Ada Kepentingan Asing Di Balik Pergub Larangan Merokok

Koordinator Komunitas Kretek Abhisam Demosa menyimpulkan bahwa ada kepentingan asing dibalik penetapan Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 88/2010 tentang larangan Smoking Area di berbagai gedung serta area publik yang mulai dilaksanakan pada 1 November 2010.

Dengan mengutip laporan Bloomberg Initiative, Abhisam menyebutkan bahwa Swisscontact Indonesia telah menerima dana sebesar USD360,952 atau kira-kira Rp3,2 miliar untuk program membebaskan kota Jakarta dari asap rokok.

“Kita perlu mengetahui apa motif lembaga ini (Swisscontact) terkait lahirnya aturan larangan merokok di Jakarta,” kata Abhisan saat diskusi bertajuk “Kupas Tuntas Pergub DKI No.88 tahun 2010 dan Penyelamatan Industri Kretek Nasional” di Aula Ir. Soekarno, Kampus Universitas Bung Karno (UBK).

Abhisam juga menyamakan lahirnya Pergub DKI No.88/2010 dengan nasib 76 produk Undang-Undang yang di belakangnya ada campur tangan pihak asing.

“Kita mencium aroma kepentingan asing yang sangat kental dalam Pergub ini, terutama untuk membunuh industri kretek Indonesia,” kata Abhisam menegaskan.

Penghancuran Industri Nasional

Abhisam juga menggaris-bawahi kenyataan bahwa Industri kretek Indonesia bisa tumbuh tanpa suntikan modal asing, bahkan posisinya tidak tersaingi dalam pasar rokok di dalam negeri.

“Karena mereka tidak sanggup mengalahkan kretek, maka mereka menggunakan standar nikotin sebagai modus untuk menjatuhkan kretek. Itupun tidak berhasil menggeser kretek, maka Philip Morris harus mengakuisisi HM Sampoerna,” ungkap Abhisam kepada peserta diskusi.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Ketua Umum Federasi Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), Lukman Hakim, yang menjelaskan bahwa indonesia merupakan pangsa pasar yang besar bagi produksi rokok di dunia, terutama rokok putih dari negeri-negeri imperialis.

British American Tobacco sebenarnya sudah lama berada di Indonesia. Melalui PT BAT Indonesia Tbk., perusahaan ini memasarkan rokok putih Pall Mall, Kansas, Lucky Strike, dan lainnya. Akan tetapi, mereka hanya mengusai 2% pangsa pasar di Indonesia. Bahkan, Menurut Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia Muhaimin Moeftie, pangsa pasar rokok putih hanya tujuh persen dari total penjualan rokok sebesar 240 miliar batang.

Sebagai pemimpin organisasi yang konsen pada penyelamatan industri nasional, Lukman Hakim mencatat bahwa industri kretek masuk dalam kategori benteng terakhir Industri nasional.

“Industri tembakau di Indonesia, termasuk kretek, tumbuh dengan kekuatan sendiri, dan telah melibatkan banyak sekali rakyat Indonesia,” ujar Lukman.

Pergub Larangan Merokok Tidak “fair”

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bung Karno, Edi Komara, berusaha menjelaskan bahwa asap rokok bukanlah ancaman paling pokok terhadap kesehatan rakyat Jakarta.

Dengan mengutip sebuah data, Edi Komara menyebutkan bahwa penyebab paling signifikan terhadap gangguan kesehatan warga jakarta adalah asap dari kendaraan bermotor, yaitu 70%.

“Kalau Pemda DKI memang serius mau menjaga kesehatan warganya, maka seharusnya yang diatur dulu asap kendaraan bermotor ini,” kata Edi.

Jangan Abaikan Aspek Ketenaga-kerjaan

Kalau terjadi penghancuran terhadap industri rokok di dalam negeri, maka dampaknya tidak hanya memukul mereka yang bekerja secara langsung di industri rokok, yang menurut catatan resmi pemerintah, berjumlah 316 ribu orang atau 0,3% dari total pekerja Indonesia.

Akan tetapi, sebagaimana diterangkan oleh Lukman Hakim, penghancuran industri rokok akan berdampak kepada semua pihak yang terkait, baik langsung maupun tidak langsung terhadap industri rokok, seperti petani tembakau, buruh pabrik linting, pedagang eceran/PK5, dan tenaga kerja yang berhubungan dengan industri rokok.

Bahkan, menurut Lukman, dampak Pergub larangan merokok bisa berdampak lebih luas lagi, seperti sektor perhotelan yang mengalami penurunan konsumen akibat tidak adanya tempat untuk merokok.

Ancaman lebih lanjut juga akan dirasakan sektor restoran, akibat berkurangnya pengunjung perokok yang lebih memilih tempat lain yang menyediakan tempat merokok.

Akhirnya, Lukman memperkirakan bahwa dampak kebijakan Pergub akan membawa rentetan lebih jauh ibarat efek domino.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Ari

    Isu kepentingan asing dalam lahirnya Pergub larangan merokok sudah menjadi isu yang sering dilontarkan beberapa kalangan. Namun Pergub itu tetap saja jalan. Hal ini karena tekanan atau desakan masyarakat hanya melalui seminar-seminar dan tanpa adanya aksi massa. Untuk melawan Pergub tersebut tidak cukup dengan seminar atau publikasi di koran. Harus ada mobilisasi massa baik buruh rokok, petani terbakau yang jumlahnya ribuan. Karena secara tidak langsung elemen masyarakat tersebut yang terdena dampak dari larangan-larangan tersebut…

    Tabik…