Mewaspadai Layunya Sepakbola Kita

Malam ini publik Indonesia akan menyaksikan tim sepakbola nasionalnya bertanding melawan kesebelasan Filipina. Tak dapat disangkal, kemenangan berturut-turut dalam pertandingan sebelumnya telah membumbungkan harapan pendukung sepakbola di seluruh negeri ini. Berduyun-duyun warga Jakarta dapat dipastikan akan membanjiri Stadion Gelora Bung Karno dengan harapan turut merasakan euforia kemenangan bersama-sama.

Olah-raga – dalam hal ini sepakbola yang menjadi olahraga terpopuler di Indonesia – merupakan salah satu alat dalam membangun semangat nasionalisme dan membentuk karakter bangsa. Ia berpotensi mengangkat sifat-sifat yang membangun karakter seperti solidaritas, keberanian, ketekunan, pantang menyerah, kerjasama dan lain sebagainya. Ketika ia menjadi suatu tontonan yang disaksikan oleh seluruh warga bangsa, maka ia menjadi suatu aktivitas nasional yang setara dengan upacara budaya atau peringatan hari besar. Tentunya kita juga sudah biasa menyaksikan ekses negatif dari pertandingan sepakbola mulai dari kecurangan, permainan kasar, hingga fanatisme pendukung yang dapat merusak.

Secara umum, olah-raga hanyalah salah satu di antara bidang lain seperti ekonomi, politik, pendidikan dan budaya yang berfungsi membentuk karakter bangsa. Kemajuan dalam salah satu bidang akan berpotensi mendorong kemajuan di bidang lain. Tak heran bila kemajuan di bidang olah raga didominasi bukan saja oleh negeri-negeri yang maju secara ekonomi, tapi juga negeri-negeri dunia ketiga lainnya yang serius memajukan kualitas manusia bangsanya. Dari sudut pandang manusia, Indonesia sebagai negeri berpenduduk terbanyak ke-empat di dunia sesungguhnya memiliki potensi yang amat besar dalam membangun kedudukan olah-raganya di dunia. Sungguh disayangkan kenyataannya justru jauh dari logika tersebut.

Tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa ini sangat tertinggal dalam bidang olah-raga, dan secara umum dalam pembangunan manusianya. Manusia-manusia Indonesia yang berbakat, baik di bidang ilmu pengetahuan atau olahraga, banyak yang justru berkiprah di luar negeri. Semangat nasionalisme tidak dapat serta merta dijadikan jawaban atas fenomena ini. Yang lebih berpengaruh dan penting dari itu adalah iklim ekonomi politik dan administrasi di Indonesia yang banyak dijangkiti berbagai penyakit budaya seperti korupsi dan sikap tidak profesional. Akibatnya, banyak bakat-bakat di negeri ini yang tersia-sia karena tidak terkelola dengan baik. Ini mungkin bisa menjelaskan mengapa tim-tim junior Indonesia baik di bidang ilmu pengetahuan maupun olah-raga menunjukan prestasi yang gemilang, namun tidak demikian halnya dengan para seniornya.

Oleh karenanya, bila kini timnas Indonesia menunjukan prestasi yang gemilang dan membanggakan, kita tidak selayaknya cepat berpuas diri. Segenap pihak terkait termasuk publik sepatutnya waspada dan mengawasi kelanjutan dari pengelolaan timnas yang sedang naik daun ini. Memang, di antara berbagai wacana dalam media, peningkatan performa timnas Indonesia dapat dijadikan pelipur lara sesaat di tengah kesusahan ekonomi dan kesemrawutan kasus korupsi dalam berbagai jajaran pemerintahan. Penyakit korupsi ini telah merambah ke segala penjuru dan bahkan menjangkiti kepengurusan PSSI sehingga memperparah pertarungan kepentingan di antara pengurusnya.

Apakah dengan demikian tim nasional yang telah dibina dengan cukup baik dan menunjukan prestasi ini akan cepat-lambat terjangkiti pembusukan di tubuh PSSI? Ini tergantung oleh kebijakan yang diambil oleh pihak-pihak terkait. Andil masyarakat dan media terletak dalam pengawasan terhadap PSSI demi memerangi segala pembusukan yang dapat membuat layu sepakbola nasional yang sedang mekar.

Seluruh bangsa Indonesia sedang dihibur oleh penampilan timnasnya. Tentunya tidak ada yang menginginkan ini cepat berakhir anti-klimaks seperti sebelum-sebelumnya. Bahkan, keberhasilannya sejauh ini banyak dipandang dan diharapkan untuk menjadi tumpuan bagi kejayaan kembali sepakbola Indonesia. Untuk itu ada baiknya kita meneladani sikap sang pelatih berkebangsaan Austria, Alfred Riedl, yang telah berhasil meningkatkan prestasi timnas Indonesia, namun selalu waspada terhadap segala ancaman terhadap apa yang telah susah-payah dibangunnya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut