempur koalisi kanan-fasis yang dipimpin oleh Jenderal Franco.

Di pemerintahan baru ini, Podemos mendapat jabatan Wakil Presiden dan 4 jabatan Menteri (dari 22 jabatan setingkat Menteri). Pablo Iglesias, Sekjen Podemos, akan menjabat sebagai Wapres urusan sosial.

Tiga kader lainnya, Irene Montero jadi Menteri Kesetaraan, Alberto Garzon sebagai Menteri urusan konsumen, dan Yolanda Diaz sebagai Menteri Perburuhan dan sosial. Sedangkan sosiolog kiri, Manuel Castells, jadi Menteri Perguruan Tinggi.

Oiya, di pemerintahan kiri ini, dari 22 jabatan setingkat Menteri, 11 diantaranya diisi oleh perempuan. Jadi, ini pemerintahan yang menunjukkan kesetaraan.

Malapetaka Neoliberalisme

Begitu negeri Matador keluar dari kediktatoran Jenderal Franco di tahun 1975, negeri ini tak langsung menapaki jalan menuju kemakmuran.

Begitu menapaki jalan demokrasi, Spanyol hanya diperintah silih berganti oleh dua partai: PSO dan PP. Liberal (Unión de Centro Democrático, UCD) sempat memerintah sebentar dari 1976-1982. PSOE berhaluan sosial-demokrat, sedang PP (Partai Rakyat) sangat konservatif.

Tahun 1980-1990-an, ketika berkuasa di Spanyol, PSOE menjalankan semacam “jalan ketiga”, yang menggabungkan antara ide-ide sosial-demokrasi dan neoliberalisme. Seturut itu, pemerintahan PSOE mulai memangkas belanja publik, mereformasi pasar tenaga kerja, dan melakukan serangkaian privatisasi. Kebijakan ini berdampak pada meningkatnya pengangguran dan penurunan upah.

Kebijakan itu membuat popularitas PSOE merosot. Mereka dikalahkan oleh partai konservatif (PP) tahun 1996, yang menaikkan José María Aznar ke kekuasaan selama dua periode (1996-2004).

Sosialis (PSOE) kembali berkuasa di 2004, lewat José Luis Zapatero. Sayang, dia masih melanjutkan kebijakan neoliberal pendahulunya.

Puncaknya, ketika Spanyol diperintah oleh konservatif bernama Mariano Rajoy, yang memerintah dari 2011-2018. Rajoy membawa Spanyol pada kebijakan neoliberal yang lebih ekstrim berdasarkan panduan Troika (Uni Eropa, Bank Sentral Eropa, dan IMF). Kebijakan utama yang dipaksakan Troika adalah penghematan (austerity).

Kebijakan itu sangat merusak. Upah buruh jatuh 10 persen dibanding 2007. Sebanyak 26 persen orang Spanyol menganggur, sebanyak 50 persen diantaranya anak-anak muda. Karena krisis, sebanyak 300.000 keluarga terusir dari rumahnya karena kredit macet dan gagal bayar.

Situasi itulah yang memicu kemarahan. Lahirlah ledakan perlawanan yang melahirkan gerakan Los Indignados (kaum yang marah) atau gerakan 15 Mei. Gerakan ini mulai meledak di tahun 2011.

Gerakan itulah yang menjadi cikal bakal berdirinya partai kiri Podemos (Kami bisa). Tak heran, selain identik sebagai partai kiri, Podemos juga kerap disebut partai gerakan.

Bersamaan dengan itu, di dalam tubuh PSOE muncul gejolak. Pemilu dan akar rumput mereka mulai mengecam elit partai yang condong neoliberal.

Pada titik itulah muncul Pedro Sánchez, orang yang awalnya tidak dihitung, yang berhasil mengambilalih kepemimpinan PSOE dari elit-elit lama. Sánchez membawa PSOE agak ke kiri dengan program-programnya yang radikal: naikkan upah minimum minimal 20 persen, naikkan uang pension, regulasi sewa rumah/kontrakan, perkuat Serikat Buruh, pajak progressif, dan lain-lain.

Memercikkan Harapan Baru

Terbentuknya pemerintahan kiri di Spanyol memercikkan harapan baru. Setidaknya untuk menggiring negara berpenduduk 47 juta jiwa ini keluar dari krisis ekonomi.

“Dengan pemerintahan koalisi yang progressif, Spanyol memasuki era dialog dan politik yang bermanfaat. Sebuah pemerintahan untuk seluruh rakyat, yang memperluas jaminan hak-hak dasar, memulikan keteraturan, dan memperjuangkan keadilan sosial,” tulis Sánchez di twitternya.

Tentu saja, tantangan pertama yang langsung dihadapi oleh pemerintahan kiri begitu berkuasa adalah pengangguran, ketimpangan ekonomi, tunawisma, dan menurunnya pendapatan mayoritas warga negara.

Untuk itu, pemerintahan kiri sudah menyiapkan beberapa langkah radikal. Yang pertama, mereka akan menghentikan model pasar tenaga kerja yang fleksibel, yang menyebabkan upah jatuh dan ketidakpastian kerja.

Selain itu, mereka akan menaikkan upah minimum. Jika pemerintahan Sánchez sebelumnya upah minimum naik 20 persen menjadi 1075 euro (1175 USD). Maka pemerintahan koalisi kiri sekarang akan menaikkan upah minimum sebesar 60 persen, sehingga menjadi 1970 euro.

Selanjutnya, penerapan pajak yang lebih tinggi untuk si kaya. Pemerintahan koalisi kiri berjanji akan menaikkan pajak sebesar 15 persen untuk pendapatan di atas 130 ribu euro per tahun. Sedangkan pajak untuk bisnis menjadi 18 persen.

Untuk mengatasi persoalan perumahan agar bisa terjangkau oleh warga, pemerintahan baru akan mengintervensi pasar perumahan dengan regulasi yang mengatur sewa/kontrakan.

Masih banyak kebijakan sosial lain, seperti kenaikan uang pensiun, bantuan kelahiran, tambahan waktu cuti melahirkan, bantuan pendidikan, dan lain-lain, yang diharapkan bisa mengeluarkan rakyat Spanyol dari bencana neoliberalisme.

Untuk merespon tuntutan pemisahan, seperti di Katalonia dan Basque, pemerintahan kiri berjanji akan mengedepankan dialog dan jalan damai.

Tentu saja, perjuangan pemerintahan kiri Spanyol untuk mewujudkan harapan tak gampang. Mereka berhadapan dengan tembok bernama Troika.

Di dalam negeri, selain berhadapan dengan oligarki yang berlindung di partai konservatif, mereka juga berhadapan dengan bangkitnya kanan-ekstrim: partai Vox. Dalam pemilu November lalu, partai Vox berhasil merebut 52 kursi dan menjadi partai terbesar ketiga di Spanyol sekarang ini.

Tetapi, perubahan itu bukan tak mungkin. Podemos: Kami Bisa!

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid