Bangga Sebagai ‘Bangsa Tempe’

Kita ingat dulu Bung Karno berpesan: “Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”

Kemudian, bermunculan seruan-seruan agar kita jangan menjadi “bangsa tempe”. Namun, ada yang bilang, maksud Bung Karno itu bukan tempe sebagai bahan makanan, melainkan proses pembuatannya: kedelai diinjak-injak di dalam wadah. Dengan demikian, Bung Karno sebetulnya berpesan agar kita jangan menjadi bangsa yang rela “diinjak-injak”.

Bung Karno sendiri penggemar tempe. Ada dua makanan yang tak pernah absen dari meja makan Bung Karno: gulai daun singkong dan tempe. Mungkin, kalau Bung Karno tahu khasiat tempe, ia tak akan menggunakan “tempe” sebagai simbol bangsa terhina.

Konon, menurut cerita, tempe sudah ada sejak jaman Majapahit. Serat Centhini, yang muncul di tahun 1814, sudah menyebut tempe sebagai bahan makanan rakyat. Mary Astuti, seorang pakar tempe dari Universitas Gajah Mada, menyebut asal-usul kedelai—bahan baku tempe–berasal dari negeri India. Ia bilang, kata kedelai itu merupakan bahasa Tamil (India Selatan).

Sejarawan Onghokham punya versi berbeda. Dia bilang, kacang kedelai sudah dikenal di Tiongkok sejak 5000 tahun yang lalu. Sedangkan Eropa, menurut Onghokham, baru mengenal kedelai pada abad ke-19. Namun, Onghokham menduga, penyebaran tempe ke Indonesia, khususnya Jawa, baru berlangsung pada abad ke19.

Menariknya, Onghokham berusaha menghubungkan soal kependudukan dengan perkembangan kulinernya. Di daerah yang tidak padat penduduknya, ada ruang untuk peternakan besar, seperti sapi dan domba.

Sebelum abad ke-19, pulau Jawa belum terlalu padat. Ini memungkinkan terjadinya peternakan, seperti sapi, kerbau, dan lain-lain. Pola menu makanannya pun lebih bersifat hewani. Namun, ketika abad 19, ada perkembangan penduduk sangat pesat di Jawa. Ini mempengaruhi ketersediaan tanah di Jawa. Di samping itu, ada peruntukan tanah untuk perkebunan kolonial.

Karena itu, Onghokham menyimpulkan, perkembangan itu menggeser menu makanan orang Jawa dari hewani ke tempe. Sejak saat itu, terlebih di era tanam paksa, tempe berubah menjadi menu penting bagi orang Jawa.

Tahu sendiri merupakan makanan khas orang Tiongkok. Kemungkinan, Tiongkok-lah yang membawa tahu ke nusantara. Dalam perkembangannya, tahu juga menjadi makanan penting bagi rakyat di nusantara.

Siapa penemu tempe?  Onghokham menganggap penemuan tempe ini bersifat tidak disengaja. Ia menyamakan penemuan tempe dengan kretek. Kretek juga ditemukan tanpa sengaja oleh orang bernama Haji Djamari.

Namun, dapat disimpulkan, bahwa tempe ditemukan di Jawa. Dengan demikian, tempe merupakan sumbangan bangsa Indonesia terhadap seni masak dunia. Apalagi, banyak penelitian menyebutkan, kandungan protein tempe tidak kalah dengan daging.

Orang-orang Jepang, ketika dilanda wabah E-coli 0-175 pada tahun 1996, beralih ke makanan tempe. Maklum, orang Jepang saat itu takut mengkonsumsi daging, karena dianggap sumber E-coli 0-175. Alhasil, orang-orang Jepang pun tergila-gila pada tempe bakar, tempe tempura, tempe miso, tempe steak, tempe burger, dan tempe kroket.

Dua maskapai penerbangan asing, yakni Singapore Airlines dan KLM (Belanda), sudah menjadikan tempe sebagai menu penerbangan mereka. Konon, tempe juga mulai menjadi makanan favorit di AS dan Australia. Terutama mereka yang “vegetarian”.

Sayang, sekalipun sudah menjadi makanan pokok rakyat di abad ke-19, namun perhatian pemerintah terhadap produksi tempe masih minim. Lihat saja, teknologi produksi tempe masih primitif. Selain itu, produsen tempe sebagian besar masih industri kerakyatan dan industri rumah-tangga.

Lebih ironis lagi, sekalipun tempe makanan pokok rakyat kita, tetapi bahan bakunya (kedelai) masih diimpor. Produksi kedelai Indonesia terus-menerus turun. Pada tahun 1990, produksi kedelai kita masih 1,4 juta ton. Sekarang produksi kedelai kita tinggal 851 ribu ton. Padahal, konsumsi kedelai kita meningkat menjadi 2,4 juta ton. Akibatnya, kita harus mengimpor 60% kedelai dari luar negeri.

Kita punya banyak professor pertanian, tetapi jarang sekali—atau nyaris tidak ada—pengembangan varietas baru kedelai. Padahal, tak sedikit diantara professor-professor itu yang merupakan penggemar tempe juga. Kita punya Institut Pertanian dan Fakultas Pertanian yang tersebar di seantero negeri, tapi sedikit sekali hasil penelitian dan pengembangan teknologi pertanian kedelai.

Masalahnya ada di pemerintah. Mereka yang tak becus mengurus produksi kedelai. Mereka juga tidak becus mengembangkan industry kedelai. Jadi, nggak usah bicara industrialisasi nasional, kalau urusan kedelai dan tempe saja nggak becus.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut