Bagaimana Memaknai Kepahlawan Perempuan Hari ini?

Tidak bisa dimungkiri, perempuan punya andil besar dalam perjuangan kemerdekaan. Bahkan, sejak kolonialisme menginjakkan kaki di bumi Nusantara, perempuan sudah ambil bagian. Karena itu, sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak bisa ditulis tanpa wajah perempuan.

Namun, setelah era perjuangan kemerdekaan usai dan sekarang kita sekarang memasuki era membangun bangsa, bagaimana memaknai kepahlawanan perempuan?

Mariana Amiruddin, salah satu Komisioner Komnas Perempuan, kepahlawanan sangat terkait dengan perjuangan untuk keadilan. Dalam perjuangan itu, seseorang harus berani, pantang menyerah, dan tanpa pamrih.

“Seorang pahlawan itu harus berani hidup sulit, bahkan rela mengorbankan nyawanya demi mencapai keadilan,” ujarnya dalam diskusi “Memaknai Kepahlawanan Perempuan dalam Konteks Indonesia Hari ini”, di Ropisbak Ghifari Jakarta, Senin (6/10/2017).

Dia melanjutkan, seorang pahlawan harus punya karakteristik seperti kesadaran akan ketidakadilan, punya keteguhan hati, tidak takut siapapun, dan selalu berangkat dari sebuah prinsip.

Menurutnya, perjuangan perempuan untuk melawan ketidakadilan memang tidak mudah karena kungkungan budaya patriarki. Patriarki membatasi kapasitas perempuan untuk mengembangkan diri.

Sementara anggota DPRD Kota Solo, Kurnia Sari, menggaris-bawahi pentingnya kaum perempuan untuk ambil bagian dalam politik. Sebab, politik merupakan ruang untuk memperjuangkan kepentingan orang banyak.

“Pahlawan adalah seseorang yang rela berkorban untuk sesuatu yang melebihi dirinya sendiri,” ujar politisi partai Gerindra ini.

Kurnia mengakui, keikutsertaan perempuan dalam politik memang tidak gampang, apalagi berhadapan dengan kultur politik yang didominasi laki-laki dan dinasti politik.

dr Mariya Mubarika, aktivis kemanusiaan dan pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI), bicara tentang perlunya perhatian Negara terhadap kesetaraan gender.

“Di Indonesia, dengan pendidikan dan keahlian yang sama, gaji perempuan itu berbeda jauh dengan laki-laki,” ungkapnya.

Menurutnya, banyak kondisi khusus yang menyangkut kodrat perempuan, seperti haid, hamil, dan melahirkan, justru menunjukkan bahwa perempuan bisa berbuat luar biasa.

Dia memperlihatkan sejumlah foto perempuan yang melakukan aktivitas berat, seperti memikul beban, sambil menggendong bayi. Juga foto beberapa perempuan penyandang disabilitas yang berhasil jadi pengusaha.

“Sebetulnya, tidak ada perbedaan fisik yang berarti antara laki-laki dan perempuan,” tegasnya.

Mariya berharap, pemerintah punya perhatian terhadap pengembangan kapasitas perempuan, agar bisa menjadi subjek dalam pembangunan bangsa kedepan sekaligus menyambut era bonus demografi.

Sementara Rini Hartono, pengurus DPP Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini, menyinggung dual hal terkait upaya memaknai kepahlawanan perempuan dalam konteks Indonesia hari ini.

Yang pertama, kata dia, perlu melakukan dekonstruksi terhadap historiografi Indonesia selama ini, terutama warisan Orde Baru, yang terlalu menonjolkan ukuran kepahlawanan pada angkat senjata melawan kolonialisme.

Akibat narasi sejarah seperti itu, lanjut dia, hanya sedikit perempuan yang tercatat sebagai pahlawan nasional. Dari 169 Pahlawan Nasional hingga 2017 ini, hanya ada 12 orang pahlawan nasional yang berjenis kelamin perempuan.

Menurutnya, narasi sejarah semacam itu mengabaikan kontribusi perjuangan dengan cara lain, seperti aksi massa, pemogokan, perjuangan politik, diplomasi, aktivitas propaganda, dan lain-lain.

Yang kedua, kata dia, kaum perempuan perlu mendefenisikan perannya dalam konteks Indonesia hari ini.

“Bagi saya, pahlawan adalah mereka yang menyerahkan hidupnya untuk kemerdekaan, kemajuan, kesejahteraan, dan kemakmuran bangsanya,” jelasnya.

Menurutnya, kontribusi seorang pahlawan tidak mesti dari ukuran kehadiran di medan perang atau angkat senjata melawan, melainkan bisa berupa kontribusi pengabdian yang tulus, sumbangsih pikiran atau gagasan, hasil karya, ataupun prestasi yang mengharumkan bangsa.

“Seorang yang berjuang menjaga lingkungan, seperti yang dilakukan Ibu Aleta Baun di NTT, itu adalah aksi kepahlawanan,” tuturnya.

Hanya saja, Rini menegaskan, agar bisa berkiprah bagi kemajuan bangsa, ada tiga hal yang mesti diberikan atau diperjuangkan oleh perempuan.

Pertama, perempuan harus lebih berpartisipasi dalam kehidupan publik. Karena itu, konstruksi sosial yang masih menempatkan perempuan di ranah domestik, sebagai pengurus rumah tangga, harus dianggap sebagai anggapan anti-kemajuan dan anti-nasionalisme.

Kedua, perempuan harus disokong untuk bisa mengembangkan dirinya. Untuk ini, Negara harus hadir membuka akses pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi seluas-luasnya.

Ketiga, perempuan harus terlibat dalam politik, agar bisa berkontribusi dalam merumuskan dan memutuskan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan kemajuan bangsa dan kemakmuran rakyat.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut