Bendera Kuba Resmi Berkibar Di Washington Hari Ini

KUba

Setelah 54 tahun setelah diturunkan, bendera nasional Kuba akan kembali berkibar di Washington DC, Amerika Serikat (AS), Senin (20/7/2015). Peristiwa bersejarah ini menandai pembukaan kembali Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Kuba di AS.

Bendera Kuba akan berkibar di gedung yang selama ini berfungsi sebagai Kantor Seksi Kepentingan Kuba di Washington DC. Gedung inilah yang sedianya akan menjadi kantor resmi Kedubes Kuba di Negeri Paman Sam.

Bendera Kuba juga akan berkibar di pintu masuk kantor Kementerian Luar Negeri AS, bersama bendera ratusan negara lainnya yang menjalin hubungan diplomatik dengan AS. Bendera Kuba akan ditempatkan di sela Republik Kroasia dan Republik Siprus.

Pihak Kuba sendiri mengundang sedikitnya 500-an orang di acara pembukaan kedutaan mereka. Diantara tamu undangan itu ada anggota Kongres, pejabat bisnis, tenaga ahli, dan tokoh organisasi non-pemerintah. Pejabat Kemenlu AS akan diwakili oleh Asisten Menteri Luar Negeri AS, Roberta Jacobson.

Pada hari ini juga, Menlu AS John Kerry akan bertemu Menlu Republik Kuba, Bruno Rodriguez Parrilla, di Washington. Keduanya akan membahas langkah-langkah lebih lanjut sehubungan dengan normalisasi hubungan diplomatik kedua negara.

Sementara itu, AS juga akan mengibarkan benderanya di kota Havana, Kuba. Sebuah gedung yang selama ini berfungsi sebagai Kantor Seksi Kepentingan AS di Havana akan menjadi kantor resmi kedutaaan. Namun, pihak gedung putih menginformasikan bahwa kedubes AS di Havana baru akan efektif pada bulan Agustus mendatang.

Hubungan AS dan Kuba memburuk sejak meletusnya Revolusi Kuba tahun 1959. Di bawah pemerintahan hasil revolusi, Kuba mengambil kebijakan yang berseberangan dengan AS.

AS sendiri hendak mematikan Revolusi itu. Pada tahun 1961, AS melancarkan invasi teluk babi. Tetapi agresi mendadak itu berhasil dipatahkan oleh pemerintahan revolusioner Fidel Castro. Sejak itulah Kedubes AS di Havana ditutup.

Pada tahun itu pula Presiden AS, Dwight Eisenhower, memutuskan hubungan diplomatik dengan Kuba dan mengambil jalan permusuhan untuk menggulingkan pemerintahan Castro.

Menuai Kecaman

Tetapi pengibaran bendera biru, merah, dan bintang putih di langit Washington menuai protes. Sebagian besar oleh politisi partai Republik dan para pembangkang dari Kuba.

Marco Rubio, seorang anggota Kongres dari Partai Republik, bertekad akan mengakhiri hubungan diplomatik antara AS dengan ‘negara komunis yang anti-amerika itu’.

“Pengakuan ini, entah bagimanapun, mengirim pesan kepada para pembangkang (Kuba) dan orang lain seluruh dunia bahwa AS menerima bentuk pemerintahan Kuba hari ini sebagai bentuk pemerintahan yang legitimate,” terang politisi keturunan Kuba ini.

Anggota Kongres dari Partai Republik di Florida, Ileana Ros-Lehtinen, juga menyatakan protes keras. Bagi dia, pembukaan Kedubes Kuba di Washington adalah “kapitulasi pemerintahan Obama terhadap musuh AS.”

Protes juga dilancarkan kelompok oposisi di Kuba. Salah satunya oleh José Daniel Ferrer, pemimpin partai Perhimpunan Patriotik Kuba, yang menuduh pemerintah Kuba bertambah represif pasca persetujuan antara Obama dan Raul Castro di bulan Desember 2014.

Para pembangkang Kuba berencana menggelar aksi protes di sela-sela seremonial sederhana pembukaan Kedubes Kuba di Washington.

Politik AS Terhadap Kuba Berubah?

Normalisasi hubungan diplomatik antara AS dan Kuba memang memercikkan sinar harapan. Betapa tidak, sejak diumumkan tanggal 17 Desember 2014 lalu, sejumlah langkah penting sudah diambil oleh kedua negara.

Terhitung April 2015 lalu, Kuba tidak lagi menghuni daftar negara sponsor terorisme versi AS. Sebelumnya, AS juga membebaskan lima pejuang anti-teroris Kuba (Cuban Five). Sebaliknya, Kuba membebaskan dua tahanan politik penting, yaitu Alan Gross dan Rolando Sarraff Trujillo. Obama sendiri sudah mengakui bahwa politik isolasi terhadap Kuba menemui kegagalan total.

Meski begitu, masih ada pertanyaan yang terus mengganjal proses pemulihan diplomatik ini: apakah normalisasi hubungan diplomatik ini bermakna AS sudah meninggalkan misi lamanya, yaitu mendorong ‘perubahan rezim’ di Kuba? Jangan-jangan, normalisasi hubungan diplomatik ini hanyalah strategi baru untuk meniupkan angin perubahan rezim di Kuba.

Hingga sekarang ini, cara pandang AS terhadap pemerintahan revolusioner di Kuba belum berubah. Masih tetap dianggap rezim otoriter. Buktinya, pada pekan lalu, AS masih menggelontorkan 30 juta USD untuk program ‘promosi demokrasi dan penguatan masyarakat sipil di Kuba’.

Dari dana tersebut, 8 juta USD akan disalurkan melalui National Endowment for Democracy (NED), sebuah lembaga pendanaan yang digunakan oleh AS untuk melemahkan pemerintahan berhaluan kiri dan sosialis di Amerika Latin.

Baru-baru ini, U.S. Agency for International Development (USAID), lembaga pendanaan AS lainnya, juga diketahui mendanai program berbau subversif melalui musik hip-hop untuk melemahkan pemerintahan revolusioner Kuba.

Selain itu, ada hal lain juga yang sangat mengganjal proses pemulihan hubungan diplomatik ini, yakni embargo ekonomi terhadap Kuba. Presiden Kuba Raul Castro menyebut embargo ekonomi ‘ganjalan terbesar’ bagi pemulihan hubungan diplomatik.

Di kalangan kaum kiri sendiri muncul kegusaran. Dikhawatirkan, kedekatan Kuba dan AS akan membawa negeri sosialis itu semakin bergeser ke kanan. Setidaknya mengikuti jalan Tiongkok dan Vietnam: mengibarkan bendera sosialisme sembari memeluk ekonomi pasar kapitalistik.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut